Memuat Ramadhan...
BMKG
Memuat data BMKG...
LIVE
Sulsel

Kadis Ketapang: Lomba ketahanan pangan, Sulsel ternyata sangat kaya dengan aneka pangan lokal

518
×

Kadis Ketapang: Lomba ketahanan pangan, Sulsel ternyata sangat kaya dengan aneka pangan lokal

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulsel
Andi Muhammad Arsjad, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulsel.

MAKASSAR—Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Sulsel kembali menggelar ekspos Lomba Desa Ketahanan Pangan, pada Kamis, (10/10/2024).

Dalam ekspos ini, desa yang masuk 10 besar memaparkan inovasi mereka terkait inovasinya dalam tiga hal yakni ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulsel, Andi Muhammad Arsjad menyatakan proses persiapan lomba desa ketahanan pangan ini berlangsung kurang lebih satu bulan.

Diawali dengan seleksi administrasi dalam bentuk profil. Dinas Ketapang Sulsel telah menyurati 24 Kabupaten/Kota untuk mengutus satu sampai dua desa perwakilan.

Ada 18 desa dari 14 Kabupaten/Kota yang mengikuti. Selanjutnya 10 besar itu mengikuti ekspos. Disinilah akan ditentukan yang terbaik untuk tiga besar.

“Alhamdulillah sampai hari ini, di hari yang kedua, seperti yang kita saksikan bersama makin ramai. Persiapannya juga makin baik. Kita lihat sendiri bahwa video tayangnya juga sangat baik. Kemudian pemaparan dari kepala desa juga sangat baik, substantif,” kata Arsjad.

Tidak hanya berbicara mengenai tiga pilar ketahanan pangan tapi juga berbicara terkait regulasinya, bagaimana partisipasi masyarakat, dan tidak kalah pentingnya adalah desa menghadirkan langsung produk lokalnya.

“Dari lomba ketahanan pangan ini kita jadi tahu bahwa Sulsel ternyata sangat kaya. Dengan aneka pangan lokal kita termasuk olahannya” tutur Mantan Pj Sekda Sulsel ini.

Hal ini, kata dia, menjadi potensi besar yang perlu dipikirkan bagaimana pengembangan dan peningkatan kualitasnya ke depan.

Ke depannya, Dinas Ketahanan Pangan Sulsel berharap agar Dinas Ketahanan Pangan masing-masing kabupaten/kota melakukan pembinaan.

“Bagi desa yang telah dinyatakan sebagai pemenang tentu akan dilakukan pembinaan, mempersiapkan bagaimana desa itu bisa menjadi prototipe Desa Ketahanan Pangan. Jadi disana sudah jadi ketahanan pangan, peternakan, perkebunan, perikanan, perindag untuk pengelolaannya sampai kepada pemasarannya. Jadi kita ingin membangun desa yang tahan pangan,” tuturnya.

Desa Ketahanan Pangan dilihat dari kemampuannya dalam mempersiapkan ketersediaan pangan, praktik-praktik baik dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya secara mandiri dengan memanfaatkan pekarangannya, termasuk bagaimana membangun jaringan kerjasama dengan semua unsur potensi yang ada di desa.

Diharapkan juga nantinya perguruan tinggi, swasta dan pemerintah bisa sama-sama terlibat.

Untuk menilai itu, 60 persen dilihat dari kondisi lapangan dan 40 persen hasil ekspos dan wawancara.

10 Desa di Sulsel Bersaing Ajang Lomba Desa Ketapang, Juara Diumumkan pada Puncak HUT Sulsel Ke-355
Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Provinsi Sulawesi Selatan kembali melanjutkan penilaian lomba desa ketahanan pangan tingkat provinsi Sulsel dalam rangka memeriahkan HUT Sulsel ke-355, di Kantor Dinas Ketapang Sulsel, Kamis (10/10/2024).

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sinjai, Andi Himawan S mengikutkan Desa Arabika, Kecamatan Sinjai Barat dalam lomba ini.

Dipilihnya Desa Arabika merupakan kesepakatan bersama di internal Pemkab Sinjai. Untuk bisa sampai dalam tahap ekspos ini kata dia diperlakukan sinergitas yang kuat.

“Kami berharap agar output dari lomba ini dapat dirasakan oleh masyarakat,” kata Andi Himawan.

Kepala Desa Arabika Kabupaten Sinjai Andi Harianto memaparkan bagaimana pengolahan kopi yang berada di desanya, padi gogo rancah dan beberapa tanaman holtikultura yang betul-betul menggunakan pupuk organik.

Padi gogo rancah menggunakan sistem penanaman yang tanaman padinya tidak perlu ditumbuhkan dalam kondisi tergenang air.

Dia mengaku optimis bisa mendapatkan juara. Apalagi dengan adanya keterlibatan swadaya masyarakat dalam hal meningkatkan pangan di Desa Arabika.

“Tergantung bagaimana tim juri menilai, dan betul-betul turun di lapangan melihat apakah yang kita paparkan itu ada di desa kami, karena intinya juara itu bukan sekadar memaparkan tapi memang betul-betul ada dan bisa menanggulangi pangan yang ada di desa kami,” kata Andi Harianto. (*/4dv)

 

Konten dilindungi © Mediasulsel.com