Kegiatan "Internalisasi Nilai Nilai Agama dan Budaya di Sekolah dalam Menumbuhkan Moderasi Beragama".

AMBON – BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Maluku, Kamis (5/3/2020), menggelar kegiatan “Internalisasi Nilai Nilai Agama dan Budaya di Sekolah dalam Menumbuhkan Moderasi Beragama”.

Korban Bom Bali 1 dihadirkan sebagai salah satu pemateri untuk menggugah kesadaran pentingnya menciptakan kedamaian antarumat beragama.

Adalah Jatmiko Bambang, penyintas yang dihadirkan di hadapan seratusan guru mata pelajaran agama peserta kegiatan.

Sambil terisak dan terbata-bata, Jatmiko menceritakan penderitaan yang dirasakannya akibat aksi teror belasan tahun lalu itu.

“Sampai sekarang saya dan keluarga masih harus mengikuti bimbingan psikologi,” katanya.

Jatmiko menambahkan, tangisannya dalam menceritakan peristiwa bom Bali bukan untuk dikasihani.

Dia menekankan pentingnya seluruh masyarakat ikut bersama-sama membangun kedamaian untuk mencegah terjadinya aksi terorisme.

“Sekarang kami sudah memaafkan para pelaku. Tapi kami juga berpesan, kedamaian, mari bersama-sama bangun kedamaian agar apa yang saya dan korban-korban lain alami tidak terulang,” tambah Jatmiko tegar.

Jatmiko mengaku senang bisa berbagi pengalaman pahitnya, terutama di hadapan guru mata pelajaran agama di Maluku.

“Sekali lagi, saya mohon kepada para guru agama, ulama, dan tokoh masyarakat agar mengajarkan kedamaian kepada anak-anak,” tandasnya.

Ketua FKPT Maluku, Abdul Rauf, mengatakan guru adalah elemen penting dalam pencegahan penyebarluasan paham radikal dan aksi terorisme. Guru memiliki kedekatan dengan anak didiknya, diharapkan mampu mengajarkan hal-hal positif, termasuk moderasi beragama.

“Apa itu moderasi? Moderasi adalah bagaimana setiap umat beragama bisa saling menghormati satu dengan lainnya, sehingga tercipta kedamaian,” kata Rauf. [*]