Mahasiswa Unismuh Makassar Keluhkan Kuliah Online
Mahasiswa Unismuh Makassar

MAKASSAR – Mewabahnya Virus Corona Disease (Covid-19) di Indonesia membuat kepanikan bagi seluruh masyarakat. Pemerintah lalu mengambil langkah mencegah penyebaran Covid-19 dengan mengimbau masyarakat untuk melakukan Physical Distancing dengan bekerja dirumah, membatasi aktivitas di ruang publik, dan sebagainya.

Menyikapi imbauan tersebut, pimpinan kampus Universitas Muhammadiyah Makassar mengambil kebijakan guna mencegah penyebaran Virus Corona Disease (Covid-19) dengan menerapkan perkuliahan secara daring (Dalam Jaringan) atau online.

Kebijakan tersebut tertuang dalam surat edaran Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar Nomor: 277/05/C.5-11/111/41/2020.

Rektor Unismuh Makassar menjelaskan, imbauan ini dalam rangka menyikapi pernyataan dari World Health Organization (WHO) tentang wabah Covid-19 yang dinyatakan sebagai pandemi yang menjadi masalah global, Surat Edara Mendikbud RI No. 3 Tahun 2020 dan surat Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah No: 02/MLM/1.0/H/2020.

“Perkuliahan tatap muka tidak diselenggarakan secara klasikal di kelas dan sebagai langkah taktis dilakukan dengan metode daring melalui SPADA (Sistem Pembelajaran Daring) yang telah dimiliki oleh Unismuh Makassar atau aplikasi lainnya,” terang pimpinan kampus yang tertuang dalam Surat Edaran tersebut.

Langkah yang ditempuh oleh pihak pimpinan kampus ternyata menuai banyak protes dari mahasiswa. Pasalnya, penerapan kuliah online di Universitas Muhammadiyah Makassar tidak sesuai dengan apa yang diharapakan mahasiswa.

Zulkifli salah satu mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis menganggap bahwa perkuliahan yang dilakukan secara Daring (Dalam jaringan) atau online bukanlah langkah yang efektif yang diambil oleh Universitas.

“Disamping pembayaran BPP, mahasiswa harus mengeluarkan biaya tambahan guna memenuhi kebutuhan kuota penggunaan aplikasi dalam perkuliahan yang kemudian langkah tersebut tidak terlaksana dengan maksimal, dimana sebagian besar tenaga pengajar belum siap dan belum mahir dalam menggunakan aplikasi yang tersebut yang kemudian kebutuhan mahasiswa itu tidak terpenuhi,” ujarnya.

“Melihat permasalahan ini, kami menuntut pimpinan kampus agar kiranya memberikan subsidi kuota untuk seluruh mahasiswa aktif di Unismuh Makassar untuk semester genap.” jelasnya.

“Agar ditetapkannya standar pembelajaran perkuliahan Daring (Dalam Jaringan) atau online karena tidak semua dosen menerapkan hal yang sama dalam pelaksanaan perkuliahan dan masih banyak tenaga pengajar belum paham penggunaan media perkuliahan Daring (Dalam Jaringan) atau online,” harapnya.

“Tidak hanya saya yang mengeluh soal ini, saya yakin sejumlah mahasiswa lain juga mengeluhkan perkuliahan secara Daring (Dalam Jaringan) atau online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan oleh tiap dosen pengajar. Bahkan harus dikerjakan dengan deadline yang terkesan memberatkan mahasiswa.” pungkas Ippi sapaan akrabnya. (*)