Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Toleransi Bukan Berarti Berpartisipasi

414
×

Toleransi Bukan Berarti Berpartisipasi

Sebarkan artikel ini
Hasrinawati Haruna, S.ST., MM.
Hasrinawati Haruna, S.ST., MM. (Penulis)

OPINI—Desember sering dianggap sebagai bulan penuh keceriaan dan kenangan. Bulan ini menjadi momen menjelang pergantian tahun sekaligus perayaan hari besar yang diakui di banyak negara. Pemandangan khas Desember pun tampak di berbagai tempat, terutama di kota-kota besar, pusat perbelanjaan, dan tempat hiburan, dengan dekorasi seperti pohon Natal, warna merah khas Santa Claus, hingga lagu-lagu tematik yang terdengar sepanjang waktu.

Di negara-negara Barat seperti Eropa, hal ini sangat wajar karena mayoritas penduduknya beragama Nasrani. Mereka merayakan Natal dengan suka cita, sekaligus menikmati kemeriahan liburan akhir tahun. Bahkan, banyak orang Indonesia yang turut mengambil bagian dalam perayaan tahun baru dengan berlibur ke luar negeri.

Berdasarkan data SiteMinder’s Changing Traveller 2025, sebanyak 79 persen wisatawan Indonesia memilih bepergian ke luar negeri pada tahun depan, angka yang lebih tinggi 7 persen dibandingkan rata-rata global (CNN Indonesia).

Sebagai negara yang majemuk dan terbuka terhadap pengaruh global, Indonesia pun merasakan atmosfer Desember dengan caranya sendiri.

Namun, sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, sering kali muncul kontroversi terkait bagaimana masyarakat merespons perayaan yang bukan bagian dari tradisi mereka.

Menteri Agama pernah mengingatkan bahwa toleransi sejati bukan sekadar hiasan bibir, melainkan kesediaan menerima perbedaan dengan tulus. Namun, beliau juga menegaskan bahwa kegundahan yang dirasakan sebagian orang terhadap perbedaan tersebut bukan berarti intoleransi (Tribun News, 19/12/2024).

Menteri Agama sebelumnya, Yaqut Cholil Qoumas, juga pernah menyebut Desember sebagai bulan toleransi. Beliau mengatakan bahwa perayaan Natal dan Tahun Baru menjadi ujian kebhinekaan bangsa kita (Detik.com, 27/12/2022).

Seruan-seruan untuk bertoleransi memang sering digaungkan, terutama di penghujung tahun. Namun, bagi sebagian orang, narasi ini terasa berulang dan bahkan terkesan memaksa, seolah-olah ditujukan khusus kepada umat Islam, yang mayoritas di Indonesia.

Toleransi, jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berarti sikap menghargai, mendiamkan, atau membiarkan. Dalam konteks ini, perlu kehati-hatian dalam membangun narasi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau menyasar kelompok tertentu.

Faktanya, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Indonesia sudah terbiasa hidup berdampingan secara harmonis, baik di tempat kerja, kampus, pasar, maupun dalam keluarga yang heterogen.

Bagi umat Islam, identitas keagamaan yang kuat tidak berarti intoleransi. Prinsip seperti “bagimu agamamu, dan bagiku agamaku” serta “tidak ada paksaan dalam agama” menjadi landasan hidup seorang Muslim.

Karenanya, tidak terlibat dalam perayaan agama lain, termasuk tidak mengucapkan selamat, bukanlah bentuk intoleransi, melainkan wujud konsistensi terhadap keyakinan yang dianut. Sebaliknya, umat Islam juga tidak pernah menghalangi penganut agama lain untuk merayakan hari besar mereka dengan leluasa.

Islam telah hadir di Nusantara jauh sebelum Indonesia berdiri dan diterima dengan damai. Bahkan, perjuangan melawan penjajah banyak dipimpin oleh para ulama dan sultan dengan semangat jihad. Islam telah berkontribusi besar dalam membentuk sejarah bangsa ini.

Oleh karena itu, narasi yang memecah belah harus ditolak. Muslim yang memegang teguh prinsipnya tidak bisa begitu saja dicap intoleran. Label-label seperti “moderat” atau “radikal” yang kerap diperhadapkan justru membuka jalan bagi perpecahan di tubuh umat.

Jika keberagaman agama dapat diterima dengan lapang dada, maka perbedaan pendapat di antara sesama Muslim seharusnya juga bisa diselesaikan dengan musyawarah dan argumentasi yang sehat.

Islam adalah rahmatan lil alamin, membawa kedamaian dan kebaikan di mana pun ia berada. Ketika Umar bin Khattab membebaskan Palestina, umat Islam, Nasrani, dan Yahudi hidup berdampingan dengan damai.

Sebaliknya, saat ini, di bawah kekuasaan Israel, genosida terus terjadi. Islam, sebagai agama yang diturunkan oleh Tuhan semesta alam, justru hadir untuk menjaga keharmonisan dan melindungi semua makhluk.

Toleransi yang sejati cukup diwujudkan dengan saling menghormati tanpa memaksa untuk mencampuradukkan keyakinan. Indonesia indah karena keberagamannya, dan persatuan akan tetap terjaga jika setiap individu bisa menjalankan keyakinannya dengan saling menghormati. (*)

 

Penulis: Hasrinawati Haruna, S.ST., MM.

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!