Saatnya Beralih pada Paradigma Islam
Satu-satunya pandangan hidup yang dapat menjaga dengan baik kesehatan mental seseorang hanyalah Islam. Sebab, seorang manusia yang dituntun oleh akidah Islam akan mampu memahami tujuan hidupnya yang hakiki yakni untuk beribadah dan menggapai Ridho Allah SWT. Sehingga seorang yang beriman akan memandang kenikmatan maupun musibah (cobaan) yang dihadapinya sebagai ketetapan terbaik dari Allah SWT. Apabila diberi rezeki Ia bersyukur dan apabila ditimpa musibah Ia bersabar.
Seorang yang beriman juga akan memahami bahwa tindakan bunuh diri merupakan solusi pragmatis yang justru akan menimbulkan masalah yang lebih besar diakhirat sebab bunuh diri merupakan perbuatan yang Allah haramkan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
“Barangsiapa menjatuhkan diri dari gunung, hingga membunuh jiwanya (bunuh diri), maka ia akan jatuh ke neraka jahannam, ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Barangsiapa menegak racun, hingga meninggal dunia, maka racun tersebut akan berada di tangannya, dan ia akan menegaknya di neraka jahannam, ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Dan barang siapa bunuh diri dengan (menusuk dirinya dengan) besi, maka besi itu akan ada di tangannya, dengannya ia akan menghujamkan ke perutnya di neraka jahannam, ia kekal dan abadi di dalamnya selama-lamanya. [HR. Bukhari]
Penjagaan kesehatan mental ini kemudian akan semakin di dukung oleh negara yang menerapkan sistem Islam. Pemimpin dalam negara Islam akan berperan sebagai Ra’in (pengurus) urusan rakyat dan sebagai Junnah (pelindung). Negara akan berusaha menghilangkan berbagai faktor pemicu munculnya mental illnes tersebut.
Salah satunya dengan menjamin perekonomian rakyat tetap stabil. Caranya dengan menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai khususnya bagi setiap kepala keluarga. Selain itu, layanan-layanan umum akan disediakan dengan harga murah bahkan gratis, seperti pendidikan, kesehatan, maupun keamanan.
Penjaminan ekonomi tersebut bukan hal mustahil untuk diterapkan dalam tatanan kepemimpinan Islam. Sebab kekayaan alam berlimpah yang dimiliki oleh negara tidak akan diserahkan pengelolaannya kepada swasta asing maupun lokal.
Tetapi dikelola secara mandiri oleh negara, yang secara tidak langsung akan terbuka luas lapangan pekerjaan karena membutuhkan tenaga kerja yang memadai. Begitupun hasilnya akan sangat mungkin dapat mencukupi pemenuhan layanan umum masyarakat. Selain itu, negara juga memiliki pemasukan lain dari hasil Kharaj, Fai, Jizyah, maupun Ganimah.
Tak kalah penting, pendidikan dalam Islam akan mampu melahirkan output generasi yang tidak hanya menguasai ilmu-ilmu terapan seperti IPTEK, tetapi juga memiliki syakhsiyah (kepribadian) Islam sebab kurikulum yang digunakan berbasis pada aqidah Islam.
Dimana hal itulah yang mampu menciptakan pemahaman seorang manusia akan hakikat penciptaannya dan makna bahagia yang hakiki. Sehingga dengan ini, kesehatan mental masyarakat dapat terjaga, aksi bunuh diri dapat diminimalisir bahkan diselesaikan dengan tuntas. Wallahu’alam Bisshowab. (*)
Penulis: Nurhikmah (Tim Pena Ideologis Maros)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.













