BONE – Tim Mannennungeng Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) UKM Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (KPI) Universitas Hasanuddin bersama warga Desa Kajaolaliddong, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, menggelar kerja bakti membersihkan lingkungan desa, Sabtu (4/7/2026).
Kegiatan yang melibatkan perangkat desa, masyarakat dari berbagai dusun, serta mahasiswa peserta program tersebut difokuskan pada pembersihan semak belukar dan penebangan pohon-pohon rapuh di sepanjang pinggir jalan guna meningkatkan keselamatan dan kenyamanan warga.
Sejak pagi hari, peserta kerja bakti bergotong royong memangkas ranting yang menjuntai ke badan jalan, menebang pohon yang dinilai berpotensi membahayakan pengguna jalan, serta membersihkan gulma yang mengganggu jarak pandang pengendara.
Ketua Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas 2026, Fadel Muhammad S., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kebutuhan masyarakat sekaligus upaya membangun lingkungan yang lebih aman.
“Kami ingin hadir tidak hanya untuk urusan pertanian, tetapi juga untuk menjaga lingkungan desa. Pembersihan ini kami lakukan agar warga merasa aman saat melintas,” ujarnya.
Kepala Desa Kajaolaliddong, Muh. Yunus, mengapresiasi keterlibatan aktif mahasiswa dalam berbagai kegiatan sosial di desanya. Menurutnya, kehadiran mahasiswa tidak hanya membawa program pemberdayaan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata melalui aksi gotong royong bersama masyarakat.
“Mereka tidak sekadar membawa program, tapi turun langsung bergotong royong bersama warga. Ini sangat berarti bagi desa kami,” katanya.
Ketua Umum UKM KPI Unhas, Aydil Fitra Mulya, menilai semangat gotong royong menjadi salah satu modal penting dalam membangun hubungan yang kuat antara mahasiswa dan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan program pengabdian tidak hanya diukur dari capaian kegiatan, tetapi juga dari kedekatan yang terbangun dengan warga.
“Keberhasilan program tidak cukup diukur dari angka, tetapi juga dari kedekatan kami dengan warga. Gotong royong mengajarkan bahwa perubahan dimulai dari kebersamaan,” ujarnya.
Sementara itu, dosen pendamping program, Muh. Adnan Kasogi, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari pendekatan partisipatif yang diterapkan dalam Program Mannennungeng. Melalui keterlibatan langsung di tengah masyarakat, mahasiswa diharapkan dapat memahami kebutuhan warga sekaligus membangun kepercayaan untuk mendukung keberlanjutan program.
“Mahasiswa belajar tidak hanya dari teori, tetapi dari interaksi langsung dengan masyarakat. Gotong royong seperti ini menjadi fondasi kepercayaan dan keberlanjutan program,” tuturnya.
Kerja bakti ini menjadi salah satu rangkaian awal Program Mannennungeng sebelum memasuki tahap pelatihan teknis dan implementasi pertanian cerdas di Desa Kajaolaliddong. Program yang berlangsung hingga Oktober 2026 tersebut diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat dalam mendorong pembangunan desa berbasis partisipasi dan inovasi. (MP/Ag4ys)













