PESISIR SELATAN—Tradisi adat masih menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Minangkabau di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Salah satu tradisi yang tetap hidup dan dijaga hingga kini adalah maatan marapulai, prosesi adat yang memperkenalkan pengantin laki-laki kepada keluarga istri dan masyarakat nagari.
Tradisi ini dilakukan beberapa hari setelah pesta pernikahan.
Pengantin laki-laki atau marapulai akan didandani dengan pakaian adat lengkap—baju kurung basiba, celana silat, dan destar sebagai penutup kepala. Ia kemudian diajak berkunjung ke rumah keluarga pihak istri, ninik mamak, hingga tokoh masyarakat.
Di sejumlah nagari, prosesi bahkan dilakukan dengan arak-arakan mengelilingi kampung, lengkap dengan iringan musik tradisional seperti gandang tasa dan rabab Pesisir.
Menurut adat Minangkabau yang menganut sistem matrilineal, seorang laki-laki yang menikah akan masuk ke dalam keluarga istrinya.
Meskipun tidak menjadi pemilik harta pusaka, status sosialnya tetap dihargai. Tradisi maatan marapulai menjadi simbol penerimaan dan pengakuan sosial atas kehadiran marapulai dalam keluarga dan komunitas.
Prosesi ini juga sarat nilai kemanusiaan. Masyarakat menyambut marapulai dengan senda gurau khas Minang—bukan untuk merendahkan, tetapi mencairkan suasana dan menumbuhkan keakraban.
Marapulai diharapkan hadir dengan penuh wibawa, sopan, dan menunjukkan tanggung jawab sebagai bagian dari keluarga baru.
Setiap nagari memiliki kekhasan dalam pelaksanaan tradisi ini. Ada yang menyatukannya dengan pengajian adat dan tausiah tentang peran suami dalam rumah tangga. Ada pula yang melaksanakannya secara sederhana namun tetap menjaga makna.
Di era modern, tradisi ini menghadapi tantangan. Generasi muda kerap menganggapnya kurang relevan atau terlalu rumit. Namun, tidak sedikit yang tetap menjaganya dengan berbagai penyesuaian. Misalnya, bagi marapulai dari luar daerah, prosesi tetap dilakukan dalam skala kecil di lingkungan keluarga.
“Kita boleh mengikuti perkembangan zaman, tapi jangan meninggalkan tradisi,” ujar salah seorang tokoh adat setempat.
“Maatan marapulai bukan hanya seremoni, tapi pelajaran hidup tentang tanggung jawab sosial, etika, dan penghormatan terhadap sesama,” tambahnya.
Sebagai bagian dari warisan budaya, tradisi ini menjadi pengingat bahwa di tengah arus globalisasi, jati diri dan kearifan lokal tetap penting dijaga. Generasi muda pun diharapkan terus melestarikannya agar tidak hilang ditelan zaman.
Indonesia kaya akan tradisi dan budaya. Menjaga maatan marapulai berarti merawat warisan leluhur dan memperkuat identitas kebangsaan. (Cr/Ag4ys)
Penulis: Muhammad Iqbal (Mahasiswa Sastra Minangkabau, FIB, Universitas Andalas)











