Meski ternyata apa yang ingin disampaikan Fahmi, tidak terkait dengan agenda paripurna yang membahas pencalonan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, namun Lucius menyatakan, interupsi tersebut harus didengar terlebih dahulu. Sebab, anggota DPR mempunyai hak untuk bersuara di dalam sidang.
Sikap mengabaikan interupsi, sambung Lucius, menunjukan bahwa Puan menganggap jabatan Ketua DPR, bukan sekadar memimpin sidang atau juru bicara lembaga, tetapi sebagai kekuasaan. (Tribunnews.com, 25/05/2022)
Aksi Ketua DPR RI tersebut jelas mengundang kontroversi, apalagi hal itu bukan kali pertama dilakukan. Bagaimana tidak, Politisi PDIP itu lagi-lagi mematikan mikrofon dalam sidang paripurna. Perbuatan itu jelas nampak kurang etis dilakukan, sebab anggota DPR tersebut masih sementara berbicara. Apakah karena oposisi tak boleh interupsi?
Hal itu pun seakan menampakkan kepada publik bagaimana dirinya. Jadi sebenarnya saat ini tidak sedikit dari pejabat publik yang menampakkan sendiri watak buruknya, walau tanpa dicari-cari sisi buruknya oleh masyarakat.
Selain itu, masyarakat pun akhirnya mengetahui bagaimana perilaku pejabat atau wakil rakyat mereka yang sesungguhnya. Karenanya jangan salahkan rakyat jika kepercayaan mereka kepada pejabat publik saat ini makin menurun. Sebab, para pejabat sendiri yang menjadi penyebab turunnya kepercayaan rakyat kepada mereka.
Karenanya ada anggapan, jika anggota DPR dalam rapat paripurna saja bisa diabaikan apa yang disampaikannya, lalu bagaimana dengan rakyat biasa yang hendak menyampaikan aspirasinya yang mana mereka tak memiliki jabatan dan wewenang?
Padahal selaku pejabat publik atau wakil rakyat, seyogianya mereka siap menerima saran dan kritik dari berbagai kalangan, tak terkecuali rakyat biasa. Apalagi jika hal tersebut sifatnya positif dan dapat membangun ke arah yang lebih baik.
Sebagaimana kisah tentang Amirul Mukminin Umar bin Khattab ketika menghadapi kritik rakyat sebagaimana dimuat dalam kitab Fiqhul Islamy Wa Adillatuhu karya Prof. Wahbah Zuhaily. Beliau dikritik oleh seorang pemuda, “Seorang laki-laki berkata pada Umar ra.: “Bertakwalah! Wahai Umar. “Lalu pemuda lain menyahut: “Layakkah ungkapan itu ditujukan pada seorang Amirul Mukminin (Pemerintah)?












