Advertisement - Scroll ke atas
Pangkep

Satu Jenazah Ditemukan di Bawah Tebing Bulusaraung, Evakuasi Pesawat ATR Masuki Fase Krusial

676
×

Satu Jenazah Ditemukan di Bawah Tebing Bulusaraung, Evakuasi Pesawat ATR Masuki Fase Krusial

Sebarkan artikel ini
Jenazah Korban Ditemukan di Bawah Tebing Bulusaraung, Tim SAR Hadapi Medan Ekstrem
Tim SAR gabungan menemukan satu jenazah di lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Minggu (18/1/2026). Korban ditemukan di bawah tebing curam dengan akses yang sangat terbatas.

PANGKEP—Tim SAR gabungan menemukan satu jenazah di lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Minggu (18/1/2026). Korban ditemukan di bawah tebing curam dengan akses yang sangat terbatas.

Jenazah ditemukan sekitar 200 meter dari titik awal penemuan serpihan pesawat, di jalur terjal dengan vegetasi rapat yang menyulitkan proses evakuasi.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Penemuan tersebut pertama kali dilaporkan pada pukul 13.43 Wita oleh tim puncak SAR gabungan saat melakukan penyisiran di sekitar area serpihan pesawat. Tim melihat keberadaan korban di bawah tebing curam.

Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, membenarkan penemuan tersebut. Namun hingga saat ini identitas dan jenis kelamin korban belum dapat dipastikan karena proses evakuasi masih berlangsung.

“Benar, kami menerima laporan penemuan satu jenazah. Saat ini korban masih dalam proses evakuasi dan jenis kelaminnya belum bisa dipastikan,” ujar Andi Sultan.

Setelah laporan diterima, Tim SAR menyusun skema evakuasi dengan metode vertikal menggunakan teknik tali dan penurunan personel, mengingat posisi korban tidak dapat dijangkau melalui jalur biasa.

Pada pukul 13.56 Wita, tujuh personel tim aju diterjunkan melalui jalur pendakian untuk membantu proses evakuasi. Selang satu menit kemudian, tepat pukul 13.57 Wita, SRU 3 kembali menemukan serpihan pesawat berupa bagian tangga dan kursi di sekitar lokasi tersebut.

Proses evakuasi diperkirakan memakan waktu cukup panjang akibat medan ekstrem dan curam, kondisi cuaca yang cepat berubah, serta keharusan menandu jenazah secara manual.

Tim SAR menggunakan peralatan mountaineering berupa tali karmantel, carabiner, tandu evakuasi, dan pengaman tubuh. Evakuasi dari lokasi penemuan menuju posko terdekat diperkirakan membutuhkan waktu beberapa jam, bergantung pada kondisi cuaca dan keselamatan personel.

Setelah berhasil dievakuasi ke posko SAR, jenazah direncanakan dibawa ke rumah sakit rujukan untuk proses identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri sebelum diserahkan kepada pihak keluarga. (70n/Ag4ys)

error: Content is protected !!