OPINI—Generasi khususnya pelajar saat ini tengah mengalami banyak problematika, berupa dekadensi moral yang semakin parah. Mulai dari pemberitaan tentang perundungan, seks bebas yang berujung pada aborsi, narkoba dan sebagainya.
Seharusnya masalah ini menjadi fokus pemerintah untuk mencegah dan menangani secara serius demi mewujudkan generasi emas yang bertakwa dan berakhlak mulia. Sayangnya, hal tersebut belum terealisasi, bahkan pemerintah cenderung terfokus pada moderasi beragama yang dinilai jauh dari akar persoalan generasi.
Sosialisasi dan normalisasi moderasi beragama sudah marak dilakukan oleh instansi pemerintahan periode yang lalu, begitu pula kemungkinan besar akan tetap digaungkan oleh pemerintahan yang menjabat saat ini. Salah satu sasarannya adalah pendidikan yang menjadi lumbung pembentukan kepribadian generasi.
Dilansir dalam Paudpedia.kemdikbud.go.id (11/09/2024), OASE Kabinet Indonesia Maju serukan pentingnya gerakan moderasi beragama sejak anak usia dini di balikpapan. Hingga kini, sebanyak 18 Satuan Pendidikan jenjang pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di empat Kabupaten Kalimantan Timur, telah menjadi pusat penyebaran moderasi beragama.
Pada dasarnya, masifnya penyebaran moderasi ditujukan untuk menangkal radikalisme di kalangan pelajar. Hal tersebut dilakukan agar mereka memiliki profil moderat dalam beragama. Namun faktanya, justru membuat pelajar semakin jauh dari profil kepribadian Islam.
Jika seperti ini akan muncul pertanyaan, Apa Urgensi Moderasi Beragama bagi Pelajar? Maka jawabannya sama sekali tidak urgen bahkan tidak perlu dilakukan. Sebab, moderasi beragama bukan hanya sekedar toleransi beragama, tetapi dapat berkembang menjadi pemikiran yang membenarkan sinkretisme (mencampuradukkan ajaran-ajaran agama), pluralisme (paham yang menganggap semua agama adalah sama), dan humanisme beragama yang jelas bertentangan dengan akidah Islam.
Proyek moderasi beragama bukanlah hasil pemikiran orang Indonesia yang sudah mengenal dan menjaga toleransi sejak dulu. Melainkan salah satu ide yang lahir dari Barat dan berusaha disebarluaskan pada wilayah yang mayoritas muslim. Tujuannya untuk melanggengkan ideologi sekuler kapitalisme.
Sejak dulu, Barat sangat produktif dan menggelontorkan banyak dana dalam menghalau kebangkitan Islam. Beragam agenda telah dilakukan seperti Islamophobia, tuduhan teroris dan radikalisme terhadap Islam dan saat ini sedang gencar sosialisasi moderasi beragama di dunia, agar muslim disibukkan dengan hal yang bertentangan dengan syariat dan jauh dari cita-cita mulianya, mewujudkan kebangkitan Islam.
Hal yang ditakutkan pun terjadi, para pelajar semakin jauh dari nilai-nilai Islam, pemikirannya menjadi liberal, hingga akhlaknya semakin memprihatinkan. Mirisnya, penguasa justru ikut dalam menyebarkan moderasi agama, bahkan terkesan sangat fokus terhadap hal itu, tanpa mempertimbangkan dampak buruk dari agenda Barat ini.
Tampak kekhawatiran negara bukan lagi kerusakan moral remaja, tapi ancaman kebangkitan Islam, sejalan dengan peran gandanya sebagai penjaga sistem sesuai arahan Barat.
Pelajar, tidak membutuhkan materi-materi moderasi beragama. Mereka hanya perlu diajarkan tentang akidah dan syariat secara komprehensif, sehingga memiliki kepribadian (pola pikir dan pola sikap) yang Islami, memiliki akhlak yang mulia sehingga jauh dari kerusakan moral dan mampu menjaga toleransi yang sesungguhnya.
Adapun toleransi yang dibolehkan dalam Islam adalah dengan menghormati dan menghargai sesama manusia dan tetap menjaga akidah Islam. Perbedaan bukanlah penghalang seorang muslim untuk berbuat baik dan berlaku adil, sekalipun terhadap non muslim. Allah Swt. sangat mencintai dan menyayangi orang-orang yang berlaku adil terhadap sesama. Sebagaimana firman Allah SWT.,
“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 13)
Karakteristik pelajar yang diharapkan dalam Islam yaitu mampu menjadi duta Islam dengan memahami dan menerapkan Islam secara menyeluruh dan tidak tidak mengambil pemikiran Barat. Kita menantikan generasi penerus Rasulullah saw. para sahabat dan para mujahidin.
Kita menantikan kebangkitan Islam sebagaimana kegemilangan yang telah diraih selama 14 abad lamanya. Dunia pendidikan yang melahirkan profil generasi muslim yang produktif, tangguh, dan menguasai keilmuwan yang didasari keimanan dan bertakwa kepada Allah Swt. Lahirnya generasi ilmuwan yang memberikan manfaat bagi agama dan kehidupan. Membangun peradaban mulia membutuhkan sistem yang tepat dan hanya mampu dicetak oleh negara yang serius menerapkan syariat Islam secara menyeluruh. Wallahu’alam bish-shawwab. (*)
Penulis: Nurdayanti, S.Pd (Aktivis Muslimah)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.









