OPINI—Hari Ahad bagi warga kota umumnya digunakan sebagai waktu berlibur keluarga kecil untuk healing keluar kota mencari suasana pedesaan. Tak heran jika sejumlah warga desa di pinggiran Makassar, seperti di Kabupaten Maros, Gowa, dan Takalar, menyulap lahan tidur mereka menjadi objek wisata. Ada yang menawarkan kuliner, ada yang menjual suasana, bahkan ada pula yang menyediakan sarana untuk menyalurkan hobi.
Sejumlah penduduk yang saya temui, baik yang bermukim di pesisir pantai Galesong Utara, Takalar, maupun yang menyewakan rumah di kawasan pegunungan Bawakaraeng, Malino, Gowa, mengaku kegiatan santai semacam ini bisa menjadi sumber penghasilan baru yang cukup memadai bagi keluarga mereka.
Di ujung timur Kota Makassar, yang berbatasan dengan Desa Macinna, Kabupaten Gowa di sebelah kanan, dan Desa Moncongloe, Kabupaten Maros di sebelah kiri, kini mulai dipadati penduduk urban baik dari kabupaten sekitar maupun dari Kota Makassar sendiri. Dampaknya, harga tanah melonjak drastis, apalagi dengan infrastruktur yang sudah memadai. Jalan utamanya telah diaspal dan dibeton.
Kolam Mancing
Seiring menjamurnya perumahan subsidi, seorang warga Telkomas bernama Pak Bakti justru memilih berinvestasi untuk para penghobi mancing ikan air tawar.
Beberapa tahun lalu, ia membeli sebidang tanah di sekitar perempatan Pasar Moncongloe Bulu secara bertahap hingga luasnya mencapai sekitar 7.000 meter persegi.
“Waktu itu harganya hanya Rp200 ribu per meter. Sekarang sudah naik jadi sekitar sejuta per meter. Apalagi kalau persis di tepi jalan raya, bisa lebih tinggi lagi,” ungkapnya.
Lahan tersebut dialiri air irigasi dari Sungai Lekopancing, yang kemudian menginspirasinya membuat beberapa kolam ikan air tawar berisi nila, gurame, dan ikan mas. Di atas kolam, ia mendirikan beberapa pendopo kecil untuk tempat beristirahat.
Sebuah rumah induk berlantai dua bergaya Tongkonan khas Toraja juga berdiri megah. Bedanya, bangunan ini tidak dari kayu, melainkan dari semen dan bata merah dengan ukiran khas. Fungsinya ganda, selain sebagai tempat liburan keluarga, juga sebagai kantor pengelolaan.
“Saya berasal dari Kecamatan Sangalla, Kabupaten Tana Toraja,” tutur Pak Bakti saat saya memperkenalkan diri.
Menurutnya, kontur tanah di lokasi ini mirip dengan kampung halamannya—ada gunung, sawah, air, dan pepohonan. Karena itu, ia ingin menciptakan suasana kampung dengan membangun rumah kayu besar bagi pengunjung.
“Kalau ada yang mau reuni sambil bermalam, bisa juga disewa, Pak,” tambahnya.
Fasilitas mancing yang tersedia memang sederhana, agar pengunjung lebih fokus menyalurkan hobinya. Peralatan pancing dan umpan disediakan, tetapi untuk makanan, pengunjung disarankan membawa bekal sendiri.
Untuk jasa tambahan, membersihkan ikan dikenai biaya Rp5.000 per ekor, dan membakar hasil pancingan cukup Rp5.000 per kilogram. Semua dikerjakan oleh warga sekitar.
Akhir pekan lalu, saya bersama rekan-rekan FKPM Sektor Manggala, FKPM Kota Makassar, beserta keluarga, merasa puas dan santai meski pengunjung cukup membludak. Untung saja, kami lebih dulu “menguasai” salah satu rumah kayu secara gratis untuk rombongan.
Villa Bakti
Yang paling berkesan, kami harus menunggu hasil pancingan terkumpul sekitar 10 kilogram baru bisa menikmati. Meski agak lapar menanti, suasananya tetap asyik, karena masing-masing berlomba menunjukkan jurus memancingnya.
“Kalau mau datang ramai-ramai, sebaiknya pesan dulu supaya bisa disiapkan,” ujar petugas penimbang ikan.
“Kalau untuk rombongan, lebih baik jangan datang saat hari libur. Supaya bisa dijala langsung dari kolam yang tidak dipakai memancing,” timpal Pak Bakti. “Tidak etis kalau menjala ikan di kolam tempat orang sedang memancing.”
Oh iya, soal harga ikan per kilogram dan biaya sewa villa, semuanya sudah tertera jelas di papan besar di tepi jalan depan lokasi, lengkap dengan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Yang pasti, tempat ini murah meriah, tanpa biaya masuk dan parkir. Lokasinya pun dekat dari perbatasan kota, hanya sekitar 10 kilometer dari Kecamatan Manggala, Makassar.
Itulah sekelumit catatan yang rasanya sayang kalau dibuang. Siapa tahu bermanfaat bagi yang gemar mancing atau sekadar ingin mencari suasana pedesaan dekat kota. (Apw)


















