Memuat Ramadhan…
Memuat cuaca…
Opini

Ramadhan, Momentum Ketaatan Totalitas pada Allah SWT

2388
×

Ramadhan, Momentum Ketaatan Totalitas pada Allah SWT

Sebarkan artikel ini
Ramadhan, Momentum Ketaatan Totalitas pada Allah SWT
Tatik Maslihatin, ST, M.Kom

OPINI—Ramadhan, bulan mulia yang senantiasa dirindukan dan dinanti oleh kaum muslimin di penjuru dunia. Ramadhan bulan penuh keutamaan yang di dalamnya Allah SWT melipatgandakan pahala, menurunkan rahmat dan ampunan-Nya yang berlimpah-ruah bagi para hamba-Nya yang berpuasa dengan penuh keimanan dan hanya mengharap ridha-Nya.

Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan hanya mengharap pahala-Nya, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Muttafaq ‘alayh)

Allah SWT meletakkan banyak keutamaan pada bulan Ramadhan melebihi bulan-bulan yang lain. Pertama, Ramadhan adalah bulan penghapusan dosa-dosa. Nabi saw. Bersabda: Shalat lima waktu, Jumat yang satu ke Jumat berikutnya dan Ramadhan yang satu ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar (HR Muslim).

Selain itu, Allah swt memberikan 2 kebahagiaan bagi seseorang yang berpuasa yaitu bahagia saat berbuka puasa dan saat berjumpa dengan-Nya kelak di dalam surga-Nya.

Yang Kedua, Ramadhan adalah bulan turunnya al-Quran. Allah SWT berfirman: Sungguh Kami telah menurunkan al-Quran pada suatu malam yang diberkahi dan sungguh Kamilah Pemberi peringatan (TQS ad-Dukhan [44]: 3).

Selain itu, pada bulan Ramadhan terdapat satu malam yang sangat diberkahi yaitu lailatul Qadar. Pada malam yang disebut Lailatul Qadar ini Allah SWT memerintahkan para malaikat yang dipimpin Jibril as. untuk membawa keselamatan dan kebaikan sepanjang malam tanpa ada keburukan hingga terbit fajar.

Demikian penjelasan Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya. Pada malam itu turun para malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (TQS al-Qadar [97]: 4-5).

Hakikat Ramadhan

Puasa Ramadhan bertujuan untuk dapat mewujudkan ketakwaan pada diri setiap Muslim. Allah SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (TQS al-Baqarah [2]: 183).

Jika ‘buah’ dari puasa adalah takwa, tentu idealnya kaum Muslim menjadi orang-orang yang taat kepada Allah SWT tidak hanya pada bulan Ramadhan saja. Juga tidak hanya dalam tataran ritual dan individual semata. Ketakwaan kaum Muslim sejatinya harus tetap terlihat di luar bulan Ramadhan sepanjang tahun. Juga dalam seluruh tataran kehidupan mereka.

Adapun definisi taqwa menurut Imam Ibn Jarir ath-Thabari, mengutip pernyataan Ibn Abbas ra., “Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang takut menyekutukan Allah SWT dan mengamalkan apa saja yang telah Allah SWT wajibkan atas mereka (Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, I/232-233).

Tanda-tanda Takwa

Takwa tentu memiliki sejumlah tanda. Imam al-Hasan berkata, “Orang yang bertakwa memiliki sejumlah tanda yang dapat diketahui, yakni: jujur/benar dalam berbicara; senantiasa menunaikan amanah; selalu memenuhi janji; rendah hati dan tidak sombong; senantiasa memelihara silaturahmi, selalu menyayangi orang-orang lemah/miskin, memelihara diri dari kaum wanita, berakhlak baik, memiliki ilmu yang luas; senantiasa ber-taqarrub kepada Allah.” (Ibn Abi ad-Dunya’, Al-Hilm, I/32).

Dengan demikian, jika memang takwa adalah buah dari shaum Ramadhan yang dilakukan oleh setiap Mukmin, maka idealnya usai Ramadhan, setiap Mukmin senantiasa takut terhadap murka Allah SWT dengan cara selalu berupaya menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, selalu berupaya menjauhi kesyirikan, senantiasa menjalankan ketaatan, memiliki rasa takut untuk melakukan perkara-perkara yang haram dan senantiasa berupaya menjalankan semua kewajiban yang telah Allah SWT bebankan kepada dirinya.

Namun, jujur harus kita akui bahwa saat ini masih banyak di antara kaum muslimin yang takwanya setengah hati. Yaitu dengan memisahkan kehidupan sehari-hari dari agamanya.

Melaksanakan agama dan ibadah di tempat tertentu, sedanngkan dalam kehidupan sehari-hari tidak menggunakan agama sebagai standar hidup.

Saat di masjid, di majelis taklim atau di majelis zikir mereka bertakwa. Saat Ramadhan dan ibadah haji mereka bertakwa. Di luar itu mereka jauh dari ketakwaan kepada Allah SWT. Saat ini, misalnya, banyak Muslim yang tak memiliki lagi rasa takut saat bermaksiat.

Tak ada lagi rasa khawatir saat melakukan dosa. Tak ada lagi rasa malu saat berbuat salah. Tak ada lagi rasa sungkan saat berbuat keharaman. Tak lagi merasa risih saat korupsi. Tak lagi ragu saat menipu. Tak lagi merasa berat saat mengumbar aurat. Tak lagi merasa berdosa saat berzina. Maksiat seolah sudah biasa. Na’ûdzu bilLâh min dzâlik!

Terkait takwa, Abu Bakar ash-Shiddiq ra. pernah berkata: Ketahuilah, orang cerdas yang paling cerdas adalah takwa, dan orang bodoh yang paling bodoh adalah suka bermaksiat (Lihat: Al-Baqillani, I’jâz al-Qur’ân, 1/137; as-Suyuthi, Târîkh al-Khulafâ’, 1/28).

Ketakwaan Kolektif

Takwa sejatinya tak hanya berlaku secara pribadi pada diri setiap Muslim. Takwa pun harus terwujud secara kolektif di dalam kehidupan bermasyarakat dan kehidupan bernegara. Allah SWT berfirman: “Andai penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, Kami pasti melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (TQS al-A’raf [7]: 96).

Ayat ini berbicara tentang penduduk negeri, yang jika penduduk negeri tersebut bertakwa (takut pada Allah swt dan menjalankan syariahNya, maka Allah swt akan memberi keberkahan yang berlimpah dari langit maupun bumi.

Dengan demikian, agar negeri ini berlimpah keberkahan dari Allah swt dan jauh dari azab Allah swt, maka setiap muslim tak cukup hanya mengandalkan ketakwaan secara personal (pribadi).

Namun perlu terwujud ketakwaan secara kolektif ditengah-tengah masyarakat. Dengan kata lain ketakwaan harus mewujud dalam masyarakat dan kehidupan bernegara. Wujudnya tidak lain dengan menerapkan dan menegakkan syariah Islam secara kâffah dalam seluruh aspek kehidupan mereka.

Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk tetap menjaga semangat dan stabilitas taqwa agar tetap ada sepanjang tahun dan sepanjang hidup manusia. Dengan demikian taqwa tidak hanya pada saat ramadhan saja, namun sepanjang hidup baik secara taqwa pribadi, ketaqwaan masyarakat dan Negara.

Penulis

Tatik Maslihatin, S.T, M.Kom

(Dosen/Akademisi)

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!