TORAJA UTARA—Kawasan Toraja di Sulawesi Selatan masih menyimpan peluang besar untuk terus berkembang sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan Indonesia. Di tengah persaingan industri pariwisata global, kolaborasi lintas sektor dan inovasi dalam pengemasan paket wisata dinilai menjadi kunci untuk menjaga daya tarik daerah ini di mata wisatawan.
General Manager DRIJ Toraja Hotel & Convention Centre, Roslin Pongsitanan, menilai pengembangan pariwisata tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan sinergi berbagai pihak melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, akademisi, serta media.
Menurutnya, kerja sama juga perlu diperkuat dengan berbagai organisasi pariwisata seperti Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA). Selain itu, peran pemandu wisata dan komunitas lokal juga dinilai sangat penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pariwisata di Toraja.

“Pengembangan pariwisata perlu dilakukan secara bersama-sama agar potensi yang dimiliki Toraja dapat dipromosikan secara lebih luas dan berkelanjutan,” ujar Roslin, Kamis (12/3/2026).
Di sisi lain, ia melihat tantangan terbesar pariwisata Toraja saat ini adalah bagaimana menghadirkan pengalaman wisata yang tidak monoton. Karena itu, diperlukan upaya untuk menentukan destinasi unggulan yang benar-benar potensial dan layak dikembangkan sebagai daya tarik utama.
Roslin menilai tidak semua destinasi harus dipromosikan secara bersamaan. Pemerintah daerah bersama pelaku industri pariwisata perlu melakukan kajian serta monitoring terhadap destinasi yang memiliki potensi kuat untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
Promosi pariwisata juga dinilai perlu dilakukan lebih terarah melalui berbagai kegiatan seperti pameran dan event promosi. Dalam kegiatan tersebut, bukan hanya produk kerajinan daerah yang diperkenalkan, tetapi juga paket wisata lengkap serta informasi layanan horeka—hotel, restoran, dan kafe—yang dapat menjadi pilihan bagi wisatawan.
Dalam konteks promosi destinasi, Roslin menilai penggunaan nama Toraja secara umum lebih efektif dibandingkan menyebutkan wilayah administratif secara terpisah. Selama ini kawasan tersebut terbagi dalam dua daerah, yakni Tana Toraja dan Toraja Utara.
Namun bagi wisatawan, nama Toraja telah lama dikenal sebagai satu kesatuan kawasan wisata budaya yang utuh.
“Dengan menggunakan nama Toraja dalam promosi, potensi wisata dari kedua wilayah dapat dipromosikan secara bersama sehingga memberi gambaran yang lebih menyeluruh bagi wisatawan,” jelasnya.
Di tengah kondisi ekonomi global yang turut memengaruhi sektor pariwisata, pelaku usaha wisata juga terus melakukan pembenahan untuk menjaga kualitas pelayanan kepada wisatawan. Salah satu aspek yang menjadi perhatian utama adalah kebersihan destinasi serta standar pelayanan.
Menurut Roslin, wisatawan mancanegara sangat memperhatikan kondisi kebersihan di destinasi wisata maupun fasilitas pendukungnya.
“Kebersihan merupakan faktor penting dalam industri pariwisata. Wisatawan asing sangat menyukai destinasi yang bersih dan tertata,” katanya.
Selain itu, ia juga mendukung pengembangan layanan wisata yang ramah bagi berbagai kalangan, termasuk wisatawan muslim. Konsep wisata halal, menurutnya, lebih dimaknai sebagai penyediaan fasilitas yang membuat wisatawan muslim merasa nyaman, seperti ketersediaan tempat ibadah dan pilihan kuliner yang sesuai.
Dari sisi pola kunjungan wisatawan, Roslin memperkirakan periode April hingga pertengahan tahun akan didominasi wisatawan domestik karena bertepatan dengan masa liburan sekolah.
Sementara pada periode Agustus hingga Desember biasanya lebih banyak wisatawan mancanegara yang datang untuk menikmati kekayaan budaya dan alam Toraja.
Untuk memberikan pengalaman perjalanan yang lebih efektif, paket wisata terintegrasi juga dinilai penting. Salah satu rute perjalanan yang cukup diminati wisatawan adalah perjalanan dari Makassar menuju Toraja, kemudian melanjutkan kunjungan ke sejumlah destinasi lain di Sulawesi sebelum kembali ke Makassar sebagai titik keberangkatan menuju daerah atau negara asal wisatawan.
Dengan kolaborasi berbagai pihak serta inovasi dalam pengemasan paket wisata, para pelaku industri berharap kawasan Toraja dapat terus berkembang sebagai destinasi wisata budaya yang menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. (4nny)













