Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Hari Pendidikan Nasional: Mampukah Merdeka Belajar Mewujudkan Generasi Pembawa Perubahan?

724
×

Hari Pendidikan Nasional: Mampukah Merdeka Belajar Mewujudkan Generasi Pembawa Perubahan?

Sebarkan artikel ini
Hari Pendidikan Nasional: Mampukah Merdeka Belajar Mewujudkan Generasi Pembawa Perubahan?

OPINI—Pendidikan merupakan aspek terpenting yang harus menjadi perhatian utama. Pendidikan dapat menjadi kunci membuka pintu kesempatan untuk bisa melakukan perubahan. Perayaan Hari Pendidikan Nasional sebagai ajang mengevaluasi dan memperkuat implementasi kurikulum pembelajaran.

Seiring peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2024, bulan Mei tahun 2024 juga dicanangkan sebagai bulan Merdeka Belajar (kompas.com)

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Kemendikbud Ristek akan segera mengesahkan Kurikulum Merdeka sebagai Kurikulum Nasional (Kurnas) (detik edu.com). Apakah solusi merdeka belajar mampu menghasilkan cetakan generasi yang membawa perubahan?

Seberapa Hebat Merdeka Belajar Menjawab Problematik Pendidikan?

Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum nasional 2024 dianggap masih belum memberi kejelasan sebagai kurikulum. Dalam realitanya implementasi kurikulum tersebut belum memberikan hasil yang sesuai, di mana masih banyak polemik dalam pendidikan yang terus berulang dan mengancam dunia pendidikan, seperti 4 kasus bullying yang viral sepekan terakhir, remaja diinjak-injak, siswa SD ditelanjangi dan ditendang (Tribunnews.com).

Inilah salah satu potret buramnya pendidikan, dan berbagai kompleksitas lainnya belum mendapat solusi paten. Guru maupun siswa melakukan berbagai kemaksiatan dan kejahatan serta pelanggaran hukum.

Tak sedikit pendidik yang secara langsung terlibat dalam kasus kekerasan fisik di sekolah, bahkan kasus pelecehan oleh oknum guru pun nyaris adanya. begitupun dalam kondisi sebaliknya, di mana ada kasus siswa yang ditangkap polisi karena menganiaya gurunya (republika.com). Institusi pendidikan tak lagi menjadi tempat yang aman untuk belajar.

Dalam kurikulum merdeka peserta didik diarahkan hanya kepada kompetensi/daya saing atas sesuatu yang bersifat materi, namun melupakan aspek pembinaan agama/mental. Makanya capaian belajar di atas kertas meningkat namun tak selaras dengan capaian karakter dan kepribadian akhlak pada diri generasi yang masih sangat jauh dari harapan.

Kurikulum Merdeka justru akan menguatkan sekularisme dan kapitalisme dalam kehidupan. Alih-alih mau memfokuskan pada pendidikan karakter sebagai slogan pergantian kurikulum yang senantiasa dirombak, malah melahirkan generasi yang buruk kepribadiannya, dan menjadikan generasi terjajah budaya Barat yang rusak dan merusak. Pendidikan dalam sistem yang sekuler tak mampu menciptakan generasi yang berjiwa pemimpin lagi, paradigma pendidikan justru tak berkiprah lagi pada asas pendidikan itu sendiri.

Tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara yakni ada dua yaitu kebahagian dan keselamatan. Dengan pendidikan seharusnya memberi ilmu yang dapat menyelamatkan manusia dari perbudakan sistem kapitalisme saat ini. Bukan hanya sekedar menggeluti pendidikan sebab terselubung kepentingan atau hanya sekadar mengejar materi semata.

Tapi membangun peradaban yang gemilang sebagai pencetus perubahan yang hakiki. Merdeka belajar tak akan mampu membentuk cetakan generasi eksis dengan kepribadian berkualitas jikalau tetap dalam belenggu sistem sekularisme. Bisakah merdeka belajar dikatakan solusi atau produk dari kebimbangan arah pendidikan yang tak menentu?

Islam, Membentuk Generasi Masa Depan

Pendidikan adalah salah satu aspek strategis yang menentukan generasi masa depan. Pembuka gerbong peradaban yang cemerlang, mewujudkan kesejahteraan dan kedamaian bagi seluruh elemen masyarakat.

Maka dalam Islam menargetkan terbentuknya generasi berkualitas, beriman, bertakwa, terampil dan berjiwa pemimpin serta menjadi problem solver yang mumpuni.

Bahkan pendidikan dijadikan modal utama dalam mengubah peradaban dengan melahirkan generasi bersyaksiyah Islam, mempunyai pemikiran Islam yang andal, serta mampu menguasai ilmu-ilmu terapan yang berdaya guna di masyarakat.

Dalam sejarah pun Islam semasa penerapannya telah menjelama sebagai satu-satunya sistem yang mampu melahirkan generasi cerdas dan beradab.

Islam memiliki sistem pendidikan terbaik berbasis aqidah Islam, pembelajaran dan metodologinya sesuai dengan asas tersebut. Guru bukan hanya sekedar mentransfer ilmu namun juga karakter yang akan diteladani bagi murid-muridnya.

Tujuan menuntut Ilmu yang didasarkan pada aqidah, membentuk kesadaran bagi para penuntutnya senantiasa menghubungkan aktivitas belajar dengan pencapaian Ridha-Nya. Antusiasme dalam belajar bukan karena ingin mendapat materi tapi mengoptimalkan kemampuan agar memiliki keahlian yang dapat bermanfaat bagi umat.

Jadi peranan seorang pendidik akan sangat diperhatikan. Misal pemenuhan fasilitas, pelatihan untuk membekali seorang pendidik dalam meningkatkan kompetensi, menunjang sarana dan prasarana dalam pembelajaran, serta memberikan jaminan kesejahteraan sebagai tenaga profesional dengan gaji yang memadai.

Semua itu hanya bisa diakselerasikan bila ditetapkan dalam aturan negara yang memiliki tanggung jawab mewujudkannya. Islam dengan seperangkat aturan yang kompleks bisa diterapkan dalam kehidupan hanya dalam naungan negara Islam yakni Khilafah yang bisa mewujudkan harapan tersebut.

Adapun bukti kegemilangan sistem pendidikan Islam yakni dengan lahirnya ilmuwan-ilmuwan muslim yang cerdas nan beriman dan bertakwa. Karya mereka yang masyhur dan banyak dimanfaatkan sampai sekarang. Seperti Al Khawarizmi, Jabir Bin Hayyan dan lainnya, tak hanya menguasai ilmu terapan namun juga faqih dalam ilmu agama dan memiliki banyak karya. (*)

 

Penulis: Reskidayanti

 

 

***

 

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com

error: Content is protected !!