OPINI—Program makanan gratis serentak yang dilaksanakan pada Senin, 6 Januari 2024, di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Bulukumba, menjadi sorotan publik.
Program ini disebut-sebut sebagai upaya pemerintah untuk mengurangi angka kelaparan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya bagi kelompok kurang mampu.
Di satu sisi, program ini tampak sebagai langkah progresif dalam mengatasi kerawanan pangan. Namun, di balik niat baik tersebut, muncul pertanyaan mengenai efektivitas, transparansi, dan keberlanjutan program ini.
Langkah Progresif atau Strategi Politis?
Tidak dapat disangkal, program makanan gratis memiliki daya tarik luar biasa, terutama dalam konteks politik elektoral. Kebijakan seperti ini sering kali dipandang sebagai strategi untuk meraih simpati publik menjelang tahun politik.
Sebagai mahasiswa, saya berharap program ini tidak sekadar menjadi alat politik jangka pendek, tetapi benar-benar diarahkan untuk memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat.
Pragmatis, tetapi Apakah Berkelanjutan?
Secara pragmatis, program makanan gratis memberikan dampak langsung: perut kenyang, senyum merekah. Namun, apakah itu cukup? Apakah program ini mampu mengatasi akar masalah kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan ekonomi?
Tanpa sistem yang jelas dan berkelanjutan, program ini hanya akan menjadi solusi sementara, seperti menempelkan plester pada luka yang dalam. Program ini seharusnya dirancang untuk membangun sistem yang mampu menyediakan makanan bergizi, aman, dan tepat sasaran.
Beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian serius adalah rantai distribusi, pengadaan bahan pangan, kualitas gizi, dan pengelolaan anggaran yang transparan.
Pertanyaan penting lainnya: apakah program ini memiliki perencanaan matang terkait sumber pendanaan dan mekanisme distribusinya? Apakah pemerintah daerah memiliki kapasitas untuk memastikan bahwa bantuan ini benar-benar sampai kepada mereka yang berhak?
Distribusi dan Transparansi: Kunci Keberhasilan
Distribusi dan transparansi adalah dua aspek krusial yang sering menjadi tantangan di lapangan. Masalah seperti tumpang tindih data penerima manfaat, korupsi skala kecil, dan minimnya pengawasan kerap menghambat efektivitas program semacam ini.
Di Bulukumba, misalnya, apakah data penerima manfaat telah diperbarui dan diverifikasi dengan baik? Apakah masyarakat lokal, termasuk mahasiswa, dilibatkan secara aktif dalam pengawasan pelaksanaan program ini? Transparansi adalah kunci. Jika program ini hanya menjadi ajang seremonial belaka, tujuan mulianya sulit tercapai.
Dampak Jangka Panjang: Memberdayakan atau Memanjakan?
Makanan gratis tentu bermanfaat dalam kondisi darurat atau bagi kelompok rentan. Namun, pertanyaan utamanya adalah: apakah program ini akan berlanjut di tahun-tahun mendatang, atau hanya menjadi program musiman? Lebih penting lagi, apakah ada langkah lanjutan berupa pemberdayaan ekonomi yang mampu membuat masyarakat mandiri secara finansial?
Memberi makanan mungkin mengatasi kelaparan hari ini, tetapi tanpa program pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan, masyarakat akan tetap berada dalam lingkaran ketergantungan. Jika dikelola dengan baik, program makanan gratis serentak ini berpotensi menjadi tonggak penting dalam upaya pemerintah mengurangi kemiskinan dan kerawanan pangan.
Namun, tanpa pengawasan ketat, transparansi, dan perencanaan yang matang, program ini berisiko menjadi proyek politis tanpa dampak nyata.
Sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bulukumba, saya berharap program ini dapat menjadi contoh keberhasilan kebijakan publik yang benar-benar berpihak kepada masyarakat kecil. Harapan itu hanya bisa terwujud jika semua pihak (pemerintah, masyarakat, mahasiswa, dan pihak terkait) bekerja sama dengan sungguh-sungguh, jauh dari kepentingan sesaat.
Mari kita kawal bersama, bukan hanya dengan sorakan di media sosial, tetapi dengan aksi nyata di lapangan. (*)
Penulis: Putri Afrillia (Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Bulukumba)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.










