OPINI—Miris! Satu kata yang cukup menggambarkan kondisi Kota Makassar saat ini. Data terbaru dari Dinas Kesehatan menunjukkan Makassar menjadi kota dengan tingkat kasus HIV-AIDS tertinggi di Sulawesi Selatan.
Menurut laporan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan (Dinkes Sulsel), terdapat 1.636 kasus HIV-AIDS selama periode Januari hingga September 2024. Dari jumlah tersebut, 702 kasus berasal dari Kota Makassar, disusul Gowa (112 kasus) dan Palopo (89 kasus).
Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, M. Ishaq Iskandar, mengungkapkan tren kenaikan kasus ini terus terjadi setiap tahun. Pada 2021, terdapat 1.490 kasus HIV, meningkat menjadi 2.069 pada 2022, dan mencapai 2.098 kasus pada 2023. Ironisnya, sebagian besar kasus ini disebabkan oleh perilaku lelaki seks lelaki (LSL) dengan jumlah mencapai 741 kasus【Detiksulsel】.
Gaya Hidup Liberal Ala Sekulerisme, Akar Masalah Utama
Kondisi ini mencerminkan dampak buruk sistem kehidupan sekuler yang menjadi dasar tata nilai masyarakat saat ini. Sistem ini menempatkan kebebasan individu di atas segalanya, termasuk kebebasan bertindak tanpa memperhatikan nilai agama dan moral. Agama hanya dianggap relevan dalam urusan spiritual, tetapi diabaikan dalam kehidupan sosial.
Gaya hidup liberal yang didorong oleh prinsip sekulerisme memungkinkan manusia menjalani hidup dengan kebebasan yang sering kali melampaui batas. Hal ini menjadi lahan subur bagi perilaku yang justru merugikan diri sendiri, seperti seks bebas dan perilaku menyimpang lainnya.
Selain itu, negara dengan sistem sekuler turut memperkuat prinsip ini melalui kebijakan hukum yang menjamin kebebasan individu. Kebebasan berekspresi, memilih gaya hidup, dan menentukan jalan hidup sendiri tampak menarik, tetapi dalam praktiknya justru menimbulkan berbagai problematika. Tingginya angka kasus HIV-AIDS hanyalah salah satu dari sekian banyak masalah yang diakibatkan oleh sistem buatan manusia ini.
Islam Sebagai Solusi Menyeluruh
Berbeda dengan sistem sekulerisme, Islam menawarkan solusi menyeluruh yang berbasis pada aturan Sang Pencipta. Islam tidak hanya memberikan pedoman spiritual, tetapi juga mengatur aspek sosial, politik, dan hukum untuk menjaga manusia dari kerusakan.
1. Pembentukan Karakter Takwa
Negara dalam sistem Islam berperan aktif membentuk individu yang bertakwa melalui pendidikan berbasis akidah Islam. Pendidikan ini bertujuan menguatkan keimanan masyarakat agar menjauhi maksiat. Dengan iman yang kuat, manusia menyadari bahwa setiap perbuatannya berada dalam pengawasan Allah, sehingga mencegah mereka dari perilaku menyimpang.
2. Pengaturan Sistem Pergaulan
Islam mengatur hubungan antarindividu dengan tegas. Setiap muslim diwajibkan menjaga aurat, termasuk di antara sesama jenis. Pandangan harus dijaga, dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari diatur untuk menghindari potensi kemaksiatan.
3. Penerapan Hukuman yang Efektif
Untuk memberikan efek jera, Islam menerapkan hukuman tegas bagi pelaku zina. Hukuman ini termasuk rajam bagi yang sudah menikah dan cambuk 100 kali serta pengasingan bagi yang belum menikah. Meski terlihat keras, hukuman ini lebih bersifat preventif karena masyarakat yang hidup dalam sistem Islam cenderung terhindar dari perilaku menyimpang.
4. Penggunaan Teknologi untuk Pencegahan
Islam juga mendukung penggunaan teknologi modern untuk mendukung pencegahan penyakit seperti HIV-AIDS. Langkah ini dilakukan tanpa mengesampingkan nilai-nilai syariat.
Dengan kombinasi iman yang kokoh, pengaturan sosial yang ketat, dan strategi teknis yang relevan, Islam mampu menciptakan lingkungan yang harmonis dan bebas dari kerusakan moral.
Kasus HIV-AIDS di Makassar menjadi alarm bagi kita semua bahwa sistem kehidupan sekuler hanya membawa kehancuran. Islam hadir sebagai solusi alternatif yang tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga menjaga manusia tetap dalam ketaatan, menghadirkan kebaikan dunia dan akhirat. (*)
Wallahua’lam bishawab.
Penulis: Magfirah Abdullah (Mahasiswi Pascasarjana UMI)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.








