Baca, Bencana, dan Membaca Bencana

Baca, Bencana, dan Membaca Bencana
Habibah Auni. (foto: pribadi)

OPINI – Saban hari tidak ada gelagat siapapun yang berubah. Seperti biasa, membuka lembaran hari di saat fajar menyingsing, lalu menutup halaman terakhir tatkala puncak purnama. Lalu buku itu menceritakan apa, tanyamu? Isi dari buku itu kurang lebih mengisahkan perjalanan seorang gadis anonim di dalam ‘dunianya’.

Imaji sang gadis terasah bagai pedang yang ditempa, begitu dirinya menyelami ruang maya di gawainya. Sebut saja dengan namanya langsung, Youtube dan Instagram.

Buku berikutnya pun kurang lebih sama persis dengan jilid pertamanya, memuat cerita rutinitas sang gadis anonim. Mulai dari bangun tidur, memainkan gawai hingga malam menggumpal, setelahnya tidur di kasur yang empuk.

Tentu saja sebagai pencipta buku-bukunya sendiri, gadis itu tidak pernah bosan dengan pola ‘ceritanya’. Namun bukan berarti sang gadis merasa segudang ‘karyanya’ itu baik-baik saja, justru dirinya pribadi berpikir ada yang janggal. “Kayaknya kurang bumbu?” gumamnya.

Waktu demi waktu telah berlalu, hingga akhirnya sang gadis menyadari suatu hal. ‘Kurang bumbu’ yang telah direnungi sang gadis saat masa lampau, akhirnya terkuak.

Berawal dari sebuah pertanyaan temannya yang berbunyi, “Apakah kamu membaca selama bencana Covid-19?”. Satu dua patah kata itu tak elak menyihir pemahaman gadis itu. Bahwa sejatinya yang kurang dari hidupnya adalah kegiatan membaca.

Berita Lainnya

Mungkin kata membaca tidak terlintas di dalam pikiran sang gadis, apalagi kegiatan membaca. Bukan hal yang memalukan, mengingat godaan gawai begitu besar. Ini pun bisa saja tidak terjadi hanya pada sang gadis semata, melainkan berhimpun manusia lainnya.

Lihat Juga:  Polemik KDRT: Tindak Kriminal atau Mendidik Istri

Sejak diterapkannya social distancing yang disusul dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sejagat manusia dipaksakan untuk merumahkan dirinya selama 24 jam penuh.

Pekerjaan yang awalnya mengharuskan pertemuan tatap muka, berganti alih menjadi pertemuan antar muka berbasis daring. Konsekuensinya, penggunaan media daring akan mengalami lonjakan yang begitu pesat.

Hal ini diperkuat dengan catatan dari Kantar, organisasi global yang bergerak di data digital, yang mana menyebutkan telah terjadinya peningkatan penggunaan media sosial sepanjang bencana Covid-19 menerjang.

Misalnya di Spanyol, penggunaan Whatsapp menlonjak sebesar 76%. Begitu pula dengan Facebook dan Instagram yang meningkat sebanyak 40%.

Lantas, apa kaitannya penggunan teknologi dengan aktivitas membaca? Agaknya pendapat Ketua Forum Komunikasi Taman Baca Masyarakat Malang Raya (FKTBM), Santoso Mahargono, dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Sebab menurut Santoso, tantangan minat baca (terutama anak-anak), dikarenakan pemakaian gawai berlebihan.

Menurut Schmar – Dobler (2003) dalam jurnalnya yang berjudul Reading on the Internet: The Link between Literacy and Technology, pemakai internet memerlukan waktu lebih banyak dalam mengolah informasi yang banjir disajikan.

Terlebih lagi konten-konten dalam internet, seperti grafik dengan warna yang mencolok, kerap mendistraksi pembaca ketika sedang membedah kata demi kata.

Sehingga setali tiga uang dengan Koskimaa (2003), orang-orang lebih memilih menyelami halaman internet dibandingkan membaca buku.

Pernyataan Koskimaa ini diperkuat dengan survei yang dilakukan oleh The Chinese Research Institute of Publishing Science terhadap sejumlah orang.

Dari jajak ini, ditemukan bahwa rata-rata orang yang membaca buku ada: (1) 60,4% pada tahun 1999, (2) 51,7% pada tahun 2003, dan (3) 48,7% pada tahun 2005.

Sedangkan aktivitas membaca halaman internet, diketahui meningkat setiap tahunnya dimana: (1) 3,7% pada tahun 1999, (2) 18,3% pada tahun 2003, dan (3) 27,8% pada tahun 2005.

Lihat Juga:  Vaksin Covid-19 menjadi solusi!?

Akibatnya, bencana Covid-19 bisa saja dalam kasus terburuknya memberi bencana baru, yakni bencana dalam dunia literasi.

Bencana itu antara lain menutup kemauan manusia-manusia untuk membaca buku, lantaran disibukkan dengan konten-konten unik di internet.

Mengutip pendapat seorang Akademisi, Rudyanti Tobing, yang menggarisbawahi banyaknya waktu yang digunakan sebagian masyarakat pengguna media sosial di dunia maya dibandingkan membaca buku.

UNESCO sebelumnya sudah menyebutkan bahwa Indonesia berada di urutan kedua dari bawah soal literasi sedunia.

Selanjutnya, UNESCO juga memaparkan data mengenai minat baca masyarakat Indonesia yang sangat memprihatinkan.

Bagaimana tidak? Minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Implikasinya, ditetapkannya PSBB berkontribusi negatif terhadap angka ini. Tentu saja semua orang tidak berharap skenario terburuk ini terjadi.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengambil langkah-langkah konkrit untuk memajukan literasi bangsa.

Kegiatan yang sekarang beralih ke dalam genggaman gawai, sudah seharusnya dipandang sebagai peluang terbaik yang tidak bisa dilewatkan.

Memajukan literasi dewasa ini bisa disalurkan melalui kampanye daring. Tagar menjadi cara yang efektif untuk mempropaganda apa yang diinginkan oleh kita.

Tagar yang di-twit berkali-kali, mampu menggerakkan alam bawah sadar objek kita agar mau membaca buku.

Selain itu, atau komunitas-komunitas literasi bisa mengadakan event-event yang memacu kegiatan membaca buku.

Misalnya dengan membuat grup whatsapp baru yang mewajibkan anggota-anggotanya untuk membaca satu buku satu hari selama sebulan.

Anggota yang berhasil menyelesaikan tersebut, alangkah baiknya diberikan penghargaan dari grup whatsapp tersebut.

Tentu saja sumber dana untuk memberikan penghargaan tersebut didapatkan dari uang pendaftaran mengikuti program membaca.

Di sini, pemerintah atau pihak swasta bisa bahu-membahu dalam memberikan bansos berupa bahan pokok yang di dalamnya ada buku pula.

Lihat Juga:  Revolusi Akhlak Lahir Dari Revolusi Sistem?

Sebagai contoh, Yayasan asal Situbondo menyerahkan paket sembako dan buku-buku kepada warga Sempol, Bondowoso. Tentu saja langkah ini patut diacungi jempol dan diteladani.

Memang minat baca Indonesia mengundang pekerjaan rumah yang banyak untuk segera diperbaiki.

Bencana Covid-19 pun berpotensi mengundang bencana lainnya. Namun alangkah baiknya, kita membaca bencana ini dengan framing yang berbeda. Pandanglah bencana Covid-19 sebagai kesempatan memajukan literasi bangsa!. (*)


Penulis: Habibah Auni (Universitas Gadjah Mada/ Kepala Departemen Pendidikan Perhimpunan Mahasiswa Cendekia)

Simak Juga:

Berita terkait