MEDIASULSEL.COM—Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu peringatan penting dalam tradisi umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Peringatan ini bukan sekadar mengenang kelahiran Nabi, tetapi juga momentum mempertebal cinta dan teladan kepada sosok Rasulullah.
Secara historis, Nabi Muhammad SAW lahir di Mekah pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun Gajah atau sekitar tahun 570 Masehi. Tahun tersebut dikenal sebagai “Tahun Gajah” karena bertepatan dengan peristiwa pasukan bergajah yang dipimpin Abrahah mencoba menyerang Ka’bah, namun digagalkan oleh kehendak Allah melalui burung Ababil. Kehadiran Nabi Muhammad SAW menjadi titik balik sejarah peradaban manusia, membawa risalah Islam yang mengubah wajah dunia.
Meski kelahiran Rasulullah begitu monumental, tradisi peringatan Maulid baru muncul beberapa abad setelahnya. Dalam catatan sejarah, salah satu yang dikenal sebagai penggagas perayaan Maulid adalah Sultan al-Muzhaffar Abu Sa‘id Kukburi, seorang penguasa Irbil di wilayah Irak, pada abad ke-12 M. Peringatan tersebut berlangsung meriah dengan pembacaan syair, lantunan shalawat, hingga jamuan makan besar yang melibatkan para ulama, masyarakat, dan tokoh setempat. Dari sanalah tradisi peringatan Maulid menyebar ke berbagai negeri muslim.
Di dunia Islam, praktik Maulid berkembang dengan ragam bentuk. Di Mesir, perayaan Maulid sempat mendapat dukungan dari Dinasti Fatimiyah yang dikenal gemar mengadakan pesta keagamaan. Di Turki Usmani, peringatan ini dirayakan dengan penuh khidmat, melibatkan pembacaan kitab-kitab berisi kisah hidup Rasulullah.
Sedangkan di Nusantara, Maulid dikenal luas sejak masuknya Islam pada abad ke-15, khususnya melalui peran para Wali Songo. Tradisi ini berpadu dengan budaya lokal, melahirkan beragam bentuk perayaan seperti pembacaan Barzanji, Diba, hingga perhelatan besar yang dikenal dengan nama Maudu Lompoa di Sulawesi Selatan.
Meskipun perayaan Maulid tidak pernah secara khusus diperintahkan dalam Al-Qur’an maupun hadis, para ulama dari generasi ke generasi memandangnya sebagai bentuk ekspresi cinta kepada Rasulullah.
Imam Jalaluddin As-Suyuthi, ulama besar abad ke-15, menegaskan bahwa memperingati kelahiran Nabi dengan membaca shalawat, berbagi makanan, dan meneladani akhlaknya termasuk amal kebaikan yang dianjurkan.
Meski begitu, ada pula kalangan yang bersikap kritis, menilai bahwa perayaan Maulid bisa menjerumuskan pada praktik berlebihan jika tidak dijaga esensinya.
Di Indonesia sendiri, Maulid telah menjadi bagian dari budaya sekaligus syiar keagamaan. Hampir di setiap daerah, peringatan ini dirayakan dengan nuansa khas.
Di Aceh, masyarakat mengenalnya dengan istilah “Seuneujoh,” yang ditandai dengan kenduri besar di masjid-masjid. Di Jawa, masyarakat menggelar “Grebeg Maulud” yang sarat simbol keagamaan dan budaya.
Sementara di Sulawesi Selatan, Maulid akbar sering kali dipusatkan di masjid atau lapangan dengan tradisi pembacaan syair Maulid al-Barzanji, iring-iringan makanan, hingga doa bersama.
Lebih dari sekadar tradisi, Maulid Nabi menjadi ruang bersama untuk meneguhkan nilai kasih sayang, persaudaraan, dan keteladanan Rasulullah.
Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, perayaan ini tetap menjadi pengingat bahwa Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Dengan memperingati Maulid, umat Islam tidak hanya mengenang sejarah kelahiran sang Nabi, tetapi juga berupaya menghidupkan kembali semangat perjuangan, akhlak mulia, dan ajaran yang beliau wariskan. (*)


















