TORAJA UTARA—Tenun Toraja kembali menjadi perhatian dalam kunjungan Forum Kreatif Cipta Cendekia (FCC) Sulawesi Selatan ke Sentra Tenun Sikamali’ Unnoni di Tongkonan Unnoni, Lembang Sa’dan Tiroallo, Kabupaten Toraja Utara, Sabtu (30/5/2026).
Kunjungan yang merupakan bagian dari agenda FCC Goes to Toraja 2026 itu tidak hanya menjadi ajang wisata budaya, tetapi juga wadah melihat langsung kondisi para penenun yang selama ini menjaga warisan tenun khas Toraja secara turun-temurun.
Ketua Umum FCC Sulsel, Andi Oci Alepuddin, mengatakan pihaknya sengaja membawa sekitar 30 anggota FCC dari berbagai profesi untuk mengenal lebih dekat proses pembuatan tenun Toraja, mulai dari bahan baku, motif hingga proses penenunan yang menghasilkan selembar kain bernilai budaya tinggi.
Menurut Andi Oci, Tenun Toraja memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan, baik sebagai produk budaya maupun daya tarik wisata. Namun di balik potensinya, terdapat tantangan serius yang harus segera mendapat perhatian, yakni regenerasi penenun.
“Sebagian besar penenun yang masih aktif saat ini sudah berusia lanjut. Karena itu, regenerasi harus terus didorong agar tradisi menenun tidak terputus dan tetap diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Andi Oci mengaku bangga mengenakan tenun Toraja dalam berbagai kesempatan. Ia menilai kawasan Sentra Tenun Sikamali’ Unnoni layak dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Karena itu, FCC Sulsel menyatakan siap membantu promosi tenun Toraja melalui publikasi dan dokumentasi yang lebih luas. Bahkan, pihaknya membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendukung pengembangan sentra tenun tersebut.
“Kami akan berupaya membantu sesuai kemampuan, terutama dalam promosi agar semakin banyak orang mengenal tenun Toraja dan berkunjung langsung ke sentra tenun ini,” katanya.

Sementara itu, Ketua Sentra Tenun Sikamali’ Unnoni, Maria Toding, mengungkapkan saat ini terdapat sekitar 30 penenun aktif di kawasan tersebut. Namun mayoritas penenun berusia di atas 50 tahun sehingga kebutuhan regenerasi menjadi tantangan yang mendesak.
Menurut Maria, hasil tenun selama ini dipasarkan melalui galeri di Toraja, pemesanan wisatawan, hingga platform digital. Ia berharap dukungan berbagai pihak dapat membantu memperluas pemasaran sekaligus menarik minat generasi muda untuk belajar menenun.
“Kami berharap semakin banyak anak muda yang tertarik menekuni tenun Toraja agar warisan budaya ini tetap lestari dan tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya.
Kunjungan FCC Sulsel ke Sentra Tenun Sikamali’ Unnoni menjadi bagian dari upaya memperkuat promosi budaya lokal sekaligus mendorong keberlanjutan tenun Toraja sebagai salah satu identitas budaya yang membanggakan Sulawesi Selatan. (4nny)








