MAKASSAR—Para mubaligh dan mubalighah dari Khatamun Nabiyyin diterjunkan ke berbagai daerah di Indonesia untuk menjalankan misi dakwah dan pengabdian kepada masyarakat selama dua bulan, mulai 19 Februari hingga 19 April 2026.
Program dakwah ini berada di bawah koordinasi Supu Fadlun sebagai penanggung jawab kegiatan. Para mubaligh dan mubalighah diharapkan tidak hanya menyampaikan ceramah keagamaan, tetapi juga berkontribusi dalam bidang pendidikan, pembinaan generasi muda, serta kegiatan sosial keagamaan di tengah masyarakat.
Sejumlah wilayah menjadi lokasi penugasan para dai tersebut, di antaranya Yogyakarta, Tosora, Majene, Sidrap, Palu, Gowa, dan Jakarta. Setiap daerah memiliki karakter masyarakat yang berbeda sehingga pendekatan dakwah yang dilakukan juga disesuaikan dengan kondisi sosial setempat.
Di Kota Palu, para mubalighah menjalankan berbagai kegiatan dakwah yang berfokus pada pembinaan generasi muda melalui jalur pendidikan. Salah satunya dengan mengisi program pesantren kilat atau sanlat di MI Al-Khairat selama tiga hari.
Dalam kegiatan tersebut, para mubalighah memberikan pembelajaran tahsin Al-Qur’an dan tahmil Al-Qur’an kepada siswa kelas 4, 5, dan 6. Para peserta tidak hanya belajar memperbaiki bacaan Al-Qur’an, tetapi juga memahami makna yang terkandung di dalamnya.
Salah seorang peserta sanlat mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut karena materi yang diberikan mudah dipahami. “Kami sangat senang karena tidak hanya belajar membaca Al-Qur’an dengan benar, tetapi juga diberi motivasi agar lebih mencintai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya, Sabtu (14/3/2026).
Selain di MI Al-Khairat, para mubalighah juga terlibat dalam kegiatan sanlat di SASKAL Al-Hasyimi. Mereka mengisi kultum setelah salat subuh berjamaah yang kemudian dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an bersama para peserta.
Tidak hanya di lingkungan pendidikan dasar, para mubalighah juga berkontribusi dalam pendidikan formal dengan mengajar di SMA Al-Azhar Mandiri Palu. Di sekolah tersebut, mereka mengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Sosiologi.
Dalam proses pembelajaran, para mubalighah tidak hanya menyampaikan materi akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai akhlak dan keteladanan Rasulullah SAW agar siswa memahami pentingnya ilmu pengetahuan yang sejalan dengan pembentukan karakter.
Di sisi lain, para mubalighah juga membuka ruang diskusi bersama kalangan mahasiswa dan organisasi kepemudaan. Diskusi tersebut melibatkan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) serta mahasiswa jurusan Ekonomi Syariah untuk bertukar gagasan terkait isu keagamaan, sosial, dan keumatan.
Berbagai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah atau khutbah, tetapi juga melalui pendidikan, pembinaan generasi muda, dialog, serta keterlibatan langsung dalam kehidupan masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, para mubaligh dan mubalighah berharap nilai-nilai Islam yang membawa kedamaian, kasih sayang, dan kebijaksanaan dapat semakin luas dirasakan oleh masyarakat di berbagai daerah. (Cr/Ag4ys)
Citizen Reporter: Muh Aras Prabowo
Artikel ini ditulis oleh Citizen Reporter. Isi dan gaya penulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi hanya melakukan penyuntingan seperlunya tanpa mengubah substansi.












