OPINI—Masa depan generasi emas Indonesia ditentukan oleh bagaimana anak-anak diasuh hari ini. Kesadaran akan pentingnya pengasuhan dalam membentuk karakter dan kualitas anak mendorong Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengambil langkah untuk memastikan anak tumbuh dalam lingkungan yang menghormati hak-haknya.
Pengasuhan tidak hanya soal pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga mencakup perlindungan hak anak, pemahaman perkembangan psikologis, serta penciptaan ruang aman bagi tumbuh kembang mereka. Inilah yang menjadi dasar penyelenggaraan Workshop Peningkatan Kapasitas Pengasuhan Berbasis Hak Anak bagi Organisasi Perempuan Tahun 2025 di Hotel Claro Makassar.
Kegiatan hasil kolaborasi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Dharma Wanita Persatuan Sulsel ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan 26 tahun Dharma Wanita Persatuan. Workshop dirancang untuk membekali peserta dengan pemahaman mengenai pengasuhan yang mengedepankan keamanan, kesetaraan, dan kepentingan terbaik bagi anak.
Materi yang disampaikan mencakup pendekatan psikologi perkembangan anak, pengelolaan emosi, serta penguatan prinsip-prinsip hak anak. Peserta yang terdiri atas pengurus DWP dan perwakilan organisasi perempuan di Sulawesi Selatan diharapkan mampu menerapkan pola asuh ramah anak dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun organisasi.
Upaya ini sejalan dengan agenda Indonesia Emas 2045 yang menempatkan kualitas sumber daya manusia sebagai kunci utama. Namun, persoalan generasi sejatinya tidak sesederhana peningkatan kapasitas pengasuhan di tingkat individu atau keluarga.
Masalah generasi bersifat kompleks dan sistemik. Dalam sistem sosial-ekonomi yang berlaku saat ini, tanggung jawab pembentukan generasi berkualitas lebih banyak dibebankan kepada keluarga, sementara peran negara kerap terbatas. Pendidikan, kesehatan, dan layanan pengasuhan berkualitas menjadi komoditas yang tidak selalu terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.
Sistem kapitalisme juga membentuk orientasi hidup yang menilai kesuksesan dari pencapaian materi. Kondisi ini memengaruhi lingkungan tumbuh kembang anak dan menggerus nilai-nilai spiritual serta moral. Di sisi lain, orang tua dituntut bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan dasar, sehingga waktu dan energi untuk pengasuhan menjadi terbatas.
Mewujudkan generasi berkualitas membutuhkan perubahan yang lebih mendasar. Negara semestinya menjamin pendidikan, kesehatan, dan lingkungan sosial yang kondusif sebagai hak dasar anak, bukan sekadar mengandalkan pelatihan atau workshop yang bersifat parsial.
Dalam perspektif Islam, pembinaan generasi bertumpu pada akidah sebagai fondasi utama. Islam menempatkan tanggung jawab pendidikan anak sebagai amanah besar yang tidak hanya dipikul keluarga, tetapi juga negara. Negara berperan sebagai pengurus rakyat yang menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar, pendidikan, dan perlindungan moral bagi generasi.
Sistem Islam memandang pembinaan generasi sebagai tanggung jawab kolektif yang didukung kebijakan ekonomi, sosial, dan pendidikan yang adil. Dengan lingkungan yang sehat, nilai yang jelas, serta peran negara yang nyata, generasi dapat tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak, cerdas, dan tangguh.
Generasi emas sejati tidak lahir dari pendekatan parsial, melainkan dari sistem yang menyeluruh dan berpihak pada kepentingan terbaik anak. Tanpa itu, cita-cita mencetak generasi unggul akan terus menjadi wacana, bukan kenyataan. (*)
Penulis:
Risnawati Ridwan
(Aktivis Muslimah)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

















