Advertisement - Scroll ke atas
Maros

Mengenal Lebih Dekat Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh di Gunung Bulusaraung

770
×

Mengenal Lebih Dekat Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh di Gunung Bulusaraung

Sebarkan artikel ini
Mengenal Lebih Dekat Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh di Gunung Bulusaraung
Tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026) menyisakan duka mendalam sekaligus perhatian publik terhadap profil pesawat dan misi penerbangan yang dijalankannya. Pesawat tersebut diketahui merupakan pesawat charter non-komersial yang tengah menjalankan tugas khusus saat kecelakaan terjadi.

MAROS—Tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026) menyisakan duka mendalam sekaligus perhatian publik terhadap profil pesawat dan misi penerbangan yang dijalankannya. Pesawat tersebut diketahui merupakan pesawat charter non-komersial yang tengah menjalankan tugas khusus saat kecelakaan terjadi.

Pesawat dilaporkan hilang kontak sekitar pukul 13.17 WITA ketika dalam fase pendekatan menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, setelah lepas landas dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta. Beberapa jam kemudian, puing-puing pesawat ditemukan di lereng Gunung Bulusaraung, wilayah dengan topografi ekstrem dan cuaca yang cepat berubah.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Pesawat ATR 42-500 tersebut dioperasikan oleh PT Indonesia Air Transport (IAT), perusahaan penerbangan charter nasional yang telah beroperasi sejak 1968. IAT dikenal melayani penerbangan khusus untuk kebutuhan pemerintah, industri energi, pertambangan, hingga misi surveilans dan pengawasan wilayah.

Dalam struktur kepemilikan sebagaimana dikutip dari detikfinance , Indonesia Air Transport berada di bawah naungan PT MNC Energy Investment Tbk, bagian dari Grup MNC. Armada IAT terdiri dari pesawat fixed-wing dan helikopter yang digunakan untuk penerbangan non-reguler dengan tingkat fleksibilitas tinggi.

Pesawat yang jatuh memiliki registrasi PK-THT dengan nomor seri pabrik (MSN) 611. Pesawat ini diproduksi pada tahun 2000, sehingga berusia sekitar 25 tahun saat insiden terjadi. Sebelum beroperasi di Indonesia, pesawat tersebut sempat digunakan oleh operator luar negeri sebelum bergabung dalam armada Indonesia Air Transport.

Meski tergolong berusia matang, ATR 42-500 masih banyak digunakan di berbagai negara karena ketangguhannya di rute pendek dan medan menantang, selama perawatan dan inspeksi dilakukan sesuai standar keselamatan penerbangan.

Berbeda dari penerbangan komersial reguler, pesawat ATR 42-500 ini tengah menjalankan misi khusus pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan. Di dalam pesawat terdapat tiga petugas dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yakni Analis Kapal Pengawas Ferry Irawan, Pengelola Barang Milik Negara Deden Mulyana dan Operator Foto Udara Yoga Naufal, yang akan melaksanakan tugas pemantauan wilayah perairan Indonesia.

Pesawat bertolak dari Yogyakarta menuju Makassar, yang menjadi titik transit sebelum melanjutkan misi pengawasan udara di wilayah timur Indonesia. Total penumpang dan awak yang berada di dalam pesawat berjumlah 10 orang, terdiri dari kru penerbang dan penumpang misi.

ATR 42-500 merupakan pesawat turboprop bermesin ganda buatan ATR (Avions de Transport Régional), perusahaan patungan antara Airbus (Prancis) dan Leonardo (Italia). Pesawat ini dirancang untuk penerbangan jarak pendek hingga menengah, terutama di wilayah dengan bandara terbatas.

Pesawat ini memiliki kapasitas sekitar 42 hingga 46 penumpang, kecepatan jelajah sekitar 550 kilometer per jam, serta kemampuan lepas landas dan mendarat di landasan relatif pendek. Karakteristik tersebut membuat ATR 42-500 banyak digunakan untuk penerbangan perintis, charter, dan misi khusus.

Tim SAR gabungan menemukan serpihan badan dan ekor pesawat di area hutan pegunungan Bulusaraung. Medan yang terjal, kabut tebal, serta cuaca yang tidak bersahabat menjadi tantangan utama dalam proses pencarian dan evakuasi.

Berdasarkan temuan awal, pesawat diduga menabrak lereng gunung saat masih dalam kondisi terkendali, atau dikenal sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT). Namun demikian, penyebab pasti kecelakaan masih menunggu hasil investigasi resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Hingga Minggu (18/1/2026), tim SAR telah menemukan satu korban laki-laki meninggal dunia, sementara korban lainnya masih dalam proses pencarian. Pemerintah menyatakan operasi SAR akan terus dilanjutkan dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia.

Tragedi ini kembali menegaskan tantangan penerbangan di wilayah dengan kontur geografis ekstrem seperti Sulawesi Selatan, sekaligus pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap aspek keselamatan, navigasi, dan mitigasi risiko dalam penerbangan misi khusus. (Ag4ys)

error: Content is protected !!