Evi Desi Said, S.Pd / Pemerhati Sosial

OPINI – Indonesia adalah negara demokrasi yang melaksanakan pemilu lima tahun sekali. Bulan April kemarin adalah puncak dari pesta demokrasi diadakan pemilu, yang paling menghebohkan adalah pemilihan wapres dan cawapres.

Setelah rekapitulasi suara maka KPU mengumumkan terpilihlah salah satu paslon yaitu Jokowi dan Ma’ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden dan pelantikana pun telah usai 20 Oktober 2019 kemarin.

Banyak PR besar yang akan dilaksanakan oleh Presiden dan wakil Presiden. Salah satunya adalah susunan komposisi kursi untuk kabinet kerja di periode ini.

Salah satu nama yang menarik akan menempati salah satu kursi kabinet yaitu Prabowo Subianto. Dilansir pada Senin, 22/10/19 di Redaksi7, Prabowo Subianto memenuhi panggilan presiden untuk datang ke Istana Kepresidenan.

Seusai pertemuan, Prabowo memastikan partainya bergabung ke koalisi pemerintah dan mengaku diminta oleh Jokowi menangani bidang pertahanan.

Prabowo Subianto dalam kandidat capres kemarin adalah lawan dari kandidat Jokowi-Ma’ruf. Namun, menjelang pelantikan presiden, Prabowo mengambil langkah berkoalisi dengan lawan kandidatnya.

Walhasil 23 Oktober 2019 sudah menduduki kabinet Menteri Pertahanan. Banyak kalangan yang merasa kecewa dengan keputusan Prabowo berkoalisi dengan kubu pemenang.

Usaha-usaha yang telah dilakukan para pendukung dan pengusung dan sekarang dibalas dengan kekecewaan atas keputusan berkoalisi, kini tidak lagi menjadi masalah yang terpenting adalah sudah mendapatkan jatah kursi.

Masyarakat yang juga mendukung kini dengan terpaksa kembali mengelus dada atas semua kekecewaan ini.

Namun, seperti itulah fenomena perpolitikan hari ini, kemarin adalah lawan hari ini akan jadi kawan, tidak ada lawan dan kawan sejati.

Ketika memiliki kepentingan yang sama maka lawan akan bermesra menjadi kawan. Dalam politik demokrasi bukanlah aib ketika tiba-tiba mengubah keputusan dengan cepat demi mendapatkan jatah dan juga tidak ada rumus pengkhianatan.

Demokrasi adalah ajang para pemburu harta dan tahta belaka. Siapa yang punya banyak modal maka dengan mudah melaju ke depan.

Buka mata lebar-lebar, saat ini dipertontonkan potret sistem demokrasi yang sangat diagung-agungkan dan berulang kali memberikan kekecewaan kepada rakyat.

Tidak ada lawan dan kawan sejati, yang ada justru kepentingan sejati. Rakyat tidak akan mendapatkan apa-apa selain rasa kecewa yang terus berulang buah dari politik demokrasi.

Politik dalam sistem demokrasi memang di desain bukan untuk memperjuangkan rakyat tetapi untuk meluruskan kepentingan penguasa, melancarkan penguasaan kekayaan negara dan mengabaikan kehidupan rakyat.

Islam solusi kehidupan umat

Pasangan yang terpilih menjadi Presiden periode lima tahun kedepan sudah bisa dipastikan keterpihakan kepada rakyat masih akan sama dengan cerita periode kemarin bahkan bisa saja akan semakin mencekam kehidupan rakyat.

Saat ini rakyat membutuhkan isntitusi dalam penerapan keadilan, dalam pemecahan dari setiap permasalahan hari ini.

Islam adalah agama sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia baik secara individu, kelompok, masyarakat hingga bernegara, dari segi politik, ekonomi, hukum, sistem pemerintahan semuanya telah diataur dengan jelas dan sempurna.

Dibandingkan dengan sistem demokrasi yang kebijakannya akan direvisi berdasarkan kepentingan-kepentingan penguasa.

Tuduhan islam menjadi penyebab perpecahan dan persoalan juga hanya sekedar tuduhan tanpa bukti. Kekisruhan politik yang tak jarang diakibatkan oleh proses demokrasi.

Berbagai kerusakan dan ketidakadilan terjadi karena penerapan sistem diluar sistem islam. Islam dengan jelas telah tergambar dalam sejarah bahwa sistem islam telah berhasil mensejahterakan rakyat pada masa kekhalifaan

Maka dari itu, apa saja yang Allah berikan untuk manusia di dunia ini berupa syariahNya pasti baik untuk manusia dan kehidupan. Yang harus dilakukan oleh manusia tidak lain adalah mentaati dan sibuk merelisasikan syariah itu di tengah-tengah kehidupan mereka.

Sebagaimana firman Allah swt dalam surah Al-Baqarah ayat 208 : “Hai orang-orang beriman, masuklah kalian ke dalam islam secara total, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan musuh yang nyata bagi kalian”. (*)

Lawan Tapi Kawan
Penulis : Evi Desi Said, S.Pd (Pemerhati Sosial)