MAKASSAR – Polda Sulawesi Selatan mulai memperkuat pendekatan pembinaan terhadap generasi muda yang terlibat dalam aktivitas berisiko dan berpotensi mengganggu keamanan serta ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Langkah tersebut diwujudkan melalui Program Pelatihan dan Pembinaan Remaja Cinta Damai yang resmi dibuka di Ruang IT Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Sulsel, Minggu (25/10/2026).
Sebanyak 18 peserta mengikuti program tersebut. Pembukaan dipimpin langsung Kepala SPN Polda Sulsel, Kombes Pol Syamsu Ridwan, didampingi jajaran personel dan pengasuh yang akan mendampingi para peserta selama proses pembinaan.
Program ini merupakan tindak lanjut arahan Kapolda Sulsel, Irjen Pol M. Awal Chairuddin, sebagai upaya preventif untuk mencegah perilaku yang berpotensi memicu gangguan kamtibmas, termasuk perkelahian antarkelompok dan aktivitas kelompok motor yang meresahkan masyarakat.
Kabidhumas Polda Sulsel, Kombes Pol Didik Supranoto, mengatakan pembinaan tersebut menjadi bagian dari komitmen kepolisian untuk mengedepankan pendekatan edukatif dan humanis dalam menangani persoalan yang melibatkan generasi muda.
“Program Pelatihan dan Pembinaan Remaja Cinta Damai ini merupakan tindak lanjut dari arahan Bapak Kapolda Sulsel. Kami ingin memberikan ruang pembinaan kepada para peserta agar mereka dapat memperbaiki pola pikir, meningkatkan kedisiplinan, serta memahami pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Menurut Didik, sasaran pembinaan tidak hanya terbatas pada remaja yang terlibat perkelahian antarkelompok. Program ini juga menyasar pihak-pihak yang terlibat dalam aktivitas berisiko, termasuk kelompok motor yang meresahkan masyarakat serta kegiatan lain yang dapat membahayakan keselamatan dan memicu gangguan keamanan.

Melalui pembinaan tersebut, para peserta diharapkan mampu mengendalikan emosi, menghindari provokasi, dan menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan.
Polda Sulsel ingin agar para remaja tidak sekadar mengikuti pelatihan, tetapi juga membawa perubahan positif ketika kembali ke lingkungan masing-masing.
“Melalui pembinaan ini, kami berharap para peserta dapat belajar mengendalikan emosi, tidak mudah terprovokasi, serta mampu menyelesaikan persoalan dengan cara yang baik tanpa menggunakan kekerasan. Mereka diharapkan kembali ke lingkungan masing-masing dengan membawa perubahan positif dan menjadi bagian dari upaya menjaga kedamaian,” lanjut Didik.
Di sisi lain, Polda Sulsel menegaskan bahwa pendekatan persuasif dan pembinaan tidak mengesampingkan penegakan hukum. Setiap tindakan yang memenuhi unsur pelanggaran hukum tetap akan ditangani secara profesional sesuai ketentuan yang berlaku.
Didik juga mengajak masyarakat, khususnya kalangan muda, untuk ikut menjaga keamanan lingkungan dan tidak mudah terpengaruh ajakan yang berpotensi merugikan diri sendiri maupun orang lain.
“Semangat kami adalah Polisi Bersama Masyarakat. Kami mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk bersama-sama menjaga persaudaraan, menolak kekerasan, dan tidak mudah terpengaruh ajakan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain,” tegasnya.
Program ini sejalan dengan Commander Wish Kapolda Sulsel, yakni EWAKO yang merupakan singkatan dari Empati, Waspada, Adil, dan Kolaboratif. Nilai-nilai tersebut menjadi landasan dalam membangun kepedulian, meningkatkan kewaspadaan, serta memperkuat kerja sama antara kepolisian dan masyarakat.
Melalui Pelatihan dan Pembinaan Remaja Cinta Damai, Polda Sulsel berharap generasi muda dapat tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan mampu menjadi pelopor perdamaian.
Upaya ini sekaligus menegaskan bahwa menjaga kamtibmas bukan hanya soal penindakan, tetapi juga membangun kesadaran dan membuka ruang bagi generasi muda untuk memperbaiki diri sebelum persoalan berkembang menjadi gangguan keamanan yang lebih besar.(4r5)













