OPINI—Teror narkoba masih terus menghantui nasib generasi muda, termasuk mahasiswa. Mengutip pernyataan Dewan Pengurus Pusat Aliansi Relawan Perguruan Tinggi Anti Penyalahgunaan narkoba, Aam Bustaman mengungkapkan, penyalahgunaan narkoba di Indonesia mengalami peningkatan 0,03% pada 2019 dibandingkan 2017.

Pada 2019, tercatat ada 3,6 juta pengguna narkoba, 63% di antaranya pengguna ganja. Yang lebih menyedihkan lagi, sebanyak 27% pengguna narkoba dari kalangan pelajar dan mahasiswa. (beritasatu.com 26/06/2021).

Gaya hidup dan tingkat pergaulan mahasiswa yang cenderung liberal, memang sangat rentang dengan dunia narkoba. Ditambah lagi, potensi mahasiswa yang lebih mudah memberikan pengaruh bagi konsumen baru, sehingga semakin mempercepat penyebaran narkoba di kampus. Bahkan, peningkatan narkoba dua tahun terkahir mengantarkan Indonesia sebagai pasar narkoba terbesar di Asia.

Sungguh kerugian yang sangat besar, jika nikmat berupa bonus demografi tidak dimaksimalkan untuk membangun bangsa. Generasi justru terjerumus pada hal-hal yang merusak. Padahal, strategi musuh untuk menghancurkan suatu bangsa adalah dengan  mengincar generasi muda. Maka, penyelamatan generasi menjadi sebuah keharusan.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Plt Dirjen Dikti) Kemendikbud Ristek, Nizam menyampaikan pesan Mendikbud Ristek Nadiem Makarim tentang tiga dosa besar yang harus dihindari di sekolah maupun kampus yaitu intoleransi, peredaran narkoba dan miras, dan perundungan dan kekerasan seksual. Dalam arahannya Nizam menegaskan bahwa upaya saling menghargai dan saling mendukung harus dikembangkan di kampus. (kompas.com 4/09/2021).

Hanya saja, arahan penghapusan dosa besar di kampus harus dibarengi dengan langkah nyata dan kebijakan yang menjamin agar kampus harus benar-benar aman dari pengaruh buruk narkoba. Mengingat tiap tahun pemerintah terus mendorong agar tidak terjadi lagi dosa besar di kampus, namun justru semakin meningkat.

Peran Negara

Berbagai kebijakan yang kerap mengedepankan pertimbangan keuntungan materi, mesti dikritisi. Narkoba misalnya, masih dianggap salah satu komoditas yang cukup menjanjikan, karena cukup laku di pasaran. Produksi narkoba pun semakin meningkat. Sesuai prinsip ekonomi kapitalisme, mengeluarkan modal yang sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Nasib generasi pun dipertaruhkan.

Maka, pemberantasan narkoba mesti dilakukan secara totalitas oleh negara dengan memutus mata rantai penyebarannya. Negara harus menutup semua celah peredaran narkoba. Dengan demikian, tidak ada lagi akses narkoba.

Selanjutnya, negara harus fokus menjalankan perannya dalam memastikan berlangsungnya fungsi pendidikan. Bahwa esensi ilmu pengetahuan adalah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Dunia kampus diharapakan mampu mencetak generasi unggul, berakhlak mulia, dan berkarakter pemimpin terbaik di masa yang akan datang. Maka, mahasiswa sebagai agent of change seharusnya menjadi garda terdepan dalam memajukan bangsa. Dunia pendidikan harus menjadi problem solving bagi persoalan yang dihadapi masyarakat.

Namun, penerapan sistem pendidikan sekuler di negara kita justru menghasilkan out put pendidikan yang liberal, hedonis, pragmatis dan jauh dari nilai-nilai religius. Lingkungan yang menganut kebebasan berprilaku berdampak pada pergaulan yang bebas pula tanpa ada kontrol agama. Walhasil, generasi muda kehilangan identitasnya.

Perguruan Tinggi dalam Islam

Generasi cemerlang hanya akan lahir dari sistem pendidikan yang ideal. Yakni, penerapan pendidikan yang memiliki visi dan orientasi pendidikan yang jelas, dan visi ini harus sejalan dengan visi negara. Peran pendidikan adalah untuk membangun peradaban mulia.

Islam punya solusi untuk sistem pendidikan yang terbaik. Secara historis, islam sudah menghasilkan metode pendidikan yang mendunia, dengan keunggulan yang tertandingi oleh negara manapun. Saat itu, sistem pendidikan islam menjadi sumber rujukan ilmu pengetahuan. Bahkan, negara islam menjadi mercusuar peradaban dunia.

Kurikulum pendidikan islam dibangun berdasarkan aqidah islam. Tujuan pendidikan diarahkan untuk membentuk generasi yang berkepribadian islam, menguasai ilmu sains dan teknologi, serta memahami tsaqofah islam. Adapun riset dan penelitian diarahkan agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dibiayai oleh negara.

Dengan landasan iman, generasi tidak akan terjerumus dalam perbuatan yang sia-sia, apalagi mengkonsumsi barang haram (narkoba). Sebaliknya, generasi akan fokus pada pengembangan ilmu pengetahuan.

Sistem pendidikan islam yang diterapkan oleh negara islam telah terbukti menghasilkan para ilmuan sekaligus ulama. Diantaranya, Ibnu Sina yang dikenal sebagai bapak kedokteran dunia. Penemu anatomi tubuh manusia. Beliau sudah menguasai tasawuf, fikih, tafsir dan usuludin ketika berusia 10 tahun. Menjadi dokter yang mapan diusia 18 tahun. Maka, penerapan sistem pendidikan islam akan menjaga kualitas generasi. Wallahua’lam bisshowwab. (*)

Penulis: Irmayanti, SPd (Pendidik)

***

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.