MAKASSAR, 2 (dua) orang Profesor dari University of Sydney, yaitu Professor Merilyn Walton dan Professor David Guest, dihadirkan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat bekerjasama dengan Sekolah Pascasarjana Univeristas Hasanuddin sebagai pembicara dalam kuliah umum yang bertajuk “One Health Framework – Sustainablity dan Profitability of Cocoa-Based Farming in Sulawesi” di Aula Prof. Dr. Ir. Fachruddin, Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Senin, (11/3).
Selain kedua profesor asal University of Sydney dalam kegiatan yang dibuka Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kemitraan FKM Unhas, Prof. Sukri Palutturi, SKM., M.Kes., M.Sc.PH.,Ph.D tersebut juga melibatkan 1 orang pembicara dari Universitas hasanuddin, Sudirman Nasir, PhD.
Dalam kuliahnya, Professor David Guest menyatakan, bahwa upaya peningkatan pengetahuan dan kemampuan dari petani kakao demi membantu meningkatkan produktifitas hasil panen melalui pelatihan-pelatihan selama ini dianggap kurang efektif, hal ini menurutnya disebabkan karena metode pelatihan yang cenderung “top-down” dan “spoon-fed program” yang berakibat pada kurangnya diminati petani kakao khususnya pemuda dan wanita.
Lebih lanjut Professor David Guest memaparkan tiga factor utama yang harus diperhatikan dalam upaya peningkatan kesejahteraan petani kakao, yaitu; pendidikan, difersifikasi serta kesehatan. Namun sayangnya, kesehatan dari petani kakao adalah aspek yang cenderung paling sering terabaikan.
Pada akhir kuliahnya, Prof David Guest menegaskan pentingnya pendekatan yang interdisipliner dan multiperspektif kepada petani kecil untuk meningkatkan produktifitas hasil panen dan tentunya kesejahteraan petani.
Sementara Professor Merilyn Walton yang menjelaskan tentang The Village Livelihood Program yang merupakan sebuah proyek percontohan yang diinisiasi dengan tujuan untuk membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa melalui perubahan perilaku, kesehatan dan mata pencaharian umum mereka.
Proyek percontohan tersebut lanjut Merilyn, focus pada perekrutan sukarelawan yang secara khusus mendapatkan pelatihan mengenai pengetahuan ilmiah dasar tentang penyakit (manusia & tanaman) dan praktik pertanian yang baik. Para relawan juga difungsikan mejadi sumber informasi terkait kendala dalam produksi kakao, pencegahan penyakit dan mempromosikan kesehatan yang baik dalam kontek desa. Upaya ini diharapkan dapat memberdayakan masyarakat untuk membuat keputusan dalam meningkatkan kesehatan mereka sendiri di tingkat desa dan keluarga.
Sudirman Nasir, Phd, yang bertindak sebagai pembicara ketiga memaparkan, bahwa proyek yang merupakan kolaborasi antara Universitas Hasanuddin dengan University of Sydney tersebut adalah sebuah proyek interdisipliner dengan melibatkan empat bidang ilmu yang berbeda; pertanian, ekonomi, kesehatan, budaya.
“Ide untuk menggunakan pendekatan yang interdisipliner bukan tanpa alasan, pendekatan ini dianggap efektif, bukan hanya dalam perumusan solusi dari upaya peningkatan produksi hasil panen kakao dan kesejahteraan petani, namun juga dapat berkontribusi dalam memfasilitasi keterlibatan masyarakat, publikasi akademik dan pendampingan peneliti-peneliti muda,” tegas Sudirman.
Kuliah umum kemudian dilanjutkan oleh diskusi dengan para narasumber dan dipimpin oleh Muhammad Junaid, PhD dari Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin. Sesi diskusi ini memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh bagi peserta mengenai topic dari kuliah umum hari ini.
Dekan Sekolah Pascasarjana, Prof. Jamaluddin Jompa, M.Sc, Ph.D menutup kuliah umum ini dengan kembali menekankan peran dari riset yang kolaboratif dan multidisiplin dalam menjawab tantangan dimasa mendatang. (*/464ys)













