SIDRAP – Persoalan sampah organik dan rendahnya daya resap air di lingkungan permukiman menjadi perhatian Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Hasanuddin. Melalui program BIOWANI (Gerakan Biopori untuk Lingkungan Hijau Desa Wanio Timoreng), mahasiswa mengajak warga Desa Wanio Timoreng, Kecamatan Panca Lautang, Kabupaten Sidenreng Rappang, menerapkan teknologi sederhana yang berdampak besar bagi lingkungan.
Program ini mengusung pembuatan lubang resapan biopori sebagai solusi untuk meningkatkan penyerapan air hujan, mengurangi timbunan sampah organik, sekaligus menciptakan lingkungan desa yang lebih hijau dan berkelanjutan. Kegiatan dilaksanakan bersama pemerintah desa dan melibatkan masyarakat secara langsung, Senin (3/8/2026).
Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan serta manfaat biopori dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa menjelaskan bahwa lubang biopori dibuat secara vertikal ke dalam tanah dan diisi dengan sampah organik seperti daun kering, rumput, maupun sisa tanaman yang nantinya akan terurai menjadi kompos alami.
Yang menarik, program BIOWANI memanfaatkan bahan-bahan bekas seperti pipa PVC, botol plastik, dan galon yang dimodifikasi menjadi media biopori. Selain mendukung konservasi air, inovasi ini juga menjadi bagian dari penerapan prinsip reduce, reuse, recycle (3R) dengan memanfaatkan limbah plastik yang masih dapat digunakan.
Antusiasme warga terlihat saat mengikuti seluruh tahapan kegiatan, mulai dari penyuluhan hingga praktik pembuatan dan pemasangan biopori di sejumlah titik. Keterlibatan masyarakat dinilai menjadi kunci agar program tidak berhenti sebagai kegiatan selama masa KKN, tetapi terus berlanjut sebagai gerakan bersama.

Melalui BIOWANI, mahasiswa juga mendorong perubahan kebiasaan dalam mengelola sampah rumah tangga. Sampah organik yang sebelumnya dibuang kini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengisi biopori yang menghasilkan kompos untuk menyuburkan tanaman di pekarangan warga.
Mahasiswa KKNT berharap inovasi sederhana ini dapat direplikasi secara mandiri oleh masyarakat maupun diterapkan di berbagai fasilitas umum di Desa Wanio Timoreng. Dengan biaya murah dan proses pembuatan yang mudah, biopori dinilai menjadi solusi praktis untuk mengurangi genangan air sekaligus menekan volume sampah organik.
Program BIOWANI menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat mampu melahirkan inovasi yang memberikan dampak nyata. Berawal dari langkah sederhana, Desa Wanio Timoreng diharapkan mampu menjadi contoh desa yang konsisten membangun budaya peduli lingkungan dan mewujudkan kawasan yang lebih bersih, hijau, serta berkelanjutan. (Mp/Ag4ys)
Citizen Reporter: Muh. Fakhrizal (Mahasiswa Peternakan Unhas)













