OPINI—Saat ini, banyak anak muda di Indonesia terjebak dalam berbagai persoalan serius seperti narkoba, tawuran, hingga kejahatan seperti pembegalan. Persoalan-persoalan tersebut yang sampai pada tahap kecemasan pada remaja bukan sekadar “nakal karena usia”. Melainkan ini adalah gejala sistemik.
Pada kasus penyalahgunaan narkoba, pada hasil survei nasional prevalensi penyalahgunaan narkotika tahun 2023 menunjukkan bahwa angka prevalensi sebesar 1,73% atau setara dengan 3,3 juta penduduk Indonesia yang berusia 15-64 tahun. BNN menegaskan peningkatan penyalahgunaan di kalangan remaja/pelajar, banyak yang “coba pakai” karena pengaruh teman dan rasa penasaran. (bnn.go.id, 27/6/2024)
Pada kasus begal, data Polri mencatat 2.097 korban begal & curas per 18 Mei 2024; pelajar & mahasiswa adalah kelompok korban terbanyak (±27%). Sedangkan untuk kasus tawuran, Polda Metro Jaya menyebut 45 kasus tawuran terjadi sepanjang April 2025 di wilayah hukumnya.
Tak hanya itu, remaja pun tak luput dari persoalan kesehatan mental, data UNICEF (2024/2025) menunjukkan masalah mental remaja tinggi; kesenjangan layanan juga besar (hanya ±10% remaja depresi yang berobat). Kemenkes merujuk studi nasional I-NAMHS: sekitar 1 dari 3 remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental; WHO: 1 dari 7 anak usia 10–19 mengalami gangguan mental.
Juga, di era digital ini paparan konten negatif terhadap generasi tak bisa dihindari, karena begitu mudahnya diakses oleh mereka. Tercatat bahwa pemerintah merintah (Komdigi) menurunkan >1,3 juta konten pornografi & judi online hanya dalam periode 20 Okt 2024–8 Mar 2025, indikasi skala masalah di ruang digital. Bayangkan, jika yang berhasil diturunkan saja sebanyak itu, betapa deras arus konten yang masuk ke layar gawai generasi muda.
Kapitalisme, Akar dari Krisis Generasi
Ada sebab ada akibat. Terjadinya krisis, tak mungkin tanpa sebab. Jika ditelisik, akan ditemui bahwa semua persoalan ini bermuara pada sistem kapitalisme sekuler yang melingkupi kehidupan.
Sekulerisme sebagai asas dari kapitalisme telah meminggirkan peran agama. agama hanya dianggap urusan privat. Pendidikan pun difokuskan pada keterampilan kerja, bukan pembentukan akhlak dan penguatan akidah. Riset internasional (World Development, 2020) menemukan bahwa setiap tambahan satu tahun sekolah menurunkan tingkat religiusitas individu ±4 poin persentase. Artinya, desain pendidikan yang netral nilai malah mengikis identitas keislaman remaja.
Materialisme, yang menjadi tujuan dan standar dalam berbuat menjadikan remaja bebas berbuat apa saja. Tanpa memandang halal haram suatu perbuatan, selama hal itu mendatangkan materi atau manfaat. Alhasil, Remaja akhirnya menilai diri dari harta, gaya hidup, dan validasi sosial di media. Saat gagal memenuhi standar material ini, muncul rasa rendah diri, stres, hingga depresi. Tak heran data UNICEF menunjukkan 1 dari 3 remaja Indonesia menghadapi masalah kesehatan mental.
Dalam bisnis digital kapitalis mencari keuntungan dari atensi. Algoritma media sosial justru mempromosikan konten provokatif, sensasional, atau bahkan berbahaya, sebab hal itu yang paling banyak menarik untuk diklik.
Dampaknya, anak-anak terpapar konten kekerasan, pornografi, dan ide-ide liberal sejak dini. Dan jika dibiarkan terus tanpa ada pendampingan, hal itu akan berdampak pada kepribadiannya, pada akhirnya mereka terdorong untuk melakukan hal yang selama ini dilihatnya.
Mirisnya, kapitalisme menganggap urusan moral dan akhlak bukan tugas negara, melainkan tugas para orangtua sepenuhnya untuk mendidik dan membina anak-anaknya. Padahal, laporan Survey Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 menunjukkan 1 dari 2 remaja Indonesia pernah mengalami kekerasan. Tanpa intervensi negara yang serius, keluarga tidak cukup kuat membentengi anak di tengah arus globalisasi dan digitalisasi.
Islam: Solusi Sistemik, Bukan Parsial
Berbeda dengan Kapitalisme, Islam hadir sebagai agama dan sistem menyeluruh yang mengatur kehidupan individu, masyarakat, hingga negara. Solusinya tidak parsial, tapi sistemik.
Islam menegaskan manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56). Sehingga setiap diri harus punya arah hidup, bukan sekadar mengejar validasi sosial. Artinya, orientasi hidup seorang muslim bukanlah sekadar mencari kesenangan duniawi atau validasi sosial dari lingkungan sekitar, melainkan mengaitkan seluruh aktivitasnya dengan keridhaan Sang Pencipta. Inilah pandangan hidup Islam yang membedakannya secara fundamental dari ideologi kapitalisme sekuler.
Potret kelam generasi sejatinya bisa diselesaikan jika akar persoalan sistem kehidupan yang membentuk pemahaman dan perilaku mereka dibenahi. Untuk itu, dibutuhkan sinergi dari berbagai pihak agar tercipta lingkungan yang sehat bagi pertumbuhan generasi muda.
Pertama, pada level individu, pondasi iman harus ditanamkan dengan kuat. Di sinilah peran penting keluarga. Orang tua berkewajiban mengenalkan anak kepada Sang Pencipta, agar kelak mereka tumbuh hanya untuk beribadah kepada-Nya.
Kedua, masyarakat sebagai kumpulan individu memiliki peran besar. Jika budaya amar ma’ruf nahi mungkar dijalankan, akan tercipta rasa kepedulian antarwarga. Dengan pemikiran dan perasaan yang sama dalam menjaga kondisi yang kondusif bagi tumbuh kembang remaja, masyarakat akan sepakat memilah hal-hal yang memberi pengaruh positif maupun negatif. Segala yang merusak generasi akan dicegah bersama-sama.
Ketiga, negara berperan strategis dalam menerapkan aturan berdasarkan nilai-nilai Islam, baik dalam bentuk undang-undang maupun sanksi. Kurikulum pendidikan harus diarahkan untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam teknologi, tetapi juga berkepribadian Islam.
Selain itu, negara wajib menegakkan aturan hukum dengan sanksi yang tegas. Sanksi ini berfungsi sekaligus sebagai penjera (zawajir) dan penebus (jawabir), sehingga setiap orang akan berpikir berkali-kali sebelum melakukan kejahatan.
Jika masalah remaja hanya dipandang sebagai kenakalan individu, kita akan terus sibuk memadamkan api: narkoba, tawuran, begal, depresi. Padahal, akarnya ada pada sistem Kapitalisme yang sekuler dan materialistik.
Islam menawarkan jalan keluar menyeluruh. Ia bukan hanya memperbaiki akhlak individu, tetapi menata pendidikan, media, ekonomi, hingga negara. Wallahu a’lam. (*)
Penulis: Hamsina Halik
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

















