OPINI—Ketika berbicara konotasi status seorang ibu, satu kata atau sekalimat pun tidak cukup menandinginya. Sosok ibu memiliki banyak makna. Di balik lelaki yang sukses, ada perempuan yang mulia di belakangnya.
Jika ada seorang anak yang tumbuh menjadi sosok yang sukses dan beriman, lihatlah ibu mereka. Ini karena ibu berperan besar dalam membentuk karakter dan wawasan seseorang. Itulah sejatinya makna dari status seorang ibu.
Namun, di kehidupan kapitalisme saat ini, kasus kriminal yang malah menjadikan seorang ibu sebagai pelaku, bukanlah hal baru di telinga kita.
Tidak hanya itu, beberapa sosok ibu kini bukan lagi sebagai sosok yang selalu hadir mendampingi tumbuh-kembang anak-anak di rumah, sulitnya perekonomian mengharuskan para ibu untuk beranjak ke luar rumah demi untuk penghidupan yang lebih layak.
Pemberdayaan ala Kapitalisme
Pemberdayaan ekonomi perempuan terus digenjot. Para ibu digiring untuk memiliki penghasilan sendiri agar tidak bergantung pada suaminya.
Program yang sedang diaruskan yaitu tentang kewirausahaan perempuan melalui UMKM, juga ekonomi digital. Berbagai pelatihan dalam rangka meningkatkan kemampuan wirausaha perempuan akan makin masif dilakukan terutama di bidang digital.
Suntikan dana pada UMKM perempuan pun deras digelontorkan. Ini karena perempuan mengisi 49,5% dari populasi Indonesia, tetapi kapasitasnya di bidang digital masih rendah. Padahal, di antara UMK baru, UMK yang dimiliki perempuan paling diuntungkan.
E–commerce mendorong perempuan yang dianggap kurang produktif dengan hanya mengasuh anak dan mengurus rumah agar masih bisa terlibat dalam kegiatan ekonomi.
Inilah pemberdayaan para ibu yang dianggap akan mampu meningkatkan perekonomian keluarga, juga negara. Para ibu dipaksa keluar rumah untuk bekerja. Jika tidak bisa bekerja karena kerepotan menjalani peran gandanya.
Mereka digiring untuk berkontribusi aktif pada bisnis online yang nyatanya sama-sama mengalihkan tugas utamanya. Inilah pemberdayaan ibu dalam sudut pandang kapitalisme.
Seseorang disebut berdaya ketika ia mampu menghasilkan materi sehingga seorang ibu yang bangun paling pagi dan tidur paling akhir, dianggap tidak produktif lantaran tidak menghasilkan materi.
Perempuan berdaya pada gilirannya akan mampu menaikan derajat mereka. Inilah yang oleh para feminisme dijadikan tahapan menuju terciptanya keadilan gender.
Sebab menurut mereka akar persoalan permasalahan perempuan bermuara dari ketidakadilan gender. Namun demikian, pembacaan mereka bukan hanya keliru tapi juga menambah persoalan baru.

















