Memuat Ramadhan…
Memuat cuaca…
Opini

Ancaman Ekonomi yang Tak Terlihat

488
×

Ancaman Ekonomi yang Tak Terlihat

Sebarkan artikel ini
Lilis Mariana (Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Bulukumba)
Lilis Mariana (Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Bulukumba)

OPINI—Pada dasarnya, uang palsu adalah produk kejahatan yang merugikan berbagai pihak. Bagi penerima yang tidak menyadari bahwa uang yang diterima tersebut palsu, mereka akan mengalami kerugian langsung.

Sementara itu, bagi pelaku ekonomi yang jujur, keberadaan uang palsu dapat merusak integritas dan kestabilan pasar. Bahkan lebih jauh lagi, praktik peredaran uang palsu dapat memperburuk keadaan ekonomi karena menurunkan nilai uang yang sah.

Di kampus UIN, di mana sebagian besar mahasiswanya berasal dari latar belakang religius, masalah ini tentu menimbulkan tanda tanya besar. Mengapa fenomena ini dapat terjadi di lingkungan pendidikan yang semestinya menjadi tempat untuk mendidik moralitas dan integritas? Ini bukan hanya tentang dampak ekonomi yang bisa ditimbulkan, tetapi juga mencerminkan sejauh mana nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab sudah tergerus.

Penyebaran uang palsu di kalangan mahasiswa, terutama di UIN, bisa jadi dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah kesenjangan ekonomi yang mungkin terjadi di kalangan mahasiswa. Beberapa mahasiswa yang kesulitan membayar biaya kuliah, kebutuhan sehari-hari, atau bahkan membiayai kegiatan kampus, bisa jadi merasa terpaksa menggunakan uang palsu sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan masalah ekonomi mereka.

Selain itu, ketidaktahuan atau ketidakpedulian terhadap dampak buruk dari penggunaan uang palsu juga bisa menjadi faktor pendorong. Banyak yang mungkin tidak sadar bahwa peredaran uang palsu, meskipun nominalnya kecil, pada akhirnya akan merusak kepercayaan terhadap sistem ekonomi yang ada, termasuk di lingkungan kampus. Kampus, sebagai pusat pendidikan moral dan intelektual, seharusnya menjadi garda terdepan dalam menanamkan nilai-nilai kejujuran, integritas, dan tanggung jawab dalam hal keuangan.

Di sisi lain, penggunaan uang palsu juga menghadirkan dilema etika bagi mahasiswa. Di lingkungan UIN yang identik dengan nilai-nilai Islam, para mahasiswa seharusnya lebih peka terhadap dampak moral dari tindakan tersebut. Dalam ajaran Islam, menipu atau melakukan tindakan curang, termasuk bertransaksi menggunakan uang palsu, adalah suatu perbuatan yang sangat dilarang. Konsep halal dan haram yang diajarkan di kampus UIN seharusnya mendorong mahasiswa untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan uang dan menghindari perbuatan yang bisa merugikan orang lain.

Namun, realitasnya, tidak semua mahasiswa memiliki pemahaman yang sama tentang pentingnya menjaga kejujuran dalam setiap transaksi. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti lemahnya pendidikan karakter di luar lingkungan akademik, tekanan ekonomi, atau bahkan kurangnya pemahaman tentang bagaimana praktik keuangan yang sehat seharusnya dijalankan.

Kampus Sebagai Wadah Edukasi dan Pencegahan

Kampus UIN, sebagai institusi pendidikan tinggi, memiliki peran yang sangat penting dalam menangani fenomena ini. Salah satunya adalah melalui peningkatan pemahaman mahasiswa terkait dampak penggunaan uang palsu, baik dari segi ekonomi maupun moral. Pendidikan tentang pentingnya menjaga integritas dan menghindari perbuatan curang harus terus disosialisasikan. Pihak kampus juga bisa bekerja sama dengan pihak berwenang, seperti kepolisian, untuk memberikan penyuluhan tentang cara mengenali uang palsu dan konsekuensi hukumnya.

Selain itu, pihak kampus bisa membuat program-program ekonomi yang membantu mahasiswa untuk memahami konsep keuangan secara lebih baik. Misalnya, dengan mengadakan seminar atau workshop tentang perencanaan keuangan, sehingga mahasiswa tidak merasa terbebani dengan masalah ekonomi dan terhindar dari godaan menggunakan jalan pintas seperti uang palsu.

Fenomena uang palsu di UIN menunjukkan bahwa masalah ekonomi, sosial, dan moral tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, penting bagi seluruh civitas akademika di UIN untuk saling bergandengan tangan dalam menciptakan lingkungan kampus yang jujur dan berintegritas. Tidak hanya lewat pengajaran akademik, tetapi juga lewat pembentukan karakter yang kuat, mahasiswa UIN harus menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai kejujuran di masyarakat.

Jika kita ingin memastikan bahwa uang palsu tidak berkembang di kalangan mahasiswa UIN, kita harus bekerja sama dalam mengedukasi, menumbuhkan kesadaran, dan memperkuat komitmen untuk bertindak dengan integritas.

Sebagai kampus yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, sudah semestinya kita menghindari praktik-praktik yang merusak tatanan ekonomi dan sosial ini. Kejujuran adalah salah satu fondasi yang membangun kepercayaan. Dan hanya dengan kepercayaan itu, kita dapat membangun masa depan yang lebih baik, tidak hanya untuk kita sendiri, tetapi juga untuk masyarakat luas. (*)

 

Penulis: Lilis Mariana (Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Bulukumba)

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!