JAKARTA—Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), dan puluhan lembaga filantropi lainnya bersatu dalam upaya besar penggalangan dana untuk membantu rakyat Palestina.
Target yang diusung tidak main-main, mencapai 200 juta dolar AS atau sekitar Rp3,2 triliun. Dana ini akan digunakan untuk memberikan dukungan komprehensif, mulai dari bantuan kemanusiaan darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi, hingga pemberdayaan masyarakat Palestina, khususnya di Gaza.
Wakil Menteri Luar Negeri, Anis Matta, menekankan bahwa inisiatif ini bukan sekadar memberikan bantuan sesaat, tetapi juga membangun harapan baru bagi bangsa Palestina untuk bangkit secara mandiri dan bermartabat.
“Kita memulainya selama bulan Ramadan, untuk dua target programnya di sana nanti. Ada program yang emergency sekarang ini, selama masa gencatan senjata, dan juga nanti ada program rekonstruksi Gaza. Kita ingin ikut membantu dalam proses rekonstruksi Gaza juga. Kira-kira untuk dua program ini, Insya Allah,” ujar Anis dalam peluncuran kampanye penggalangan dana di Kantor Kemlu, Jakarta Pusat, Rabu (26/2).
Kampanye ini merupakan hasil dari dialog intensif selama tiga bulan terakhir antara Kemlu dan berbagai lembaga zakat serta kemanusiaan. “Pertama, adalah program ini bersifat strategis. Kedua, impactful, manfaatnya besar bagi saudara-saudara kita di sana dan yang ketiga adalah punya sifat simbolik mewakili kehadiran kita sebagai negara Muslim terbesar di dunia Islam,” jelas Anis mengenai tiga sasaran utama dari gerakan solidaritas ini.
Penyaluran dana akan dilakukan melalui kerja sama dengan lembaga-lembaga kemanusiaan di Palestina, baik di bawah PBB maupun lembaga domestik. Semua jalur yang memungkinkan, termasuk melalui Mesir atau Yordania, akan dimanfaatkan. Pimpinan Baznas, Zainul Bahar, optimistis target dana tersebut akan tercapai, mengingat Baznas sendiri telah berhasil mengumpulkan lebih dari Rp320 miliar.
Ketua MUI Bidang Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, menilai gerakan ini sebagai peluang berharga untuk memperkuat “ukhuwah”. “7 Oktober ini memberikan momentum kepada kita untuk semakin memperkuat gerakan ini. Ini bukan waktunya waktunya lagi untuk sendiri-sendiri, waktunya sekarang kita bersama-sama,” ujarnya, merujuk pada serangan Hamas ke Israel yang memicu konflik berkepanjangan.
Di tengah upaya rekonstruksi Gaza, gagasan kontroversial pernah dilontarkan oleh mantan Presiden AS, Donald Trump, yang ingin mengambil alih jalur Gaza dan mengubahnya menjadi “Riviera Timur Tengah”.
Gagasan ini ditolak mentah-mentah karena dianggap akan merelokasi lebih dari 2 juta penduduk Palestina ke Mesir dan Yordania. Utusan AS untuk Timur Tengah, Steven Witkoff, kemudian mengklarifikasi bahwa gagasan tersebut bukan tentang pengusiran, melainkan mencari solusi terbaik bagi rakyat Palestina yang hidup dalam kondisi hancur akibat konflik. (voa)













