Pengembangan Kampung dan Desa Wisata, Strategi Baru Dispar Bulukumba
Dinas Pariwisata Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan mensiasati langkah dan upaya pengelolaan serta pengembangan destinasi pariwisata yang terdapat di Kabupaten berjuluk Butta Panrita Lopi.

BULUKUMBA—Keterbatasan anggaran mengharuskan Dinas Pariwisata Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan mensiasati langkah dan upaya pengelolaan serta pengembangan destinasi pariwisata yang terdapat di Kabupaten berjuluk Butta Panrita Lopi.

Sekretaris Dinas Pariwisata (Sekdispar) Kabupaten Bulukumba, Andi Mattampa Wali menjelaskan, Pemerintah desa melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) didorong untuk memaksimalkan program pengembangan destinasi pariwisata di masing-masing wilayah.

“Penyerahan kewenangan pengelolaan dan pengembangan sektor pariwisata ini dilakukan sejalan dengan penerapan kebijakan pengembangan desa wisata serta pencanangan kampung wisata oleh kementerian Pariwisata yang kedepan diharapkan akan dapat mendorong kebangkitan kembali ekonomi masyarakat, terutama di masa pandemi covid 19,” jelasnya.

Sebagai bentuk kolaborasi dan peningkatan sinergitas kerjasama, Dinas Pariwisata kabupaten, akan terus menginisiasi dan mendorong peningkatan kualitas serta mutu sumberdaya manusia (SDM) pengelolah wisata desa melalui kegiatan pelatihan sebagai salah satu bentuk tanggung jawab pendampingan dari sisi UMKM, maupun bumdes.

“Kebijakan dan strategi ini dilakukan dalam rangka untuk menggali respon dan sekaligus menguji coba sejauh mana keberanian pemerintah desa, dan lurah, bersama segenap komponen warga masyarakatnya untuk maju serta mengawali langkah pengelolaan potensi wilayahnya,” tuturnya kepada Media Sulsel, Selasa (3/08/2021)

Sementara itu, menurut Kepala Bidang Sumber Daya Pariwisata, Andi Ayu Cahyani, Kabupaten Bulukumba yang dikenal kaya akan potensi dan daya tarik wisata, memiliki banyak potensi wisata yang dapat dikelola berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Kawasan tersebut antara lain :Liang Bakatulu, Desa Darubiah, Kecamatan Bontobahari dan destinasi Wisata Alam Bulu Padido, Desa Tamatto, Kecamatan Ujung Loe,” kata Ayu.

Terpisah, Andi Fadly Dg. Biritta, putera kelahiran Kota Bulukumba mengutarakan, kebijakan pemberian legitimasi kewenangan pengelolaan potensi wisata oleh Dinas Pariwisata kepada jajaran pemerintah desa dan kelurahan merupakan sebuah bentuk lompatan luar biasa dan sangat relevan dengan program pengembangan destinasi pariwisata yang tengah getol dilakukan oleh jajaran pemerintah kabupaten melalui Dinas Pariwisata.

Pengembangan Kampung dan Desa Wisata, Strategi Baru Dispar Bulukumba
Dinas Pariwisata Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan mensiasati langkah dan upaya pengelolaan serta pengembangan destinasi pariwisata yang terdapat di Kabupaten berjuluk Butta Panrita Lopi.

Lebih lanjut Fadly menuturkan, Kabupaten Bulukumba dinilai memiliki sederet potensi wisata pantai dan anak sungai yang berpeluang untuk digarap dan dikembangkan sebagai kawasan destinasi pendukung pantai Tanjung Bira dan titik nol, dengan memperhatikan serta mempertimbangkan faktor kelebihan dan kekurangan masing-masing lokasi.

“Kawasan pantai dan anak sungai dimaksud terdiri dari Pantai Terang-Terang, Labuang Korong, Lappe’e, kawasan Jembatan Lembang, dan Sungai Kasimpureng yang masing-masing memiliki catatan historis, sejarah, serta nilai plus tersendiri,” paparnya.

Selain itu Fadli juga menambahkan, sejarah pelayaran mencatat, pada era tahun 1980-an, pantai Labuang Korong dan Lappe’e yang terletak di jantung kota Bulukumba merupakan alur pelabuhan penghubung antara Bulukumba dengan ibukota Benteng, Kabupaten Selayar melalui jalur laut.

“Pada masa itu, sejumlah armada kapal kayu route pelabuhan Benteng-Bulukumba, hilir mudik melayari kedua jalur laut dimaksud, diantaranya, KM. Marga Wijaya, KM. Abadi Jaya, KM. Nurlina, dan KM. Kakabia. KM. Kakabia merupakan salah satu armada apal kayu tak bermesin berbentuk lambo yang hanya mengandalkan layar untuk bisa bersandar dan merapat di kedua pelabuhan tersebut,” terangnya.

Hal itulah yang menurutnya kemudian menjadi latar belakang dan alasan kuat untuk merekomendasikan area Pelabuhan Lappe’e dan Labuang Korong, sebagai salah satu lokasi pengembangan kawasan destinasi pariwisata di Kabupaten Bulukumba.

“Sebuah catatan sejarah dan nilai historis yang lambat laun dikhawatirkan akan mulai terhapus dari memory ingatan masyarakat, serta generasi anak cucu Kabupaten Bulukumba,” tegasnya.

Selain pantai Labuang Korong dan Lappe’e Ia juga menaruh harapan besar terhadap upaya pengelolaan kawasan jembatan Lembang sebagai salah satu titik lokasi pengembangan destinasi pariwisata berbasis tanaman mangrove.

Ia berharap agar tanaman mangrove yang terletak di muara jembatan Lembang dapat dijaga, dilestarikan, dan dikelola secara proporsional oleh jajaran pemerintah desa dan atau kelurahan sebagai salah satu sumber PAD. (4f4d)