OPINI—Presiden Prabowo Subianto menyampaikan gagasan yang menuai sorotan publik usai melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 28 Mei 2025.
Prabowo menegaskan bahwa ketika israel mengakui Palestina maka Indonesia akan mengakui eksistensi dan hak Israel sebagai negara yang berdaulat serta membuka hubungan diplomatik dengannya. (cnn, 30/05/2025).
Hal ini semakin dikuatkan oleh respon Ketua PBNU KH Yahya Cholil Staquf bahwa pernyataan Presiden adalah bentuk konsistensi kebijakan politik luar negeri Indonesia dalam mendukung bangsa bangsa di dunia untuk meraih kemerdekaan (Detik.com, 31/05/2025).
Sementara itu, PBB telah menjadwalkan konferensi tingkat tinggi terkait solusi dua negara yang akan diselenggarakan pada 17–20 Juni 2025 di New York. Konferensi ini diketuai oleh Prancis dan Arab Saudi. Keduanya menekankan perlunya konferensi bulan Juni untuk menegaskan perdamaian konkret Palestina dan Israel.
Sejak 7 oktober 2023 kebiadaban zionis Israel telah mengakibatkan puluhan ribu orang syahid dan ratusan ribu terluka. Sekolah, Rumah Sakit dan bangunan lainnya telah diluluh lantakkan. Bantuan kemanusiaan kerap kali diblokade hingga bertahan hidup menjadi sesuatu yang mahal bagi masyarakat Palestina.
Dengan segala kekejaman yang dilakukan oleh Israel, lalu muncul dua pernyataan yang saling beririsan dan bertujuan serupa. Maka pertanyaannya bagaimana mungkin penjajah yang telah melakukan pembantaian dan merampas hak hidup masyarakat Palestina diakui keberadaannya bahkan akan menjalin hubungan diplomasi dengannya? Kemana hilangnya nalar dan nurani para pemimpin?
Solusi Dua Negara Mustahil Memerdekakan Palestina
Permasalahan yang terjadi di Palestina ibarat roda yang terus berputar. Pembantaian terus dirasakan oleh warga Palestina, sementara para penguasa Muslim hanya mampu beretorika. Apakah kerja sama berbagai rupa itu lebih berharga dibanding nyawa ribuan manusia? Padahal, jangankan ribuan, Allah menegaskan bahwa hilangnya nyawa seorang muslim tanpa alasan yang haq lebih besar perkaranya dibanding hilangnya dunia.
Retorika para pemimpin di dunia hanya berputar pada solusi dua negara. Dinilai sebagai satu satunya solusi damai yang bisa ditempuh. Faktanya, apa yang terjadi di Palestina bukanlah konflik, ataupun perang, melainkan genosida.
Solusi dua negara sejatinya digagas oleh PBB, lembaga internasional yang kini menjadi tempat berbagai harapan berlabuh kepadanya. Namun mirisnya PBB juga hanya mewadahi retorika para pemimpin. Perlu diketahui bahwa mustahil berharap kepada PBB sebab ia merupakan lembaga internasional yang didirikan oleh Amerika Serikat. Selama ini Zionis Israel mendapatkan amunisi persenjataan dari Amerika. Israel sejatinya dilahirkan oleh Amerika dan Inggris dengan PBB sebagai bidannya.
Sejak dulu Yahudi selalu terusir, ditolak dimana mana sebab perilakunya yang buruk. Hingga akhirnya Theodor Herzl seorang Yahudi bermimpi memiliki negara bagi bangsa yahudi.
Setelah Perang Dunia I berakhir dengan Inggris sebagai pemenang, Bangsawan Yahudi Lord Rothschild menghubungi pemerintahan Inggris dengan tujuan meminta tanah untuk bangsa Yahudi.
Alhasil Perdana Luar Negeri Inggris Arthur James Balfour mendeklarasikan rumah nasional di tanah Palestina bagi Israel. “ A land without a people for people without a land ” adalah slogan yang seringkali digunakan untuk memvalidasi ide zionisme. Bahwa bangsa Yahudi tak bernegeri, dan Palestina tak berpenduduk. Realitanya, Palestina dihuni oleh 700 ribu penduduk saat Inggris mencaploknya.
Setelah Inggris, tampillah Amerika sebagai pemimpin dunia setelah memenangkan Perang dunia kedua. Liga Bangsa Bangsa (LBB) yang dibentuk Inggris berganti menjadi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Melalui agenda UN Partition, PBB memutuskan untuk mengesahkan negara Israel di atas tanah Palestina. Warga Palestina akhirnya terusir dari rumah rumah mereka, mereka disiksa, dibantai habis habisan. Bak pencuri yang masuk ke dalam rumah seseorang, polisi meminta si pencuri hidup berdampingan dengan pemilik rumah sebagai solusi damai.
Bagaimana mungkin membiarkan pencuri mengakses kepemilikan pemilik rumah bahkan bertindak semena mena. Sekali lagi kemana hilangnya nalar dan nurani? Maka jelas, solusi dua negara mustahil mampu memberikan Kemerdekaan bagi Palestina, sebaliknya akan melanggengkan eksistensi Israel dan para sekutunya dalam meraih kepentingannya.
Palestina Merdeka dalam Naungan Islam
Ketika Teodor Herzl mendatangi Khalifah Abdul Hamid II dengan tujuan meminta tanah Palestina Ia memberikan berbagai macam tawaran, mulai dari membayarkan hutang khilafah ustmaniyah, memberikan pinjaman, hingga mendirikan universitas.
Namun atas dasar keimanannya yang kokoh Khalifah Abdul Hamid sama sekali tak gentar dan tak terbuai dengan itu semua. Sebaliknya ia menolak mentah mentah dengan pernyataannya yang melegenda “Aku tidak akan menjual tanah Palestina, karena tanah itu bukan milikku, tetapi milik umat Islam. Umat Islam telah berjuang dan menumpahkan darah mereka untuk mempertahankan tanah itu. Biarlah mereka menyimpannya. Jika kekhalifahan dihancurkan suatu hari nanti, maka kalian bisa mengambilnya tanpa membayar. Namun, selama aku masih hidup, aku lebih memilih menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat tanah Palestina dipisahkan dari Kekhilafahan Islam ”
Sangat jauh berbeda dengan penguasa muslim saat ini. Dengan mudahnya menggadaikan iman demi kepuasan dunia semata.
Perjalanan panjang sejarah Palestina dari masa Nabi Adam hingga Nabi Muhammad saw. Bahkan sampai pada kekhilafahan turki utsmani mestilah menjadi cerminan perjuangan membebaskan Palestina. Ada pola yang senantiasa berulang. Ketika kaum muslimin bersatu maka ia mampu membebaskan Palestina, namun sebaliknya ketika terpecah maka Palestina jatuh ke tangan penjajah.
Persatuan itu dibingkai oleh naungan daulah Islam. Kemerdekaan Palestina hanya bisa diraih dengan jihad di bawah komando khilafah Islamiyah. Maka perlu upaya sungguh sungguh menegakkan khilafah dengan menempuh jalan yang sesuai dengan metode dakwah Rasulullah saw. Wallahu a’lam. (*)
Penulis: Nurhidayah Gani
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.
















