KAIRO – Sebanyak 54 mahasiswa Indonesia di Kairo, Mesir, mendapat pembekalan mengenai kehidupan sosial masyarakat setempat hingga tata kelola keuangan dan transaksi internasional melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat Internasional, Rabu (28/10/2026).
Kegiatan bertajuk “Peningkatan Kapasitas Mahasiswa Indonesia di Kairo dalam Konteks Sosial Masyarakat Mesir dan Tata Kelola Keuangan serta Transaksi Internasional” tersebut dipimpin langsung Direktur PKUMI, Prof. Dr. KH. Ahmad Thib Raya, M.A.
Berlangsung di kawasan Al Mahdi Ibn Baraka, Al Hadiqah Ad Dawleyah, Nasr City, Kairo, program ini menghadirkan tiga narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi pendidikan.
Pembekalan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan sosial dan budaya Mesir, sekaligus membangun pemahaman mengenai pengelolaan keuangan, literasi ekonomi, serta transaksi lintas negara.
Ahmad Thib Raya menegaskan, pendidikan kader ulama tidak cukup hanya berorientasi pada penguasaan ilmu keislaman. Mahasiswa juga perlu dibekali kemampuan memahami realitas sosial dan menghadapi tantangan kehidupan global.
Menurutnya, kader ulama masa depan harus mampu membaca dinamika masyarakat, memahami perbedaan budaya, serta memiliki kecakapan mengelola kehidupan ekonomi secara bertanggung jawab.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (FEB UNUSIA), Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak., memberikan penekanan pada pentingnya literasi keuangan bagi mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri.
Ia menjelaskan, perbedaan sistem pembayaran, fluktuasi nilai tukar, biaya hidup, hingga penggunaan layanan keuangan internasional menuntut mahasiswa memiliki pemahaman yang memadai.
Aras menilai kemampuan mengelola anggaran, memahami transaksi perbankan, dan mengenali risiko pembayaran lintas negara menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian ekonomi mahasiswa.
Narasumber lainnya, Muhammad Amin Bukhari, mahasiswa doktoral bidang Tafsir Universitas Al-Azhar Kairo, mengulas pentingnya kemampuan beradaptasi dengan karakter dan kehidupan sosial masyarakat Mesir.
Menurut Amin, kemampuan berbahasa Arab saja belum cukup untuk membangun hubungan sosial di lingkungan baru. Mahasiswa juga perlu memahami tradisi, etika komunikasi, serta kebiasaan masyarakat setempat.
Adaptasi sosial yang baik, kata dia, tidak hanya mendukung kelancaran proses akademik, tetapi juga membantu menjaga citra positif Indonesia di lingkungan internasional.
Kegiatan ini memadukan perspektif keislaman, sosial-budaya, dan ekonomi sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas mahasiswa Indonesia di luar negeri.
Melalui kolaborasi PKUMI dan FEB UNUSIA, program pengabdian internasional tersebut diharapkan dapat melahirkan generasi ulama yang tidak hanya memiliki kedalaman ilmu keagamaan, tetapi juga adaptif, mandiri secara finansial, dan mampu berkontribusi dalam kehidupan masyarakat global.(Cr/Ag4ys)
Citizen Reporter: Muh. Aras Prabowo (Akademisi UNUSIA)













