Beranda » Peristiwa » Hujan Lebat, Jalur Trans-Sulawesi Tak Dapat Dilintasi, 100 Rumah Terendam Banjir
Hujan Lebat, Jalur Trans-Sulawesi Tak Dapat Dilintasi, 100 Rumah Terendam Banjir
Satu SSK polisi diturunkan Kamis sore (20/6) untuk membantu mengevakuasi warga yang terendam banjir di Morowali Utara, Sulawesi Tengah. (Foto: Ivan Tagora)
Peristiwa

Hujan Lebat, Jalur Trans-Sulawesi Tak Dapat Dilintasi, 100 Rumah Terendam Banjir

PALU, SULTENG – Intensitas hujan lebat yang melanda Morowali Utara, Sulawesi Tengah, beberapa hari terakhir membuat sebagian sungai meluap. Jalur trans Sulawesi tak dapat dilintasi. Sementara sedikitnya 100 rumah terendam banjir. Tim evakuasi gabungan dari BPBD, TNI dan Polri bekerja keras mengevakuasi warga.

Jalan raya trans Sulawesi yang menghubungkan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara di Kecamatan Lembo, Kabupaten Morowali Utara sejak Kamis siang (20/6/2019) dilaporkan tidak dapat dilintasi kendaraan karena terendam banjir akibat meluapnya beberapa sungai.

Kondisi ini memaksa para pengguna jalan, baik kendaraan pribadi, kendaraan umum maupun angkutan barang yang berasal dari tempat yang jauh; terpaksa bermalam di dalam kendaraan yang di parkir di tepi jalan, maupun lapangan terbuka, menunggu banjir surut.

Banjir juga merendam sejumlah kendaraan roda empat yang tidak sempat diselamatkan ke tempat yang lebih aman karena berada di antrian terdepan ketika permukaan air terus meningkat.

Hujan Lebat, Jalur Trans-Sulawesi Tak Dapat Dilintasi, 100 Rumah Terendam Banjir
Wilayah Morowali Utara, Sulawesi Tengah terendam banjir akibat hujan lebat dan meluapnya sejumlah sungai, Kamis sore 20/6. (Foto: Ivan Tagora))

Satu SSK Polisi Dikerapkan untuk Amankan Pengguna Jalan dan Evakuasi

Kapolres Morowali AKBP Dadan Wahyudi mengatakan banjir akibat meluapnya beberapa sungai itu ikut merendam badan jalan sejauh satu kilometer, dengan ketinggian air di atas satu meter.

Satu satuan setingkat kompi Polres Morowali dikerahkan untuk memastikan pengamanan terhadap para pengguna jalan serta melakukan kegiatan evakuasi terhadap warga masyarakat terdampak banjir.

“Sementara masih belum bisa melintas itu untuk daerah Korompeeli karena ketinggian air sudah mencapai ketinggian satu meter lebih kali ya, seleher orang dewasa. Jadi belum melintas di jalan trans Sulawesi,” jelas AKBP Dadan Wahyudi melalui telepon.

Darman Bada, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah Morowali Utara, melaporkan hingga Kamis malam (20/6) upaya evakuasi warga masih dilakukan dengan menggunakan rakit dan perahu.

Sejauh ini belum ada data pasti jumlah warga yang terpaksa mengungsi. Namun BPBD setempat menyebutkan setidaknya terdapat 100 rumah yang terendam banjir.

“Pengungsi sekarang sementara ini tim dari BPBD sementara mereka mengevakuasi di lokasi nanti saya kasih informasi lebih lanjut. Jadi kami menggunakan peralatan sangat terbatas”

“Kami butuhkan transportasi lintasan seperti perahu karet itu. Kami di BPBD Morowali Utara belum punya perahu karet,” kata Darman Bada.

Permukaan Air Terus Naik Karena Selain Hujan Lebat, Sungai-Sungai Juga Meluap

Ivan Tagora, jurnalis setempat, mengatakan banjir itu diakibatkan meluapnya Sungai Tambalako serta sejumlah sungai kecil lain, menyusul hujan deras sejak Kamis dini hari.

Permukaan air terus meningkat sejak pukul 10 pagi. Dilaporkannya terdapat ratusan rumah di tujuh desa di Kecamatan Lembo dan Lembo Raya terdampak banjir yaitu desa Korompeeli, desa Kumpi, desa Korowou, desa Beteleme, Desa Ronta, Desa Petumbea dan desa Pontangoa.

“Banjirnya dari sejak tadi sekitar jam 10 mulai air naik. Air naik itu disebabkan meluapkan sungai Tambalako di tambah dengan sungai-sungai kecil di sekitarnya,” papar Ivan.

Warga yang rumahnya terendam banjir telah mengungsi ke tempat yang aman seperti di lapangan Wita Mori di kecamatan Lembo, bersama para pengguna jalan dari arah Palu dan Makassar yang tidak dapat melanjutkan perjalanan mereka ke arah Morowali maupun ke Sulawesi Tenggara. (voa)