OPINI—Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis pertumbuhan ekonomi triwulan I tahun 2021 serentak di seluruh propinsi, termasuk Sulawesi Selatan. Setelah mencatatkan kontraksi pertumbuhan ekonomi diangka -0,70 persen sepanjang tahun 2020, kontraksi ekonomi ternyata masih berlanjut di tahun 2021.

BPS mencatat, sepanjang triwulan I tahun 2021, ekonomi sulsel  tumbuh -0,21 persen (year -on-year). Ini artinya, bayang-bayang dampak ekonomi dari Covid-19 masih berlanjut hingga saat ini. Kondisi yang dialami oleh Sulsel juga sejalan dengan kondisi ekonomi nasional yang masih mencatatkan pertumbuhan negatif di angka -0,74 persen (year -on-year).

Dari empat sektor utama yang menopang ekonomi Sulsel, hanya sektor pertanian yang mencatatkan progres pemulihan yang menggembirakan, pada triwulan I ini pertanian mampu tumbuh 7,14 persen, selebihnya masih tumbuh negatif baik industri pengolahan, perdagangan, maupun konstruksi.

Harus Bagaimana?

Melemahnya ekonomi selama setahun ini punya karakteristik penyebab yang sangat berbeda dengan krisis ekonomi yang terjadi di tahun 1997/1998 karena jatuhnya nilai tukar rupiah dan masalah ekonomi global di tahun 2008 karena kolapsnya sistem keuangan AS dan Eropa.

Kontraksi ekonomi beberapa triwulan terakhir dominan disebabkan oleh pembatasan aktifitas kegiatan masyarakat, baik itu yang skalanya besar maupun yang skalanya mikro, termasuk terbatasnya aktivitas kegiatan yang juga terjadi di negara-negara lain yang berimbas pada menurunnya volume perdagangan dunia.

Pembatasan ini telah menyebabkan berkurangnya supply (penawaran) dan demand (permintaan) secara bersamaan, akibatnya banyak usaha yang terpaksa mengurangi kapasitas usaha atau produksi, tutup sementara, maupun tutup permanen.

Apa yang harus dilakukan?

Pertama, pengendalian Covid-19 tetap menjadi prioritas, jumlah kasus Covid-19 harian adalah indikator penting, semakin tidak terkendali, semakin sulit masyarakat menjalankan aktivitas ekonomi baik karena pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah maupun inisiatif masyarakat itu sendiri untuk tetap di rumah. Oleh karena itu, tracking, tracing, dan testing harus terus dilakukan, meski jumlah kasus aktif sebulan terakhir menunjukkan penurunan tetapi tren kasus aktif terutama di beberapa negara di dunia menunjukkan kenaikan.

Kedua, Covid-19 hingga saat ini belum menemukan titik akhir sementara masyarakat butuh pekerjaan untuk kelangsungan hidup sehari-hari, maka aktifitas ekonomi mau tidak mau harus berjalan, ekonomi merupakan satu kesatuan sirkulasi yang terus berputar, produksi akan meningkat jika permintaan juga meningkat, peningkatan produksi selanjutnya meningkatkan kembali pendapatan dari mereka yang bekerja. Menerapkan Protokol kesehatan utamanya fasilitas publik dan lokasi objek wisata mutlak diperlukan, dengan dua poin di atas, sisi kesehatan dan ekonomi pada akhirnya bisa berjalan beriringan meski tidak semaksimal pada kondisi normal sebelum pandemic.

Ketiga, dalam banyak krisis ekonomi yang pernah terjadi di dunia, termasuk Great Depression yang pernah terjadi di Amerika, peran pemerintah sangat penting menentukan kecepatan pemulihan ekonomi, disaat daya beli masyarakat melemah karena penurunan kapasitas produksi hingga pengangguran karena tutupnya berbagai usaha, maka belanja pemerintah bisa menjadi penopang bahkan menjadi katalisator dalam memulihkan ekonomi melalui sisi demand (permintaan).

Kita menanti kinerja ekonomi triwulan II, di triwulan ini dampak program vaksinasi dan berbagai program stimulus seperti yang dilakukan di sektor otomotif dan properti diharapkan mulai terlihat, harapannya pemulihan ekonomi berjalan lebih baik dibandingkan triwulan I dan berlanjut hingga akhir tahun 2021. (*)

Penulis: Arya Yahya, S.ST., M.Ec.Dev. (Statistisi Pertama di Badan Pusat Statistik)