OPINI—Pengamat Timur Tengah Smith Alhadar menilai pidato Presiden Prabowo Subianto di forum KTT Developing Eight (D-8) yang menyerukan persatuan negara-negara Islam sebagai langkah yang patut diapresiasi. Namun, pidato tersebut terkesan menggurui dan kurang memperhatikan kontribusi signifikan dari beberapa negara Islam.
Contohnya, Turki telah menghentikan kerja sama ekonomi dengan Israel dan bersama Afrika Selatan menuduh Israel melakukan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ). Iran bahkan melancarkan dua serangan besar ke Israel, sedangkan Mesir secara aktif mendorong gencatan senjata antara Hamas dan Israel.
Smith juga mencatat, dalam pidatonya, Prabowo tidak secara tegas mengecam Israel melainkan hanya menyerukan persatuan negara-negara Islam (Media Indonesia, 22 Desember 2024).
Seruan persatuan dan pembelaan terhadap Palestina adalah langkah baik, tetapi tidak cukup jika hanya sebatas retorika. Bantuan kemanusiaan seperti makanan, obat-obatan, dan peralatan medis yang selama ini diberikan negara-negara Muslim memang sangat membantu, tetapi tidak mampu menghentikan kekejaman Zionis Israel.
Hakikatnya, tindakan brutal Israel terhadap rakyat Palestina hanya bisa dihentikan jika akar persoalan (penjajahan) ditangani. Dengan kata lain, pembelaan terhadap Palestina membutuhkan aksi nyata berupa pengiriman pasukan militer. Inilah yang sebenarnya sangat dibutuhkan rakyat Palestina: perlindungan dan perlawanan terhadap tindakan brutal Zionis.
Tanpa kekuatan militer, pembelaan terhadap Palestina hanya akan menjadi wacana kosong. Bahkan, mendukung solusi dua negara hanya memperkuat legitimasi perampasan tanah Palestina oleh Zionis, tanpa memberikan kemerdekaan sejati bagi rakyat Palestina.
Sejarah membuktikan, kekuatan militer adalah satu-satunya cara untuk melawan penjajahan. Jika negeri-negeri Muslim bersatu, potensi kekuatan militer mereka cukup besar untuk menghadapi Zionis. Namun, upaya ini membutuhkan kesadaran kolektif umat Islam tentang solusi hakiki bagi Palestina.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya…” (HR. Abu Dawud). Hadis ini menggambarkan umat Islam yang jumlahnya banyak tetapi tak memiliki kekuatan. Kondisi ini sangat relevan dengan situasi umat Muslim saat ini: jumlah besar tetapi tidak mampu menghadapi Zionis yang jauh lebih sedikit.
Oleh karena itu, niat baik untuk membela Palestina harus diwujudkan dengan tindakan nyata, bukan sekadar retorika. Solusi utama adalah persatuan umat Islam dalam perlawanan militer terhadap Zionis, demi membebaskan Palestina dari penjajahan. Wallahu a’lam. (*)
Penulis: Fitri Suryani, S.Pd (Freelance Writer)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.







