PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • 24 PC Muslimat NU Dikerahkan Kawal 177.500 Susu untuk Anak Sulsel • 27 Tusukan Akhiri Hidup Istri di Samata, Suami Ditemukan Tewas Bakar Diri • 177.500 Pcs Susu Disalurkan ke Anak di 24 Kabupaten/Kota Sulsel • Makassar Jadi Pilot Project Nasional, 6.032 RT/RW Dikerahkan Kawal Warga Dapat Perlindungan Sosial • Family Gathering di Tanjung Bayang, Jajaran Kelurahan Bitowa Perkuat Kekompakan • Tetra Pak Dorong Hilirisasi Kelapa Indonesia dari Manado • PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • 24 PC Muslimat NU Dikerahkan Kawal 177.500 Susu untuk Anak Sulsel • 27 Tusukan Akhiri Hidup Istri di Samata, Suami Ditemukan Tewas Bakar Diri • 177.500 Pcs Susu Disalurkan ke Anak di 24 Kabupaten/Kota Sulsel • Makassar Jadi Pilot Project Nasional, 6.032 RT/RW Dikerahkan Kawal Warga Dapat Perlindungan Sosial • Family Gathering di Tanjung Bayang, Jajaran Kelurahan Bitowa Perkuat Kekompakan • Tetra Pak Dorong Hilirisasi Kelapa Indonesia dari Manado •
Opini

Jati Diri Generasi Muslim Menyongsong 2026 sebagai Pembangun Peradaban

498
×

Jati Diri Generasi Muslim Menyongsong 2026 sebagai Pembangun Peradaban

Sebarkan artikel ini
Riska Nilmalasari D.A (Praktisi Pendidikan)
Riska Nilmalasari D.A (Praktisi Pendidikan)

OPINI—Tahun 2026 telah tiba. Ia bukan sekadar angka pergantian kalender, melainkan momentum refleksi bagi generasi Muslim, siapakah kita dan ke mana arah langkah kita? Di tengah dunia yang terus bergerak cepat ditandai krisis moral, ketimpangan ekonomi, konflik global, dan kebingungan identitas, pertanyaan tentang jati diri generasi Muslim menjadi sangat mendesak.

Generasi Muslim bukanlah generasi biasa. Sejarah mencatat bahwa Islam tidak lahir untuk sekadar menjadi agama ritual, melainkan sebagai manhaj al-hayah—pedoman hidup yang melahirkan peradaban. Maka, jati diri generasi Muslim sejatinya adalah generasi pembangun peradaban, bukan generasi penonton yang larut dalam arus zaman.

Namun realitas hari ini menunjukkan tantangan besar. Banyak anak muda Muslim tumbuh dengan standar sukses ala sistem sekuler: prestasi individual, popularitas digital, dan pencapaian materi. Nilai benar-salah sering dikaburkan, agama direduksi menjadi urusan privat, dan idealisme perjuangan dianggap usang. Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara visi dan misi hidup.

Menyongsong 2026, generasi Muslim perlu kembali pada pondasi utamanya, yaitu akidah Islam. Akidah bukan sekadar keyakinan, melainkan lensa berpikir yang membentuk sikap, pilihan hidup, dan arah perjuangan. Dengan akidah, generasi Muslim memahami bahwa hidup adalah amanah, ilmu adalah tanggung jawab, dan peran manusia adalah sebagai khalifah fil ardh—pengelola bumi sesuai aturan Allah.

Jati diri generasi Muslim pembangun peradaban juga tercermin dari pola pikir bertumbuh (growth mindset) yang berlandaskan iman. Kegagalan tidak mematikan langkah, ujian tidak mematahkan semangat, dan keterbatasan tidak menghalangi kontribusi. Sebab dunia adalah tempat ujian, bukan tempat berleha-leha.

Rasulullah SAW telah mencontohkan bagaimana generasi awal Islam ditempa dengan kesabaran, keteguhan, dan visi besar. Selain itu, generasi Muslim perlu menyadari bahwa kontribusi nyata bagi umat tidak lahir dari sikap apatis atau individualistik. Peradaban dibangun oleh generasi yang peduli, berpikir sistemik, dan berani bersuara untuk kebenaran. Mereka bukan hanya unggul di ruang akademik atau profesional, tetapi juga memiliki keberpihakan pada nasib umat dan arah sejarah.

Tahun 2026 seharusnya menjadi titik tolak lahirnya generasi Muslim yang sadar jati diri: berilmu, beriman, dan berjuang. Generasi yang tidak malu dengan identitas Islamnya, tidak ragu menampilkan nilai-nilai Qur’ani, dan tidak lelah memperjuangkan perubahan hakiki. Sebab peradaban Islam tidak akan bangkit dengan nostalgia masa lalu, tetapi dengan generasi masa kini yang sadar peran dan tanggung jawabnya. (*)

Wallahu’alam bishowab


Penulis:
Riska Nilmalasari D.A
(Praktisi Pendidikan)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com