Inovasi Paving Block Anti Banjir

0
29

Banjir salah satunya disebabkan oleh berkurangnya daerah resapan air. Sebuah perusahaan rintisan (start up) di Bandung menawarkan solusi berupa paving block berpori.

Bencana banjir yang terus terjadi di Indonesia telah menginspirasi sejumlah anak muda di Kota Bandung mengembangkan paving block berpori atau pore block.Paving block berpori ini tidak menghambat penyerapan air ke tanah. Genangan air pun bisa dicegah.

“Dengan adanya pore block ini, pembangunan bisa terus dilakukan, tapi daerah resapan air bisa tetap dijaga juga. Jadi walaupun ekonomi meningkat, lingkungan tetap kita pedulikan,” jelas Anisa Azizah, co-founder Tech Prom Lab.

Lulusan Teknik Fisika ITB ini menjelaskan, pore block dapat ditembus air sampai 1000 mm/hari, berpuluh-puluh kali lipat dari paving block biasa.

Paving block berpori di pasaran biasanya tidak sekuat paving block biasa. Karena itu Tech Prom Lab mengembangkan bahan kimia yang membuat produknya tetap kuat.

“Karena kita dari teknik material. Kita teliti materialnya dan bisa mengembangkan bahan kimia yang membuat itu kuat tapi tetap berpori,” ujar mahasiswa MBA ITB ini.

Kekuatannya bahkan mencapai K-200 sampai K-350, setara dengan paving block kelas B sampai A.

Co-Founder Tech Prom Lab, Anisa Azizah, berharap pore block bisa mengurangi banjir di Indonesia.
Tech Prom Gaet Produsen Lokal

Perusahaan rintisan ini bekerjasama dengan pabrik paving block lokal di Tasikmalaya, Jawa Barat, dan Tangerang, Banten.

HR Manager Tech Prom Lab, Afif Bani Buchori, mengatakan pihaknya melakukan transfer teknologi kepada produsen lokal.

“Kita partnership dan vendoring begitu. Kalau misalnya di Makassar ada vendor nih yang punya pabrik (paving block) dia reach out kita, ya kita akan ke sana dan transfer teknologi. Dia akan jadi operasi daerah Makassar,” jelas dia.

Berdiri pada 2018, Tech Prom Lab berhasil menjual paving block berpori pertamanya setahun kemudian.

Dipasarkan lewat kerabat dan pameran, pore block kini sudah digunakan di hampir 10 lokasi di Bandung, Sumedang, dan Tangerang. Mulai dari rumah, pemukiman, sampai lapangan sekolah.

Kesadaran Masyarakat Masih Rendah

Harga pore block sebetulnya sama dengan paving block kelas A. Namun masyarakat masih memilih paving block kelas yang lebih rendah karena lebih murah.

Karena itu, kata Afif, pihaknya berupaya menyadarkan masyarakat akan manfaat pore block.

“Karena kami basis isunya lingkungan, ya kami sekalian edukasi masyarakat. Instagram kami full dengan education. Kami niatnya emang mengenalkan dulu. Begitu mereka sudah tahu, mereka akan datang kan,” tambah Afif, lulusan MBA ITB.

Perusahaan berisi tujuh anak muda ini berencana mengembangkan sayap operasi ke Jawa Timur dan Jawa Tengah pada 2020.

Selain itu, mereka akan mulai mengembangkan pore block memakai abu layang (fly ash), limbah pembakaran batu bara.

Anisa berharap, produknya bisa membantu penanganan banjir di Indonesia.

Pore block ini hanya salah satu solusi, dan masih banyak solusi-solusi lain. Masyarakat bisa lebih aware terhadap lingkungan, dan bisa memakai barang-barang yang ramah lingkungan seperti pore block ini,” harapnya. [voa]