PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Kementan Siapkan 2 Juta Hektare untuk Bioetanol, Target 8 Juta Lapangan KerjaDisperkim Makassar Dorong Warga Wujudkan Rumah Sehat hingga Tingkat RTKPK Kembali OTT Kepala Daerah, Bupati Bolmut DiamankanBansos Masuk Era Digital, Gus Ipul Kerahkan Tetangga Jadi Mata Data PemerintahKecamatan Manggala Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di BatuaAppi Minta Dunia Pendidikan Makassar Tak Gagap Hadapi Era AI, Karakter Tetap Jadi PeganganPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Kementan Siapkan 2 Juta Hektare untuk Bioetanol, Target 8 Juta Lapangan KerjaDisperkim Makassar Dorong Warga Wujudkan Rumah Sehat hingga Tingkat RTKPK Kembali OTT Kepala Daerah, Bupati Bolmut DiamankanBansos Masuk Era Digital, Gus Ipul Kerahkan Tetangga Jadi Mata Data PemerintahKecamatan Manggala Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di BatuaAppi Minta Dunia Pendidikan Makassar Tak Gagap Hadapi Era AI, Karakter Tetap Jadi Pegangan
Nasional

Kementan Siapkan 2 Juta Hektare untuk Bioetanol, Target 8 Juta Lapangan Kerja

5
×

Kementan Siapkan 2 Juta Hektare untuk Bioetanol, Target 8 Juta Lapangan Kerja

Sebarkan artikel ini
Mentan Andi Amran

JAKARTA — Pemerintah mulai menggeber pengembangan bioetanol nasional. Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan pengembangan lahan hingga 2 juta hektare untuk menopang industri bahan bakar alternatif berbasis pertanian.

Tiga komoditas menjadi andalan, yakni tebu, ubi kayu atau singkong, dan jagung. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut pembangunan industri bioetanol harus dimulai dari kepastian bahan baku.

“Etanol ini butuh lahan 1 sampai 2 juta hektare dengan tiga komoditas strategis. Insyaallah kita akan bangun pabriknya, kita gerakkan masif seluruh Indonesia,” ujar Amran usai memimpin Rapat Program Khusus Pengembangan Bioetanol bersama 44 bupati di Jakarta, Senin (21/9/2026).

Menurut Amran, setiap daerah akan diarahkan mengembangkan komoditas sesuai potensi lahannya. Tebu menjadi salah satu prioritas utama, sementara singkong dan jagung dikembangkan pada wilayah yang memiliki kesesuaian lahan dan produktivitas tinggi.

“Ini cetak tebu, tanam tebu, tanam ubi, tanam jagung. Kita jadikan etanol,” tegasnya.

Kementan juga menyiapkan skema investasi dengan melibatkan BUMN dan swasta. Pemerintah akan berperan dalam menyiapkan kawasan produksi, sedangkan pembangunan industri dapat diperkuat melalui investasi swasta.

“Anggarannya mungkin 30 persen dari BUMN, 70 persen dari swasta dan pasti swasta mau karena tanahnya disiapkan oleh negara,” kata Amran.

Namun, pemerintah menegaskan pengembangan industri tidak boleh hanya menguntungkan korporasi. Masyarakat harus mendapat porsi dalam pertumbuhan kawasan pertanian dan industri tersebut melalui skema kemitraan.

“Ini tidak boleh monopoli, minimal 30 persen rakyat. Jadi rakyat menikmati. Sekarang nggak boleh di bawah 20, harus 30 persen untuk rakyat. Harus tumbuh bersama kalau negara mau kuat,” ujarnya.

Untuk tahap awal, Kementan akan menguji pengembangan jagung di daerah yang menyatakan kesiapan. Setiap kabupaten dapat memperoleh dukungan awal sekitar 500 hingga 1.000 hektare, kemudian diperluas hingga 1.500 hektare jika produksi menunjukkan hasil baik.

“Nanti kita lihat hasilnya. 1.000 hektare untuk setiap bupati yang datang. Kita lihat jagungnya yang tanamannya bagus, produksinya tinggi, saya akan tambah di Januari,” jelas Amran.

Pemerintah juga menyiapkan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk memperkuat produktivitas. Sementara untuk tebu, skala pengembangannya jauh lebih besar dengan kebutuhan mencapai 1 juta hektare.

“Yang paling penting adalah tebu. Kita butuh 1 juta hektare. Tadi sudah dihadiri oleh Pak Dirjen dari Kehutanan Planologi, kemudian Deputi dari BUMN. Kita akan bergerak bersama,” katanya.

Dalam penyiapan lahan, pemerintah menyatakan aspek legalitas dan lingkungan tetap menjadi perhatian. Kawasan yang sesuai secara teknis akan dikaji terlebih dahulu, termasuk lahan yang dapat diarahkan untuk agroforestri, tanaman pangan maupun lahan yang telah dilepaskan. Pelepasan kawasan hutan disebut menjadi opsi terakhir.

“Pokoknya kita jaga lingkungan, tetapi kita juga menjadi swasembada energi atau berdaulat energi,” tegas Amran.

Program ini juga diproyeksikan menciptakan rantai ekonomi baru dari hulu hingga hilir. Mulai dari budidaya komoditas, pengolahan hasil, pembangunan industri hingga aktivitas ekonomi masyarakat akan terhubung dalam satu ekosistem.

“Kalau ini terjadi, minimal itu 8 juta tenaga kerja tercipta dan tenaga kerja permanen,” ujarnya.

Dari sisi bauran energi, pemerintah menargetkan peningkatan penggunaan etanol secara bertahap. Skemanya diarahkan dari E5, E10 hingga E20 pada 2029, dengan peluang peningkatan lebih lanjut menuju E40 pada 2030–2031 seiring kesiapan bahan baku dan industri.

Untuk mempercepat program, Kementan telah mengonsolidasikan 44 bupati dari berbagai daerah. Pemerintah daerah diminta memetakan potensi lahan, komoditas, serta kesiapan wilayah untuk membangun rantai pasok bioetanol nasional.

Amran menegaskan bioetanol merupakan bagian dari agenda besar pemerintah untuk memperkuat kedaulatan energi sekaligus mengoptimalkan kekuatan sektor pertanian dalam negeri.

“Intinya adalah bagaimana kita berdaulat energi, pangan, protein. Insyaallah Indonesia menjadi negara besar, negara superpower ke depan,” pungkasnya. (70n/Ag4ys)

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Kirim Komentar

📢 Mohon utamakan adab, etika, dan sopan santun dalam berkomentar. Semua komentar akan melewati proses moderasi sebelum diterbitkan.

Konten dilindungi © Mediasulsel.com