OPINI—Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Ini mungkin pepatah nasihat yang sering kita dengar. Benar kiranya, masa depan harus dirancang mulai dari mimpi. Mimpi itu gratis, jangan sampai bermimpi pun sudah tidak sanggup. Pepatah ini mengajarkan kita untuk bermimpi hal yang besar, agar kita mau berusaha sekuat tenaga untuk meraihnya.
Salah satu tangga paling penting untuk cita-cita tinggi adalah bangku kuliah. Di masa ini, kita pasti ditempa untuk banyak belajar. Selain otak kita diasah, skill diupdate, mental juga akan ditempa.
Berbagai tugas dari dosen bukan sekedar untuk mendapatkan nilai tapi juga proses menyelesaikannya akan menempa kemampuan kita yang lainnya. Mahasiswa identik dengan aktivis.
Dimasa ini, kita akan memperluas jejaring, mengasah kemampuan sosial, kemampuan organisasi serta manajerial kita. Makanya anak kuliahan itu disebut mahasiswa, karena mereka siswa/pelajar segala hal ditingkat yang tinggi.
Lulusannya tentu diharapkan adalah produk unggulan. Tak salah jika sebagian besar orang bermimpi untuk kuliah, orang tuapun sangat bangga anaknya sarjana. Hanya saja, mimpi pun kini seakan barang ekslusif.
Di UNRI dilansir kompas.com 2024/05/20, sekitar 50 orang calon mahasiswa baru (camaba) yang lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) memutuskan mundur dari Universitas Riau karena merasa tidak sanggup untuk membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Beberapa waktu lalu viral mahasiswa demonstrasi tuntut cabut kenaikan UKT. Belum lagi seorang pejabat Kemendikbud mengatakan pendidikan tinggi hanya kebutuhan tersier.
“Pendidikan tinggi adalah tertiary education, jadi bukan wajib belajar. Artinya, tidak seluruhnya lulusan SLTA/SMK itu wajib masuk perguruan tinggi. Itu sifatnya adalah pilihan,” kata Tjitjik (detik.com, 2024/05/25)
Seakan ini menegaskan pendidikan tinggi memang hanya untuk kalangan tertentu. UKT mahal tidak main-main. Dikutip dari tirto.com, 2024/05/22, ITB Rp500 ribu hingga Rp14,5 juta, IPB Rp500 ribu hingga Rp15 juta, UNHAS Rp500 ribu hingga Rp20 juta, UNIBRAW Rp500 ribu hingga Rp33,5 juta.
Kampus lainnya hampir serupa. Meski demikian mentri Nadiem mengatakan akan meninjau ulang, bahkan kabar terakhir kenaikan 2024 dibatalkan. Lalu tahun selanjutnya bagaimana?
UKT mahal bukan masalah besar bagi kalangan atas yang sudah financial freedom. Atau sebagian kalangan yang memenuhi syarat KIP. Namun tentu ini terbatas jumlahnya, lalu yang kalangan menengah bagaimana? Tabungan masih pas-pasan, beasiswa juga tidak dapat.
Pendidikan adalah hak asasi manusia sesuai UUD 1945. Jika merujuk pada amanat ini maka tentu istilah komersialisasi pendidikan tidak akan ada. Pengelolaan pendidikan tinggi tentu bukan dengan biaya kecil. Gaji dosen, pembangungan kampus, fasilitas, riset dan lainnya tentu butuh biaya besar.
Maka jika ini dihitung layaknya menghitung HPP produksi barang jualan tentulah pembeli harus membayar mahal. Jika mahasiswa ini diperlakukan sebagai pembeli maka sudah pasti pendidikan akan ekslusif bagi yang berpunya saja.
Maka mindset negara dan para pemangku jabatan mestilah melihat pendidikan sebagai pelayanan. Melayani masa depan negara. Karena para pemuda yang sedang mengenyam kuliah ini sudah pasti adalah the next generation bahkan the next leader.
Jika ini dianggap pelayanan, maka pembiayaan memang tidak bisa dari institusi itu sendiri, harus ada sumber dana dari luar. Dari mana? Bisa dari banyak sumber, tentu sumber paling memungkinkan adalah pengelolaan sumber daya alam.
Jadi disinilah kita harus melihat bahwa bernegara itu adalah satu kesatuan yang bersinambungan dari semua sisi. Semisal pengelolaan SDA untuk pendidikan. Jadi satu sisi corenya untuk menghasilkn uang, sisi lain corenya untuk pelayanan.
Sebagai muslim kita bisa belajar dari ayat iqra. Jika Islam mewajibkan iqra/belajar, maka aksesnya harus terbuka untuk semua. Inilah yang dicontohkan Rasulullah SAW, beliau menetapkan “Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api”. (HR Abu Dawud dan Ahmad).
Berserikat berarti kepemilikan ini bersifat umum untuk seluruh ummat. Sehingga tidak bisa dikuasai oleh segelintir orang pemilik modal. Negara akan mengelola sumber daya alam kepemilikan umum ini sebagai amanat Tuhan.
Seluruh sumber daya ini pemberian Tuhan, kita hanya pengelola saja. Maka hasilnya inilah yang akan digunakan untuk pelayanan masyarakat, salah satunya tentu pendidikan. Berharap generasi emas tentu dengan perjuangan generasi saat ini.
Jika para pemangku jabatan hari ini memiliki mindset komersialisasi pendidikan tentu pendidikan selamanya akan dijual mahal. Jangan kandaskan mimpi anak negeri karena UKT mahal.Semoga tanah air tercinta diberkahi Tuhan. Wallahualam. (*)
Penulis: Hasrinawati H, S.ST, MM
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.











