Beranda ยป Dunia ยป Buntut Kasus Khashoggi, Perusahaan Teknologi Amerika Kaji Ulang Investasi Saudi
Buntut Kasus Khashoggi, Perusahaan Teknologi Amerika Kaji Ulang Investasi Saudi
Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Mohammed bin Salman (tengah) dan Raja Yordania Abdullah II (kedua dari kiri) menghadiri konferensi Inisiatif Investasi Masa Depan di Riyadh, Arab Saudi, Selasa, 23 Oktober 2018.
Dunia

Buntut Kasus Khashoggi, Perusahaan Teknologi Amerika Kaji Ulang Investasi Saudi

DUNIA – Kontroversi yang disebabkan pembunuhan wartawan Arab Saudi Jamal Khashoggi telah menyorot hubungan keuangan yang kuat antara pusat teknologi Amerika di Silicon Valley dengan negara pengekspor minyak terbesar itu.

Dalam dunia perusahaan rintisan, penanaman modal Saudi memainkan peran penting untuk mendorong pertumbuhan cepat perusahaan teknologi tanpa harus memikirkan keuntungan yang bisa didapat segera.

Hubungan itu semakin kuat dengan semakin berkuasanya Putra Mahkota Mohammed bin Salman, putra raja Arab Saudi.

Public investment fund atau Dana investasi kerajaan Saudi telah menanam modal $3,5 miliar dalam perusahaan taksi online Uber.

Arab Saudi juga menggelontorkan lebih dari $1 miliar ke dalam perusahaan rintisan di California yang sedang mengembangkan mobil listrik, dan $400 juta ke Magic Leap, perusahaan yang bergerak dalam teknologi realita tertambah di negara bagian Florida.

Hampir separuh dana bank Jepang, Softbank, datang dari Arab Saudi.

Kini, karena adanya awan gelap yang sedang membayangi putra mahkota itu, rencana Softbank untuk memperluas usahanya mungkin terhenti, dan dana Saudi mungkin akan sulit mendapat tempat di Silicon Valley, karena banyaknya perusahaan yang bersaing untuk mendapatkan pekerja yang berbakat dan para pelanggan baru.

Tapi bukan hanya uang Saudi yang mendorong perkembangan di Silicon Valley.

Kira-kira 20 perusahaan rintisan disana punya hubungan dengan pendanaan dari pemerintah China, kata kantor berita Reuters.

Ini menimbulkan kekhawatiran bahwa teknologi maju seperti intelijen buatan nantinya akan berpindah ke China.

Pemerintah Rusia juga tampaknya ikut mendanai perusahaan rintisan dan punya saham dalam Twitter dan Facebook. [VOA/shar]