OPINI—Terkuaknya fenomena boneka arwah yang bermula dari pengungkapan seorang artis menjadi penutup berita viral tahun 2021.

Banyak dari kita mungkin terheran-heran dengan fakta ini. Bagaimana mungkin sebentuk boneka yang biasanya kita kenal sebagai mainan anak-anak, bisa dianggap dan diperlakukan seperti bayi/anak sungguhan. Mereka diberikan makanan, minuman, pakaian, tempat tidur, digendong seperti bayi, bahkan diajak jalan-jalan.

Jujur, fenomena ini membuat kita mempertanyakan kembali akal sehat mereka yang mengadopsinya.

Ironis, disaat kita dihadapkan pada banyaknya anak-anak yatim dan terlantar efek Pandemi, sebagian orang lebih memilih mengadopsi boneka.

Asal-Muasal Boneka Arwah

Tradisi mengadopsi boneka arwah ini ternyata berasal dari Thailand. Mereka menyebut boneka berbentuk anak-anak itu Luk Thep atau anak dewa.

Penduduk Thailand percaya bahwa Luk Thep merupakan boneka yang dirasuki atau dihuni roh-roh pembawa keberuntungan dan kemakmuran di masa depan. Oleh sebab itu, mereka yang memiliki Luk Thep akan diperlakukan selayaknya bayi atau anak manusia. (Kumparan.com)

Tradisi Luk Thep ini rupanya menyebar ke berbagai negara termasuk Indonesia. Sebagian dari mereka yang mengadopsi percaya boneka arwah itu mendatangkan ketenangan, kebahagiaan dan keberuntungan. Sehingga mereka berusaha menjaga dan merawatnya.

Boneka arwah bukan boneka biasa. Mereka percaya didalam boneka itu ada spirit dari anak-anak yang telah meninggal dengan cara yang tidak wajar (gentayangan), sehingga harus dibimbing untuk menuju Tuhan, menurut @furiharun salah seorang kolektor boneka arwah ini.

Terkait arwah (ruh) maka Islam memandang arwah seseorang yang telah meninggal berada dalam genggaman Allah SWT sejak ia meninggal hingga hari kebangkitan. Terlepas apakah kematiannya wajar atau tidak. Jadi, tidak ada istilah “arwah gentayangan” dalam pandangan Islam. Arwah (ruh) itu kelak akan dikembalikan pada jasadnya saat manusia dibangkitkan di Yaumil Hisab.

Pandangan Islam

Secara umum, Islam membolehkan “boneka” sebagai sarana bermain bagi anak-anak. Hal ini dijelaskan dalam hadist Rasulullah Saw yang menceritakan bahwasanya Bunda Aisyah Ra juga bermain boneka saat masih kecil.

Diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata, “Aku memiliki mainan boneka di rumah Nabi, aku bermain bersama anak-anak wanita yang lain di rumah Nabi. Bila Nabi masuk ke dalam rumah maka anak-anak wanita itu pun bersembunyi, lalu bermain bersamaku“. (HR Al-Bukhari)

Namun, Islam melarang membuat gambar/patung makhluk yang bernyawa selain yang diperuntukkan bagi mainan anak-anak. Sabda Nabi saw, ”Setiap penggambar [makhluk bernyawa] akan masuk neraka.” (HR Muslim, no 2110).

Larangan menggambar/membuat patung menyerupai makhluk yang bernyawa ini bersifat mutlak tanpa adanya illat (alasan penetapan hukum).

Sebagaimana yang disampaikan Syekh Taqiyuddin An-Nabhani bahwasanya, “Hadits-hadits yang datang untuk menjelaskan keharaman menggambar tidaklah mengandung illat (alasan penetapan hukum), dan tidak terdapat alasan haramnya menggambar dengan illat apa pun”. (Al Syakhshiyyah Al Islamiyyah, 2/351).

Jadi, menggambar atau membuat patung makhluk yang bernyawa seperti manusia atau hewan, hukumnya haram, baik untuk disembah maupun tidak untuk disembah. Termasuk diantaranya boneka arwah ini, kecuali yang diperuntukkan bagi mainan anak-anak.

Rusaknya Aqidah Ummat

Mempercayai sebuah boneka bisa mendatangkan ketenangan, kebahagiaan, dan keberuntungan adalah aktifitas musyrik (menyekutukan/menyamakan Allah SWT dengan makhluk lain) yang diharamkan dalam Islam. Hal ini tidak hanya berlaku pada boneka, tapi pada benda apapun yang dipercaya bisa memberi kebaikan, dimintai pertolongan atau penjagaan.

Islam mengajarkan kepada kita untuk menggantungkan segala urusan hanya kepada Allah SWT. Hal ini jelas dalam firman Allah SWT QS Al-Ikhlas ayat 1-2 yang artinya: “Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah yang Maha Esa, Allah tempat meminta segala sesuatu”.

Fenomena boneka arwah ini menunjukkan rusaknya Aqidah Ummat. Hal ini terjadi karena kurangnya keinginan ummat untuk memahami ajaran Islam lebih dalam. Bisa juga karena kecenderungan mengikuti sesuatu yang sedang trend tanpa mencari tau lebih jauh status hukumnya dalam pandangan Islam. Oleh karenanya, sangat penting bagi ummat Islam untuk mendalami ajaran Islam dan berusaha untuk mengamalkan dalam kehidupan.

Proses pembelajaran Islam yang terbaik bisa dimulai sedini mungkin dari rumah bersama orang tua. Orang tua mempelajari Islam kemudian mengajarkan kepada anak-anaknya sehingga mereka memiliki bekal agama yang kuat sejak dini untuk menghadapi tantangan zaman.

Namun, tak kalah penting adalah peran negara dalam menjaga Aqidah Ummat. Menjauhkan ummat dari berbagai upaya pendangkalan aqidah. Merespon dengan cepat setiap fenomena yang berpotensi merusak aqidah ummat. Menyiapkan sistem pendidikan yang membangun kokohnya pondasi aqidah ummat sehingga ummat tak akan mudah terprovokasi mengikuti trend yang merusak aqidah mereka.

Menciptakan suasana keimanan ditengah ummat dengan menerapkan aturan-aturan yang berlandaskan syari’at Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan. Dengan demikian akan tercipta masyarakat yang kuat keimanannya dan jauh dari kesyirikan. Wallahu’alam bish shawab. (*)

Penulis: Syifaiyah, SKM (Pengamat Sosial, Pencinta Literasi, Anggota Spirit Nabawiyah Comunity)

***

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.