MAKASSAR—Kemarau panjang yang diprediksi terjadi pada 2026 mulai memicu kekhawatiran di sejumlah daerah, termasuk Sulawesi Selatan. Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui, terutama di wilayah dengan karakteristik lahan kering dan minim sumber air.
Prakiraan iklim menunjukkan musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih panjang dari biasanya. Suhu udara yang meningkat turut mempercepat pengeringan vegetasi, menciptakan kondisi yang sangat rentan terhadap munculnya titik api.
Di Sulsel, sejumlah wilayah seperti Luwu Timur, Bone, dan sebagian kawasan pesisir selatan dinilai masuk kategori rawan. Lahan terbuka, area perkebunan, hingga hutan sekunder menjadi titik yang paling berisiko jika tidak diawasi secara ketat.
Selain faktor alam, aktivitas manusia masih menjadi pemicu utama karhutla. Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar yang masih kerap ditemukan menjadi ancaman serius, terutama saat kemarau ekstrem melanda.
Dampak karhutla tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Kabut asap berpotensi memicu penyakit pernapasan, mengganggu aktivitas warga, hingga menekan sektor ekonomi lokal.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mulai meningkatkan kewaspadaan dengan memperkuat koordinasi lintas daerah. Patroli rutin, pemantauan titik panas, serta sosialisasi kepada masyarakat terus digencarkan sebagai langkah pencegahan dini.
Namun, upaya tersebut masih menghadapi sejumlah kendala. Keterbatasan sarana pemadaman, akses ke lokasi rawan yang sulit dijangkau, hingga minimnya kesadaran sebagian masyarakat menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi.
Pengamat lingkungan menilai, Sulsel perlu memperkuat sistem deteksi dini berbasis teknologi serta memperketat penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan. Tanpa langkah tegas, potensi karhutla akan terus berulang setiap musim kemarau panjang.
Di sisi lain, keterlibatan masyarakat dinilai menjadi kunci utama. Edukasi dan partisipasi aktif warga dalam melaporkan titik api dapat mempercepat penanganan sebelum kebakaran meluas.
Jika tidak diantisipasi secara serius, kemarau panjang 2026 berpotensi memicu karhutla dengan skala lebih besar di Sulawesi Selatan. Semua pihak dituntut bergerak cepat dan terkoordinasi, sebelum ancaman ini berubah menjadi bencana yang sulit dikendalikan. (Ag4ys)









