JAKARTA – Menanggapi hasil survei LSI, Kordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Adnan Topan Husodo mengaku tidak terlalu kaget dengan temuan bahwa demokratisasi tidak sejalan dengan semangat atau perilaku anti-korupsi.
Dia menambahkan dari beragam kajian tidak ada hubungan yang selalu positif antara demokrasi dan anti-korupsi.
Adnan mencontohkan Singapura. Kalau dari segi demokrasi, negara Singa itu tertinggal jauh dibanding Indonesia, namun semangat dan perilaku anti-korupsinya jauh lebih baik.
Adnan menambahkan ICW sudah memprediksi wabah korupsi di daerah-daerah akan meningkat pasca pemberlakuan desentralisasi, terlebih setelah desa diberi otonomi untuk mengelola dana desa.
Menurut Adnan, makin banyaknya orang yang ditangkap atas dugaan korupsi bukan berarti terjadi peningkatan wabah rasuah.
“Karena meningkatnya korupsi di sebuah negara tidak bisa diukur dari banyaknya pelaku korupsi yang ditangkap oleh penegak hukum”
“Justru sebaliknya, meningkatnya pelau korupsi yang ditangani oleh penegak hukum menunjukkan semakin baiknya penegakan hukum itu bekerja,” tukasnya di Jakarta, Senin (24/9/2018).
Lebih lanjut Adnan mengungkapkan makin tingginya pendidikan seseorang kian membuka peluang untuk menjadi pelaku korupsi.
Sesuai data dari Komisi Pemberantasan Korupsi, kebanyakan pelaku korupsi berpendidikan S-1 hingga S-3 dan bahkan profesor. [VOA/shar]















