MEDIASULSEL.COM—Dulu, saya punya sahabat dekat, seorang pejabat eksekutif. Kami sering bertemu, berbincang, bahkan terkadang terlalu larut dalam obrolan. Saking akrabnya, ia kerap meminta agar berkas-berkas penting yang perlu ditandatangani dibawa langsung ke tempat kami biasa mengobrol.
Bahkan, orang-orang yang ingin bertemu dengannya pun kadang harus ikut nimbrung di sana. Suasana informal, tapi itulah cara dia bekerja.
Yang unik, kalau dia kebetulan menerima “amplop”, tanpa hitung panjang lebar, langsung dibagi dua.
“Ini rezeki, Pak Andi. Silakan pilih,” katanya sambil menyodorkan dua tumpukan uang yang sudah dia pisah rapi.
Dia meyakinkan bahwa itu pemberian ikhlas, bukan permintaan.
Dalam setiap pertemuan, ada satu hal yang cukup mengganggu—setidaknya bagi saya. Saya perokok berat, sementara dia tidak merokok sama sekali. Tapi hebatnya, ia tak pernah menegur. Tak ada ekspresi tak nyaman, tak ada sindiran. Ia benar-benar sahabat yang tahu cara menjaga suasana.
Pernah, saya penasaran dan bertanya, “Kenapa tidak merokok?”
Jawabannya sederhana namun mengena:
“Mobil saja kalau keluar asap terus bisa rusak. Apalagi manusia yang sengaja memasukkan asap ke dalam tubuhnya.”
Kalimat itu singkat, padat, dan entah kenapa terus terngiang di kepala saya. Sejak saat itu, saya putuskan: saya harus berhenti merokok.
Alhamdulillah, sudah hampir delapan tahun saya bebas dari rokok. Anehnya, sahabat itu tak pernah menanyakan alasan saya berhenti. Mungkin baru sekarang, lewat catatan ini, dia tahu bahwa dirinya punya andil besar.
Terima kasih, sahabatku. Engkau orang baik. Banyak yang bertanya bagaimana saya bisa berhenti merokok. Jawaban saya selalu sederhana: Tergantung anda sendiri. Mau atau tidak.
Yes or not. 🙏🏻👍. (*)
Penulis: Andi Pasamangi Wawo


















