Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Penghinaan Nabi Muhammad SAW Kembali Berulang, Buah Kebebasan ala Demokrasi

394
×

Penghinaan Nabi Muhammad SAW Kembali Berulang, Buah Kebebasan ala Demokrasi

Sebarkan artikel ini
Asriani, ST (Aktivis Muslimah)
Asriani, ST (Aktivis Muslimah)

OPINI—Baru-baru ini majalah satire asal Turki, LeMan kembali menimbulkan kontroversi besar. Mereka menerbitkan karikatur Nabi Muhammad saw. Tindakan ini pun membangkitkan kemarahan publik muslim khususnya di Turki. Sejumlah massa berkumpul di depan kantor majalah LeMan di Istambul sebagai bentuk protes.

Empat orang pun telah ditahan oleh kepolisian setempat pada Senin (30-6-2025) terkait dengan penerbitan tersebut. Penahanan tersebut merupakan bagian dari penyelidikan yang sedang berlangsung yang diluncurkan jaksa istambul atas kejahatan “menghina nilai-nilai agama di depan umum”.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Meski pihak media berupaya menyangkal bahwa kartun tersebut tidak ditujukan untuk menghina dan otoritas telah memerintahkan penangkapan terhadap pihak terkait, kemarahan umat tidak serta merta mereda. (Tempo.co. 2-7-2025)

Kasus penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad saw sejatinya bukanlah kasus pertama kalinya. Ini adalah kasus berulang. Misalnya di Prancis, ada majalah Charlie Hebdo, kemudian ada juga surat kabar terbesar di Denmark Jyllands-Posten juga kartunis asal Swedia Lars Vilks yang mereka semua menerbitkan karikatur Nabi Muhammad saw. Pertanyaannya mengapa penghinaan ini terus terulang, apa yang menjadi dasar bagi mereka berani melakukan hal itu?

Berulangnya penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad saw sejatinya merupakan buah penerapan sistem sekuler demokrasi. Sistem ini melahirkan paham kebebasan tanpa batas, ditambah penegakan hukum yang tidak memberikan keadilan. Alhasil banyak orang tidak jera untuk menghina dan melecehkan Rasulullah Muhammad Saw.

Tidak bisa dipungkiri bahwa di negeri yang menganut sistem sekuler demokrasi, atas nama kebebasan berekspresi seseorang bebas berbuat apa saja sesuai keinginannya. Selama kebebasan itu tidak mengganggu orang lain maka hal itu boleh-boleh saja dilakukan. Hal inilah yang kemudian melahirkan orang-orang berani melakukan penghinaan dan pelecehan terhadap Rasulullah Muhammad saw.

Selama sistem ini masih dipertahankan maka umat akan selalu jadi korban dan penghinaan dan pelecehan terhadap Nabi Muhammad saw dan Islam akan terbuka lebar. Oleh karena itu solusi mendasar bukan hanya dengan mengecam atau berdemo tetapi membangun kembali kehidupan Islam yang kaffah (menyeluruh).

Sebuah sistem yang akan menjadi junnah (perisai) untuk menjaga dan melindungi kemuliaan Islam dan Rasulullah Muhammad saw, dan tidak akan ada kesempatan sedikit pun bagi mereka musuh-musuh Islam untuk menghina dan melecehkannya.

Hal itu hanya bisa terwujud dengan tegaknya institusi yakni Khilafah Islamiah. Sebuah institusi yang akan menjadi pelindung umat termasuk dari penghinaan terhadap agama dan Nabi-Nya. Institusi inilah pula yang pernah menjadi tameng Rasulullah Saw dan para sahabat dan generasi setelahnya.

Rasulullah saw bersabda “sesungguhnya al imam (Khalifah) itu perisai, dimana (prang-orang) akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud,).

Hadist ini menjelaskan bahwa Khalifah (kepala negara) akan melindungi rakyatnya dari penghinaan dan pelecehan terhadap Rasulullah saw juga memberlakukan sanksi bagi orang-orang yang menghina dan melecehkan Rasulullah saw dan ajaran Islam.

Para ulama bersepakat bahwa sanksi bagi pelaku penghina Rasulullah saw adalah hukuman mati. Baik itu pelakunya individu, komunitas/kelompok ataupun negara. Jika penghinaan dilakukan oleh negara, Khilafah tidak akan ragu memberikan respon tegas terhadap negara tersebut, bahkan jika perlu dengan jihad.

Sejarah mencatat, dimana pada masa Rasulullah Saw, ada seorang laki-laki buta yang istrinya itu tidak henti-hentinya menghina dan menjelek-jelekkan Rasullullah Saw. Laki-laki itu berusaha melarang dan mengingatkan agar tidak melakukan perbuatan itu, namun istrinya tetap menghina dan menjelek-jelekkan Rasulullah Saw.

Merasa tidak sanggup lagi akhirnya laki-laki itu mengambil kapak kemudian ia tebas perut istrinya hingga mati. Berita ini pun sampai kepada Rasulullah melalui Allah Subhana wa Ta’ala. Tindakan yang dilakukan oleh laki-laki itu dibenarkan oleh Rasulullah saw.

Juga pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Hamid II, Prancis di kala itu telah merancang sebuah drama teater karya Voltaire (seorang pemikir eropa) yang bertajuk “Muhammad atau Kefanatikan”.

Setelah berita ini sampai kepada Khalifah Abdul Hamid II, sang Khalifah kemudian memerintahkan pemerintah Perancis untuk menghentikan pementasan drama itu dan mengingatkan dampak politik yang akan dihadapi Prancis jika ia meneruskan pementasan itu. Akhirnya Prancis pun membatalkan pementasan itu.

Oleh karena itu, satu-satunya solusi tuntas untuk menghentikan penghinaan terhadap Rasulullah saw adalah dengan menegakkan kembali Khilafah Islamiyah. Sebuah sistem yang akan benar-benar menjaga dan melindungi kemuliaan Islam dan Rasulullah saw, serta tidak akan membiarkan musuh-musuh Islam berbuat semena-mena atas nama kebebasan. (*)

Wallahu ‘alam bissawab

 

Penulis: Asriani, ST (Aktivis Muslimah)

 

 

***

 

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!