Diinisiasi SYL, Bandara Buntu Kunik & Jalan Tol Layang AP Pettarani Diresmikan Jokowi

Resmikan Bandara Buntu Kunik, Presiden harap bisa semakin meningkatkan kunjungan Wisatawan
Presiden Joko Widodo meresmikan Bandara Buntu Kunik didampingi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Plt Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman yang ditandai dengan pemukulan gendang Toraja dan penandatanganan prasasti, Kamis 18 Maret 2021. 

MAKASSAR—Dua proyek prestisius yang diinisiasi oleh Syahrul Yasin Limpo (SYL) saat menjabat Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), diresmikan oleh Presiden Jokowi. Yakni Bandara Buntu Kunik Tana Toraja, dan Jalan Tol Layang AP Pettarani.

Bandara Buntu Kunik Tana Toraja, dirintis sejak tahun 2010. Pembangunan bandara ini dilatarbelakangi oleh perencanaan pengembangan industri pariwisata di Toraja.

Destinasi Toraja akan semakin berkembang jika bandara Buntu Kunik sudah rampung, sebab selama ini animo wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Toraja sangat besar, hanya karena sulitnya akses lewat udara, mereka terpaksa berpaling ke daerah tujuan wisata lain.

Syahrul YL pernah merintis pengembangan pariwisata yang berakses dari Bali ke Toraja, menandatangani naskah kesepakatan dan perjanjian kerja sama kebudayaan dan pariwisata dengan Gubernur Bali I Made Mangku Pastika, di Denpasar.

Sayangnya, wisatawan umumnya mengeluh untuk berkunjung ke Toraja. Sebab dari Bali, mereka harus ke Bandara Sultan Hasanuddin, lalu menempuh perjalanan darat yang melelahkan sejauh lebih 320 kilometer.

Kuncinya adalah bandara, harus segera diselesaikan. Paling tidak, tersedia bandara yang dapat didarati pesawat boeing, sehingga wisatawan dari Bali bisa lanjut ke Toraja.

Baca Juga

Untuk pembangunan bandara ini, tentu tidak mudah. Syahrul harus bolak balik menemui Menteri Perhubungan ketika itu. Hingga akhirnya disepakati, pemerintah pusat mendanai bandara tersebut, sedangkan pembebasan lahannya oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Tana Toraja.

Tantangan lainnya, lokasi bandara Buntu Kunik ini tidak seperti bandara lain. Topografinya agak rumit karena harus membelah gunung, menimbun dan meratakan untuk mendapatkan luasan lahan seperti yang direncanakan yaitu 141 hektare (ha).

Kini, bandara yang dirintis sejak kepemimpinan Syahrul sebagai Gubernur Sulsel, akan diresmikan Presiden Jokowi.

Bandara ini memiliki panjang landasan pacu pada tahap awal 1.600 meter yang bisa didarati pesawat jenis ATR, kemudian apron seluas 94,5 x 67 meter dan taxiway 124,5 x 15 meter. Sedangkan luas bangunan terminal sekitar 1.000 meter persegi yang mampu menampung 150 penumpang.

Pada tahun 2018, pembangunan tahap I dilanjutkan oleh pemerintah pusat hingga akhirnya rampung pada pertengahan 2020. Pesawat milik maskapai Wings Air menjadi pesawat komersial pertama yang mendarat di Bandara Toraja pada 20 Agustus 2020. Pendaratan pesawat jenis ATR/72-600 itu dilakukan usai uji coba lintasan dengan pesawat jenis kalibrasi Hawker 900 XP milik Kementerian Perhubungan pada pekan sebelumnya.

Untuk pembangunan pada tahap selanjutnya, akan dilakukan perpanjangan runway hingga 2.000 meter, sehingga ditargetkan pesawat berkapasitas besar seperti Boeing 737 dapat mendarat di Bandara Buntu Kunik.

Sementara, pembangunan jalan Tol layang AP Pettarani sepanjang 4,3 km merupakan proyek investasi senilai Rp 2,243 triliun dengan melibatkan 2.000 lebih pekerja. Jalan Tol itu merupakan perpanjangan dari Jalan Tol Seksi I dan II serta tidak ada penambahan gerbang tol baru.

Megaproyek ini digroundbreaking oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, didampingi Syahrul pada Oktober 2017. Untuk mewujudkan proyek ini, juga tidaklah mudah. Bolak balik Jakarta, hingga Syahrul pernah tertidur di kursi bandara karena kelelahan.

Menurut Syahrul, jalan tol ini sangat penting karena jalan AP Pettarani sudah sangat macet, dan tidak mampu lagi mengimbangi pertumbuhan jumlah kendaraan di Makassar ketika itu. Jalan tol ini juga sudah dirancang terkoneksi dengan sejumlah titik ketika itu.

“Perjuangan membangun bandara Buntu Kunik dan Jalan Tol Layang Pettarani adalah bukti bahwa kita mampu menghadirkan peradaban baru. Walaupun perjuangan ini begitu panjang dan berat,” kata Syahrul, yang saat ini menjabat Menteri Pertanian RI. (*)

Berita Terkait