Advertisement - Scroll ke atas
MarosWisata

Menapak Jejak di Rammang-Rammang: Negeri Batu Karst yang Hidup di Tengah Kabut

939
×

Menapak Jejak di Rammang-Rammang: Negeri Batu Karst yang Hidup di Tengah Kabut

Sebarkan artikel ini
Rammang-Rammang di Kabupaten Maros
Rammang-Rammang di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

MAROS—Kabut pagi masih menari di atas Sungai Pute. Suara dayung perahu pelan memecah keheningan, sementara gugusan batu karst menjulang megah di kejauhan. Beginilah wajah Rammang-Rammang di Kabupaten Maros saat matahari belum sepenuhnya terbit—sebuah negeri batu yang hidup di tengah kabut, memukau siapa pun yang datang.

Perahu bermesin kecil meluncur perlahan di sungai berair tenang. Di kiri-kanan, pepohonan nipah berbaris rapi seolah mengiringi perjalanan. Tak lama, muncul pemandangan yang seakan tak nyata: dinding karst raksasa berdiri kokoh di antara sawah dan air, memantulkan cahaya lembut pagi yang menembus kabut. Inilah lanskap alam yang menjadikan Rammang-Rammang salah satu kawasan karst terindah di dunia.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Alam, Kabut, dan Kehidupan yang Menyatu

Di balik keelokan batu-batu karst yang menawan, hidup masyarakat sederhana yang menjaga harmoni alam dengan kearifan lokalnya. Warga Dusun Rammang-Rammang sejak lama menolak perubahan yang bisa merusak bentang alam karst, memilih mengelola potensi wisata dengan cara mereka sendiri.

“Dulu kami hanya petani dan nelayan sungai. Setelah banyak wisatawan datang, kami sepakat mengelola bersama tanpa merusak alam,” tutur Ambo Towa, salah satu pemandu lokal yang kini saban pagi membawa tamu menelusuri Sungai Pute.

Melalui kelompok sadar wisata, warga mengatur jalannya aktivitas wisata: dari perahu wisata, warung kopi sederhana, hingga homestay yang berdiri di rumah-rumah panggung. Pendapatan mereka meningkat, tapi semangat menjaga alam tetap menjadi pegangan utama.

Menyusuri Sungai Pute di Antara Kabut

Petualangan di Rammang-Rammang dimulai dari dermaga Desa Salenrang. Wisatawan menaiki perahu kecil yang dikemudikan warga setempat. Perjalanan menyusuri Sungai Pute sejauh sekitar 7 kilometer menuju Kampung Berua menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.

Air sungai yang tenang memantulkan bayangan batu karst dan awan putih di atasnya. Sesekali burung bangau terbang rendah, sementara anak-anak kampung melambaikan tangan dari tepi sungai. Semuanya berpadu dalam ketenangan yang menenangkan.

“Kalau datang pagi-pagi, kabutnya tebal sekali. Banyak wisatawan justru mencari momen itu, karena suasananya seperti di negeri dongeng,” ujar Ambo sambil mengarahkan perahunya di antara batu karst yang menjulang.

Kampung Berua: Keheningan yang Berdenyut

Perjalanan berakhir di Kampung Berua, sebuah desa kecil di jantung kawasan karst yang hanya bisa dijangkau lewat sungai. Di sini, rumah-rumah panggung berdiri di antara sawah dan batu karst. Suasana hening, udara bersih, dan kehidupan berjalan pelan mengikuti irama alam.

Penduduk kampung hidup dari bertani, beternak, dan sebagian menjadi pemandu wisata. Anak-anak bermain di tepian sawah, sementara para ibu menjemur hasil panen. Harmoni antara manusia dan alam terasa nyata, menjadi contoh ekowisata berbasis masyarakat yang berhasil menjaga keseimbangan.

Cara Menuju Rammang-Rammang

Dari Kota Makassar, perjalanan menuju Rammang-Rammang memakan waktu sekitar 1,5 jam. Wisatawan bisa menggunakan kendaraan pribadi, taksi online, atau transportasi umum.

  • Kendaraan pribadi: Arahkan perjalanan ke Jalan Poros Makassar–Maros, melewati Bandara Sultan Hasanuddin hingga ke Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa.
  • Transportasi umum: Dari Terminal Daya Makassar, naik bus atau angkot menuju Maros, lanjut dengan ojek atau mobil sewaan ke dermaga Sungai Pute.

Meski perjalanan daratnya sederhana, keindahan yang menanti di ujung sungai membuat setiap kilometer terasa berharga.

Menjaga Napas Alam

Bagi warga Rammang-Rammang, alam bukan sekadar latar belakang wisata—ia adalah bagian dari kehidupan yang harus dijaga. Kawasan ini merupakan bagian dari Bentang Alam Karst Maros-Pangkep, yang telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia.

Ketika sore tiba, bayangan batu karst kembali menjulur panjang di tepian sungai. Suara burung dan desir angin menjadi penutup hari yang damai. Rammang-Rammang tetap teduh, tetap hidup, tetap menjadi negeri batu karst di tengah kabut—tempat di mana alam dan manusia masih berbicara dalam bahasa yang sama: keheningan.

Rammang-Rammang terletak di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Kawasan ini merupakan bagian dari bentang alam karst Maros-Pangkep yang diakui UNESCO sebagai warisan dunia. Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari antara pukul 06.00–09.00, saat kabut masih turun dan suasana alam berada di puncak keindahannya. (Ag4ys)

error: Content is protected !!