MAKASSAR—Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan perguruan tinggi mulai mendapat perhatian serius. Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makanan Bergizi Gratis Indonesia menyatakan dukungan terhadap penerapan program tersebut di kampus, dengan Universitas Hasanuddin disebut sebagai pelopor pertama di Indonesia.
Dukungan itu ditandai melalui kunjungan APPMBGI ke kampus Unhas pada Minggu (3/5/26). Rombongan dipimpin Ketua Umum APPMBGI bersama Ketua DPD I APPMBGI Sulawesi Selatan, Sri Wulandari.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas, Sukri Palutturi, yang turut menjadi dewan pakar APPMBGI. Dukungan serupa datang dari Rektor Unhas, Jamaluddin Jompa, yang juga terlibat sebagai dewan pakar organisasi tersebut.
Dalam kunjungan itu, tim APPMBGI meninjau langsung fasilitas MBG di lingkungan kampus. Peninjauan mencakup kondisi dapur, standar kebersihan, kualitas bahan pangan, hingga sistem operasional penyediaan makanan.
Ketua Umum APPMBGI, Abdul Rivai Ras, menilai kampus menjadi lokasi yang ideal untuk implementasi program makan bergizi. Menurutnya, lingkungan perguruan tinggi memiliki standar pengawasan dan higienitas yang lebih terukur.
“Dari sisi higienitas, kualitas, serta pengawasan, kampus memiliki standar yang sangat baik. Ini menjadikan MBG di lingkungan kampus tidak hanya memungkinkan, tetapi juga ideal,” ujar Abdul Rivai Ras.
Program MBG di Unhas bahkan dinilai berpotensi menjadi model nasional. Sistem yang diterapkan disebut mendapat perhatian dari Kementerian Pendidikan Tinggi agar dapat direplikasi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Melalui visitasi tersebut, APPMBGI ingin memastikan pelaksanaan MBG berjalan sesuai standar sekaligus menjadi referensi pengembangan program serupa di kampus lain.
Inisiatif ini diharapkan tidak hanya memperkuat kualitas gizi mahasiswa, tetapi juga mendukung lahirnya generasi unggul, khususnya di kawasan Indonesia Timur. (Y5l/Ag4ys)
Citizen Reporter: Yusril
Artikel ini ditulis oleh Citizen Reporter. Isi dan gaya penulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi hanya melakukan penyuntingan seperlunya tanpa mengubah substansi.













